Tuan Eijkman kembali mengambil senapan. Padahal, baru saja digantungkan di dinding.
"Ada apa lagi, Ayah?"
"Ada yang mencurigakan. Dia berlari ke arah hutan."
"Aku ikut," Anna bergegas.
"Jangan, kau di sini saja."
Anna tidak berusaha membantah perintah. Dia hanya berdiri di dekat jendela menyaksikan Tuan Eijkman dan beberapa orang centeng berlarian. Mereka menenteng senapan menuju halaman belakang. Kemudian menghilang dari pandangan setelah melewati deretan kandang ternak.
Cukup lama gadis itu berdiri di dekat jendela. Pandangannya lurus ke depan. Dari kejauhan, tampak deretan pepohonan dengan dahan-dahan yang sudah dipangkas. Karena pohon itu berhasrat untuk terus hidup, puncaknya malah terus tumbuh tinggi. Di bawah deretan pohon itu tampak atap-atap rumah penduduk yang berjejer. Berbahan ijuk pohon enau, warna hitamnya begitu kontras dengan warna hijau dedaunan di sekitarnya.
"Ahhhh," Anna membuang nafas. Mencoba melepaskan kepenatan.
"Kenapa Nona, kau lelah?"
Anna kaget ketika ada orang yang bertanya demikian. Dia bukan kaget oleh pertanyaannya. Tapi, dia kaget ketika ada benda yang mengenai kulit lehernya. Benda itu terasa dingin.
"Jangan bergerak," suara orang itu memberi perintah, "kau mundur tiga langkah. Dan, jangan berteriak. Atau, kutembak."
"Siapa kau?" Anna benar-benar tidak bisa melihat wajah orang itu. Dia tidak berani menoleh.
"Ayo, mundur."
Anna pun mundur tiga langkah. Gadis itu semakin kaget ketika bisa melihat wajah orang yang menyergapnya. Wujud orang itu terlihat dari pantulan cermin besar di dinding.
"Ternyata kau. Bagaimana bisa kau ada di sini?"
"Kau tidak perlu tahu, Nona."
Seorang laki-laki. Wajahnya tidak dikenal. Namun, sepertinya orang itu mengenal Anna. Berpakaian serba hitam. Berikat kepala layaknya para centeng yang bekerja di perkebunan.
"Katakan, apa maumu? Apakah kau diutus Tuan Hasyim?"
"Sederhana saja, Nona. Aku hanya menginginkan ... kau membuka brangkas."
"Untuk apa? Kau menginginkan surat-surat berharga milik ayahku?"
"Bagus kalau kau tahu."
"Tidak ada di sini. Semuanya tersimpan di bank."
"Kalau begitu, bisakah kau menyerahkan kunci brangkas itu?"
Anna menghela nafas. Dia berpikir keras.
"Ternyata, kalian memancing ayahku untuk keluar?"
Orang itu tidak menjawab.
Sudut mata Anna memperhatikan pantulan di cermin. Ada sesuatu yang kurang ketika pantulan itu menggambarkan suasana dinding ruang tengah. Ternyata dia ceroboh.
Anna memejamkan mata. Dia mengumpulkan tenaga untuk melakukan perlawanan.
"Jangan coba-coba melawan. Aku bisa membunuhmu."
"Tapi aku ingin ...."
Tangan kiri Anna meraih ujung senapan. Kemudian merebutnya dari orang itu. Anna mengayunkan senapan ke kepala sosok di hadapannya.
Dug, popor senapan mengenai kepala. Orang itu terhuyung.
"Senapan ini kosong, Tuan."
Anna memiliki waktu untuk meminta tolong. Dia berlari ke arah jendela yang terbuka. Namun, itu tidak berhasil.
Tangan laki-laki itu memegang kaki Anna. Tentu saja Anna terjatuh.
"Tolong!" Anna berteriak meskipun tubuhnya sudah terjatuh.
"Ah, kau mau ke mana?"
Dalam waktu singkat, bantuan datang. Dua orang centeng masuk ke dalam ruang tengah.
Namun, malang nasib kedua petugas keamanan itu. Sebilah pisau kecil lebih dahulu menancap di dada.
"Ah!"
Mereka berdua terjatuh lemah. Darah mengucur dari dada. Meringis kesakitan.
"Lepaskan! Lepaskan kakiku!" Anna masih meronta-ronta. Tapi, itu percuma.
Dengan cekatan, pria berbaju serba hitam itu kembali mencabut sebilah pisau dari dalam baju. Tangan kanannya menggoreskan bilah pisau pada pergelangan kaki Anna.
"Ahhh!"
Luka menganga di kulit putih gadis itu. Gaun yang semula putih berubah menjadi merah karena darah. Lantai pun basah akibat darah yang berceceran.
"Kau tidak bisa ke mana-mana, Nona."
Anna tidak bisa menahan sakit yang semakin menjadi-jadi. Dia harus memilih, melawan atau pergi.
"Kau tidak mudah untuk berlari, Nona. Makanya, ikuti saja kemauanku."
Anna menatap tajam orang di hadapannya. Kini dia bisa berdiri, meskipun belum sanggup berdiri tegak. Sepertinya rasa pusing masih menghampiri. Darah yang mengucur di dahi diseka dengan tangan kiri.
"Ternyata, tujuan akhir kalian tetap uang."
"Ya, tentu saja. Apalagi?"
"Aku tidak akan menyerahkan apa yang kau inginkan."
"Kenapa? Kau rela mati demi harta yang kau miliki?"
Anna terdiam.
"Nona, aku tidak akan membunuhmu begitu saja. Aku tetap ingin surat-surat perusahaan milik Tuan Eijkman, itu saja. Kalau kau memberikannya, aku akan membebaskanmu."
"Oh, jadi ... sekarang kau menyanderaku?"
Anna duduk bersandar di dekat meja. Laki-laki itu mendekati Anna. Kemudian mendekati dua centeng yang terbaring lemah. Pisau yang menancap di dada mereka dicabut. Dan, pisau itu dijadikan alat untuk menghabisi nyawa keduanya.
Anna tidak sanggup melihat adegan itu. Dia lebih suka memalingkan wajah dan menutup mata.
"Tuan, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?"
"Oh, tentu saja. Pertanyaan apa itu?"
Anna menghela nafas sambil terus meringis, "apakah kalian ... murni seorang pemburu harta ... atau ... terkait dengan kegiatan politik?"
"Nona, pertanyaanmu aneh."
"Tidak aneh, Tuan. Karena kalian bekerja cukup cerdik. Datang dari jauh. Bekerja menggunakan strategi."
"Tentu saja, karena kami memang dilahirkan demikian."
"Bukan, alasannya bukan begitu. Pasti pemimpin kalian adalah orang cerdas dan dekat dengan kekuasaan."
"Kau bicara apa, Nona?"
"Kalian hanya bidak catur yang digerakkan dari jauh. Bahkan dari balik penjara. Tapi, kalian juga harus ingat. Ayahku seorang tentara, dia biasa berperang ...."
"Tentara bodoh. Terlalu mudah dikelabui."
Anna tidak suka dengan penilaian orang itu pada ayahnya, "ah, bukankah kalian yang mudah dikelabui ...."
Laki-laki itu terdiam.
"Menjauh dari putriku ... atau ... kutembak kepalamu ...!" suara Tuan Eijkman terdengar dari arah jendela. Laki-laki itu ternyata sudah kembali.
"Silakan, aku juga bisa ... melemparkan pisau ini ke dada gadis ini ...."
Sebilah pisau ditimang-timang tangan laki-laki itu. Pisau dengan pegangan dibuat lebih berat sehingga mudah untuk dilemparkan.
"Tuan Eijkman, permintaan saya mudah saja. Penuhi janjimu ... atau anak ini mati ...."
"Janji apa?" Anna terheran-heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Pembunuh Bayaran
Action"Paman, sedang apa Paman Aditama di sini?" Anna menyaksikan seseorang yang dikenalnya sedang melangkah ke arah gerbong selanjutnya. Di belakangnya, ada seorang laki-laki berjubah sedang memegang pisau. Tangan laki-laki itu penuh dengan darah. Begitu...
