"Di stasiun pemberhentian, aku melihat orang itu?" Anna berterus terang.
"Tuan Hasyim?" Panca memastikan.
"Ya."
"Kau yakin, Nona?" Pratiwi tidak ingin Anna salah melihat.
"Ya, aku yakin. Karena kami saling tatap." Anna mengingat kembali kejadian di stasiun pemberhentian ketika bertemu seseorang yang sedang menjadi bahan pembicaraan.
"Dia hanya memastikan kedatangan kita ke tempat ini." Anna mempunyai sebuah perkiraan. "Apalagi kita adalah rombongan terakhir."
Bajra hanya ingin memastikan, "apakah Tuan Eijkman juga tahu?"
"Ya, ayahku sudah tahu akan hal itu."
Bagi keempat remaja itu, pembicaraan ini penting. Mereka belum menjadi orang dewasa yang penuh pengalaman. Namun, kecerdasan unik dari setiap diri membuat mereka menjadi sekelompok remaja penuh gairah. Otak mereka berpikir, jiwa pun meronta untuk melakukan sesuatu. Terkadang, bahaya membawa manusia pada petualangan.
Kini, semuanya saling tatap.
"Apakah dia akan menjalankan rencananya di tempat ini?" Panca ingin mengarahkan pikiran kawan-kawannya.
"Belum tentu. Di sini pengawalan sangat ketat. Dari lubang pintu, lubang jendela bahkan lubang angin pun dijaga oleh setidaknya seorang centeng," Bajra mulai melaporkan apa yang dia lihat.
"Bukankah dia orang yang pandai berkelahi?" Pratiwi ingat akan peristiwa yang diceritakan oleh Anna perihal kelihaian berkelahi seseorang yang menyatroni rumah perkebunan.
"Bukan begitu, ketika terjadi keributan ... maka akan mengundang perhatian. Dan, itu bukan hal yang dia inginkan," Anna menyimpulkan. "Jika dia mau, sejak dalam perjalanan dia bisa melakukan aksinya. Tapi, itu urung dilakukan. Dia ingin semuanya bersih. Tidak ada yang bisa menjadi tertuduh ... siapa orang yang menyuruh melakukan pembunuhan."
"Ya, bagi pembunuh bayaran, kerahasiaan majikannya itu yang terpenting." Panca mengemukakan pendapatnya sesuai dengan pengalaman hidup yang dialami. Anak itu sering tertarik dengan perkara kriminal setelah mendengar begitu banyak kejahatan terjadi di Batavia. Kini, kejahatan itu bisa saja terjadi di rumah perkebunan keluarga Edward.
Di sisi lain, Pratiwi tertarik untuk mempertanyakan pendapat dari Panca, "Lalu, kenapa ketika di gerbong kereta dia terang-terangan?"
"Itu bisa dianggap sebuah kegagalan. Mungkin dia tidak menyangka jika sudah ada yang mencium gelagatnya sebelum dia beraksi."
Pratiwi mengerti arah pembicaraan teman-temannya.
"Selanjutnya, tidak ada yang bisa kita lakukan. Selain berhati-hati." Anna menatap temannya satu per satu.
"Ya. Kita harus bersama ke mana-mana." Darah Pratiwi berdesir, ada sesuatu yang tak biasa di tempat ini. "Jangan sampai terpisah."
Empat remaja dan seekor anjing berkumpul tidak akan mengundang keanehan bagi para centeng yang kebetulan hilir mudik. Mereka berempat hanya saling sapa apabila tak sengaja beradu pandang.
Mereka berlima duduk di bawah pohon cemara di belakang bangunan utama. Di sana, tidak ada lagi bangunan kecuali tiga paviliun yang sengaja dibangun terpisah. Kemudian ada bangunan kecil berfungsi sebagai gudang.
Kandang ternak, gudang hasil bumi, dan perumahan pegawai jauh dari sana. Sekitar seratus meter ke bawah bukit. Lebih tepatnya dekat dengan jalan raya. Sedangkan rumah Nyonya Edward terletak di atas bukit tepat di tengah hamparan kebun teh.
"Tempat ini jauh dari mana-mana. Cocok untuk melakukan aksi kejahatan," Bajra menyampaikan isi pikirannya.
"Jika aku pembunuh itu, maka aku akan melakukan itu di sini. Kalian paham maksudku, kan?"
"Ya," Anna dan Pratiwi setuju.
"Sulit untuk mencari pertolongan."
Panca menambahkan omongan Bajra, "semua tamu yang pernah ke sini paham akan situasinya. Maka dari itu mereka membawa banyak pengawal."
Anna menghela nafas sambil mengerlingkan mata. Dia memberi kode kepada teman-temannya karena ada yang datang. Seorang jongos membawa obor yang belum dinyalakan ke arah pohon cemara.
"Paman, benda itu hendak dibawa ke mana?"
"Mau dipasang di sini. Karena kalau malam, di sini gelap."
Panca memberi kode kepada teman-temannya untuk menjauh dari seorang jongos yang sedang memasang obor. Anna mengerti kenapa demikian. Pratiwi masih kebingungan. Sedangkan perhatian Bajra masih mengajak bermain Si Bruno.
Anna berjalan ke arah jalan setapak yang terbentuk di antara pohon teh. Gadis itu seakan tidak pernah melihat pohon teh. Dia tampak senang.
"Nona, kau senang sekali. Seperti ...," Pratiwi berkomentar.
"Sssssttt, mereka mulai memperhatikan kita. Kita pura-pura jalan-jalan ke kebun teh," Anna memberi kode.
Mereka berlima menjauh dari para centeng yang menjaga kediaman Nyonya Edward. Bermaksud membicarakan hal penting yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun yang ada di sana.
Mungkin para pengawal itu menyangka jika mereka hanyalah sekumpulan anak remaja yang hanya ingin pelesiran. Ikut serta Tuan Eijkman dalam urusan bisnis kemudian pulang begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Hal yang lumrah jika seorang anak ikut serta ayahnya melakukan perjalanan. Dan, si anak mengajak teman-temannya untuk sekedar mengusir kebosanan.
"Baiklah, Nona. Nanti, ketika para tamu sedang makan malam, apa yang harus kami lakukan?" Panca memulai wacana.
"Tentu saja, aku harus ikut serta makan malam. Tidak bisa menghindar, nanti dianggap tidak sopan."
"Jika begitu, kau mengikuti jamuan makan malam. Maka, kami bertiga harus berkeliling ke setiap sudut bangunan."
Semua menganggukkan kepala.
"Nona, apakah kau sudah tahu denah ruangan di bangunan utama kediaman Nyonya Edward?" Bajra mengingatkan.
"Tidak, namun aku hanya tahu sebagian."
"Apa saja?"
"Hanya sebagian ruang tamu. Kemudian ada ruang tengah yang dipersiapkan untuk acara pertemuan nanti."
"Ada kamar-kamar yang mengapit ruangan tengah. Kamar itu besar kemungkinan milik Nyonya Edward dan anak-anaknya," Anna memberi perkiraan.
Mereka berempat membayangkan bagaimana keadaan rumah Nyonya Edward. Ketika membayangkannya, mereka berharap bisa menemukan titik terang. Siapa orang yang telah mengirim seorang pembunuh bayaran ke rumah Tuan Hofland dan mengakhiri hidup Tuan Edward di gerbong kereta api?
"Nona, ketika jamuan makan malam nanti, harus kau pastikan jika mereka yang hadir bersedia membicarakan kejadian di gerbong kereta itu."
"Kenapa demikian?" tanya Anna.
"Kau bisa melihat mereka satu per satu, siapa yang paling merasa bersalah."
Panca dan Pratiwi setuju atas usulan Bajra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembunuh Bayaran
Action"Paman, sedang apa Paman Aditama di sini?" Anna menyaksikan seseorang yang dikenalnya sedang melangkah ke arah gerbong selanjutnya. Di belakangnya, ada seorang laki-laki berjubah sedang memegang pisau. Tangan laki-laki itu penuh dengan darah. Begitu...
