Sudah satu jam lebih Emma berdiri di depan gerbang sambil menyaksikan satu persatu siswa lain meninggalkan sekolah. Ia menekuk-nekuk lututnya yang mulai pegal. Lengannya sesekali memeluk tubuhnya. Udara agak dingin dan angin bertiup kencang. Ia sampai lupa membawa baju hangat saking cepatnya bersiap ke sekolah tadi pagi.
15 menit setelahnya, ia mengecek ponsel lagi. Belum ada balasan dari sopirnya. Bahkan kakak-kakaknya pun tidak meneleponnya. Ia mencoba menghubungi Francesca sekali lagi, tapi tidak diangkat. Agatha, satpam rumah, Albert, tidak ada yang mengangkat telepon. Alex sedang malas sekolah. Dia kekeh tidak mau pergi karena semalaman begadang bermain game.
Suka-suka dia saja, lah. Emma sedikit sebal dengan kembarannya itu. Kalau saja Alex ada di sini dan tidak terlalu kecanduan main video game, pasti mereka sudah pulang. Emma menggenggam ponselnya dengan erat. Dia tidak membawa sepeda ataupun sepatu roda, Albert yang melarangnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada teman yang rumahnya sejalur dengannya. Lagipula, sudah tidak ada orang. Hanya beberapa kendaraan yang masih terlihat terparkir, itupun mobil siswa senior yang sedang latihan ujian akhir. Hingga tiba-tiba dada kirinya terasa sakit, menyebabkan ia masuk lagi ke dalam lingkungan sekolah dan duduk di dekat pohon.
Emma terus menelopon orang-orang di rumah. Lagi-lagi tak ada yang aktif.
EMMA
Alex
Aku sendirian
Ada yang bisa menjemput?
📞 Didn't connect 📵
📞 Didn't connect 📵
📞 Didn't connect 📵
Masa aku harus jalan? Gak mungkin banget...
Kalau sudah begini, hatinya menggerutu ingin sehat seperti yang lainnya. Pergerakannya sudah terbatas dengan posisinya sebagai adik perempuan bungsu, ditambah lagi kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja. Bahkan sejak kecil, dia memang tidak pernah baik-baik saja.
Bunyi gemuruh petir terdengar dari kejauhan. Emma mendongak menatap langit yang ternyata mulai agak mendung. Emma menatap gedung sekolahnya yang megah dan besar. Tidak terdengar dan terlihat aktivitas apapun. Emma menunduk menatap pergelangan tangannya yang penuh bekas infusan. Merah dan tidak mulus. Ia mengusap bagian pergelangan dengan lembut. Berulang kali ia berharap untuk sembuh dan bisa mengalami bagaimana rasanya normal seperti gadis yang lainnya; tanpa anxiety disorder, tanpa penyakit jantung, tanpa kelainan di rahimnya.
Emma tidak bisa memprotes bagaimana Tuhan memberi takdirnya seperti ini. Dia selalu meyakinkan diri sendiri bahwa hidupnya sudah sangat sangat sangat beruntung dengan segala kecukupan finansial dan bakat yang dia punya. Banyak temannya yang mengaku kagum atau iri. Itu artinya dia adalah orang yang unik di mata orang lain. Namun, ia juga sering bertanya-tanya, dengan segala kekurangannya, apakah ia masih bisa istimewa di mata keluarganya? Di mata Miller? Ah, meski Alex sudah pasti mengganggapnya spesial bagi hidupnya, namun sejauh ini belum ada yang pernah berkata bahwa dia istimewa dalam hidup orang lain; dibutuhkan, diinginkan, diapresiasi, dianggap sepenuhnya secara mental dan fisik, dan..... dimengerti. Dia kosong di beberapa bagian.
Satu-satunya orang yang menerima segala kekurangannya adalah.... Tom. Hanya dia. Sejauh ini. Menerima sifatnya, keadaan fisik dan psikis, dan memahami latar kehidupannya. Dan Tom bisa berdamai dengan masalah yang Emma hadapi.
Jujur saja... Ia sudah kelelahan karena takut dan cemas akan segalanya. Sejak dulu dia tak henti mencari rumah. Untuk pulang. Pulang yang sebenar-benarnya. Bukan rumah seperti keluarga Andersonnya yang mewah tetapi kasih sayang di dalamnya minim diperlihatkan. Bangunannya besar, tapi kepeduliannya kecil. Tiang-tiangnya tinggi, tapi waktu kebersamaannya begitu pendek.
KAMU SEDANG MEMBACA
MR. ART HIMSELF [COMPLETED]
RomanceWake Me Up When I Sleep 3 is a continuation of the previous Effingham thing. The trilogy is still very much related and there are no separate stories. There will be more POV of Mr. Taylor who's in dilemma about his feelings for Emma. He's not only h...
![MR. ART HIMSELF [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/306505776-64-k485745.jpg)