LISA POV
Sudah beberapa kali aku mendengus kesal sambil menyandarkan kepalaku pada kursi di koridor ini. Sekarang aku sedang menunggu Jennie. Kami akan pergi ke mall. Lebih tepatnya aku akan menemani dia untuk berbelanja keperluan skin carenya.
Aku tidak keberatan, yang jadi masalah adalah aku dilarang olehnya menunggu di dalam lapangan basketnya. Dia bilang Luda masih mengincarku jadi dia tidak mau memberikan kesempatan pada wanita itu. Seharusnya dia tidak perlu khawatir tentang itu. Hatiku sudah terisi penuh olehnya. Tidak ada tempat lagi untuk Luda, Nayeon atau siapapun.
Harusnya latihan boxingku juga sudah di mulai dari dua bulan lalu, tapi aku kesulitan untuk membagi waktuku antara boxing, dance dan Jennie. Jadi aku lebih memprioritaskan Jennie dan latihan danceku dulu. Semua temanku di tempat latihan menyayangkan hal ini. Aku memberi pengertian pada mereka bahwa aku akan kembali sesekali nanti ke tempat latihan tapi tidak akan rutin seperti dulu.
Dan sekarang aku seperti orang kesepian disini. Duduk sendiri hanya di temani ponselku. Aku sempat mengirimkan pesan pada Chaeyoung untuk menemaniku disini tapi dia bilang ada tugas dadakan dari dosennya yang harus membuat mereka mengerjakannya berkelompok. Sayangnya Jisoo Unnie juga bagian dari kelompok Chaeyoung, jadi dia juga tidak bisa menemaniku disini.
Aku mengirim pesan pada Jennie, siapa tahu dia sempat membacanya dan tidak akan berlama-lama di dalam, karena sejujurnya aku sudah sangat bosan disini.
My Jennie🖤
Baby, aku masih harus menunggu berapa lama lagi? Disini sangat bosan. Bolehkan aku masuk? Setidaknya jika di dalam aku bisa memandangi wajahmu yang cantik 🥰Aku terkekeh sendiri membaca pesanku lagi. Setelah kubaca ulang betapa itu sangat menggelikan. Tapi memang benar, Jennie-ku cantik. Tidak akan ada yang bisa menyaingi kecantikannya, titik.
Aku masih tersenyum sebelum suara batuk palsu mengganggu pemikiran indahku tentang Jennie.
Aku menoleh dan sudah berdiri seseorang yang akhir-akhir ini tidak pernah menampakan lagi wujudnya di depan Jennie.
"Mau apa kau kemari?" tanyaku sinis.
Dia tertawa miris, "Ini tempat umum, tidak ada larangan untuk siapapun."
Aku berdiri dari dudukku dan menghadap orang ini. Keuntunganku memiliki tubuh yang tinggi sehingga dalam momen seperti ini aku bisa membuat seseorang terintimidasi di depanku.
"Kau bebas kemanapun kakimu membawamu. Tapi aku tidak mengizinkan langkahmu mendekati Jennie." ucapku sambil menggertakkan gigiku.
Sekali lagi dia tertawa, "Kau siapanya, huh? Kau hanya pacarnya, bukan orang tuanya!"
Aku tersenyum miring, "Justru karena aku pacarnya, aku melarangnya untuk berdekatan dengan orang sepertimu."
"Jangan merasa kau memiliki dia sepenuhnya. Dia berhak berteman dengan siapapun." ucapnya santai.
Ingin sekali kutinju wajah menyebalkan itu. Tapi aku tidak akan membuat keributan disini, terlebih Jennie ada di dalam. Dia tidak akan suka aku menyakiti atau melukai orang lain.
Kenapa aku begitu tidak suka dengan wanita urakan ini? Karena Jennie sudah menceritakan semuanya padaku. Termasuk saat dia mencoba merebut posisiku. Berani sekali dia mengambil kesempatan saat aku dan Jennie memiliki masalah waktu itu. Semenjak Jennie menceritakan itu, aku sama sekali tidak mengizinkannya lagi masuk ke dalam hidup Jennie, bahkan sebagai teman sekalipun. Dia bisa saja seperti ular, mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Aku duduk kembali di kursiku, mengabaikan dia yang masih berdiri seolah menantangku. Aku mengecek ponselku karena dia mendapatkan satu buah pesan yang kuharap dari Jennie-ku. Dan benar saja, pesan itu dari Jennie. Aku tersenyum dan segera membukanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
BEST FRIEND - JENLISA
Romance"cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan" Jenlisa Story GXG ID 🏆🥇 #jenlisa rank #1 on May 26, 2022 until May 30, 2022 | June 5, 2022 until June 6, 2022 🏆🥉#gxg rank #3 on Sept 13, 2022