33 - I Miss You

5.6K 618 91
                                    

LISA POV

Aku sudah satu jam duduk disini, ditemani Eomma. Iya, hanya Eomma. Setelah Jennie masuk ke kamarnya dia tidak kembali lagi. Dia marah, aku pun tidak tahu karena apa. Karena Eomma yang terus memarahinya atau karena ada aku disini.

Kupikir hubunganku akan bisa membaik dengan Jennie, tidak apa-apa walau kami kembali menjadi sahabat baik lagi selamanya seperti dulu. Aku tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya Jennie sudah tidak ingin membuka hatinya lagi untukku, walau hanya untuk sebagai sahabatnya lagi. Dia sudah menutup rapat pintunya. Dan tidak ada ruang lagi untukku disana, di hatinya, sebagai apapun.

Nyatanya dia malah membawa orang baru itu kesini. Membuatku semakin yakin bahwa kesempatan itu tidak akan pernah ada untukku. Belum lagi melihat mereka duduk bersebelahan, dimana harusnya aku yang duduk di sebelah Jennie, mengantar jemputnya, membantunya melakukan semua hal yang harusnya menjadi kewajibanku.

Bodohnya aku malah terus mendekat pada hal yang menyakiti. Aku mungkin setelah ini benar-benar harus menjauh dari Jennie. Keluar dari semua rasa sakitnya. Tidak perlu mencoba-coba lagi hal yang aku sendiri sudah tahu jawabannya apa. Aku yakin bisa melewati ini semua.

Apa aku terlihat sangat menyedihkan sekarang?

Aku tertawa untuk diriku sendiri. Berjuang dan memberikan seluruh cintaku untuk seseorang yang bahkan tidak melihatku sama sekali. Mencoba memberikan yang terbaik, namun berakhir sia-sia. Aku berharap dia bahagia bersama seseorang yang dia pilih sekarang. Meski orang itu bukan aku, tapi aku turut bahagia.

Walau hatiku berbanding terbalik.

"Eomma, sepertinya aku akan pulang sekarang." pamitku pada Eomma. Suaraku bersamaan dengan suara petir yang menggema. Sampai Eomma harus memejamkan matanya karena suara menakutkan itu.

Kami berjalan menuju pintu dan Eomma dengan ragu membukakan pintu untukku. Namun sayangnya begitu aku akan menghampiri motorku tiba-tiba saja hujan mengguyur. Begitu deras.

Sama dengan derasnya air mata di hatiku.

Eomma dengan tegas menutup lagi pintu itu. Dia menatapku penuh harap sambil berkata, "Diluar hujan, Lisa. Kau menginap saja disini ya?"

Aku tersenyum pada Eomma, "Tidak, Eomma. Aku harus pulang. Lagipula aku punya jas hujan di motorku."

"Kau bisa saja sakit jika memaksakan pulang ditengah derasnya hujan. Sepertinya hujan ini tidak akan berakhir dengan cepat. Lihatlah? Kau mau jika kau sakit dan Mommymu melarangmu untuk kembali lagi kesini?" rayu Eomma padaku.

aku menertawakannya, "Eommaku sayang, tidak perlu berlebihan. Ini hanya hujan, bukan badai, okay?" jelasku masih sambil terkekeh.

"Eomma mohon, Lisa. Hanya malam ini saja." Eomma sampai menautkan jari-jari kedua lengannya dan dia letakan di depan dadanya.

Aku tersenyum dan baru akan menjawab sampai suara seseorang menginterupsi kami, "Biarkan dia pulang, Eomma. Biarkan si keras kepala ini untuk pergi dari rumah kita. Jika dia sakit, maka dia akan dilarang kembali kesini oleh orangtuanya. Bagus bukan?"

Aku melirik Jennie yang kini berada beberapa langkah dariku dan Eomma. Kata-katanya cukup menyayat hatiku. Dia akan marah besar jika aku memaksa pulang di tengah hujan, tapi kali ini dia malah mengusirku.

"Jennie! Siapa yang mengajari mulutmu menjadi tidak sopan!!" bentak Eomma.

Aku tidak ingin mereka semakin bertengkar. Maka dengan berat hati aku lebih baik tinggal disini untuk satu malam.

BEST FRIEND - JENLISATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang