JALANAN tetap mulus beraspal selama sisa perjalanan, meskipun ada beberapa retakan dan lubang, tapi berhasil dilewati tanpa guncangan yang begitu besar. Genap dua jam kami berkendara. Hampir seratus kilometer jauhnya dari cincin luar kota.
Paman Carlo memberhentikan mobil di sisi sebuah tebing curam. "Ini titik terjauh yang bisa kita tempuh."
Ayah mengembuskan napas berat. "Waktumu hanya lima belas menit, Nona Muda. Tunjukkan kemampuanmu."
Aku mengangguk. Aku akan melakukannya sebisaku. Sekuat kemampuan yang aku miliki. Semoga keahlianku ini bisa berguna dan bisa membantu pekerjaan Ayah-dan mungkin saja, aku bisa diterima menjadi anggota pemburu iblis malam tanpa masuk akademi-karena itu sangat berat, aku pikir aku tidak akan sanggup, itu sebabnya aku tidak pernah ikut seleksi. Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya, setelah itu, barulah aku mulai memejamkan mata. Melihat semuanya melalui penglihatan jarak jauh.
"Semuanya dalam posisi siaga," lanjut Ayah.
"Siap!" jawab pemburu iblis malam, seraya mengangkat dan memposisikan senapannya dengan siaga.
Penglihatanku menunjukkan luasnya hutan pinus yang lebat dengan kontur perbukitan selama beberapa kilometer. Daun mereka saling bergesekan. Kabut menghiasi beberapa tempat. Reruntuhan sebuah desa dan kota, terlihat menyeramkan karena dipenuhi lumut dan tumbuhan liar. Aku melihat sesuatu yang bergerak di dalam hutan. Ketika aku menajamkan penglihatanku, aku sedikit terkejut. Itu iblis malam. Aku tidak merasakan keberadaan mereka lagi. Terhitung ada empat, mereka masuk ke...
"Ayah," kataku, masih memejamkan mata.
"Ada apa?" tanya Ayah. Aku merasakan jika Nathan juga ikut mendekatiku.
"Apa Ayah membawa alat tulis?"
"Untuk apa?" tanya Ayah.
"Aku menemukan ada sarang iblis malam yang lain."
Ayah langsung berteriak, "Ada yang membawa alat tulis?!"
"Tidak, Pak," jawab para prajurit, silih berganti. "Untuk apa, Pak?"
"Dia berhasil menemukan sarang iblis malam," jawab Nathan.
"Coba kau periksa, apa ada pemburu iblis malam yang menghilang di sana?" tanya Ayah.
Kugelengkan kepalaku dengan pelan. "Di sana hanya ada iblis malam. Jumlahnya mungkin tidak sebanyak sarang tadi yang berhasil dihancurkan, tapi..." Aku menelan ludah. "...jika mereka terus datang dan masuk ke gua itu, bukan tidak mungkin jumlah mereka akan bisa menyaingi banyaknya iblis malam di gua tadi."
"Apa kau juga tidak merasakan keberadaan mereka seperti tadi?" tanya Nathan.
Aku mengangguk sekilas untuk mengiyakannya. "Aku juga menemukan sarang yang lain. Yang sangat besar. Tiga kali lebih besar dan banyak dari sarang yang tadi dihancurkan oleh penjaga cincin."
"Di mana?"
"Sekitar seratus enam puluh kilometer ke arah barat laut. Tepat di pinggir pantai. Ribuan iblis malam yang tadi mengejar kita juga masuk ke lubang itu."
"Kau sudah melebihi cakupan penglihatanmu!" Bentak Nathan, dengan suara kerasnya. Sepertinya dia marah.
"Berapa jarak maksimal penglihatannya sekarang?" tanya Ayah, pada Nathan. Ayah memang tidak mengetahui berapa jarak penglihatanku sekarang. Dulu Ayah hanya tahu aku bisa menggunakan penglihatanku satu sampai dua kilometer saja. Setelah itu dia tidak pernah ingin tahu lagi tentang kemampuanku.
Sebelum Nathan menjawab, aku buru-buru berkata, "Aku masih bisa."
Hanya Nathan saja yang tahu kemampuanku sejauh apa. Dia yang paling sering memaksaku untuk mengujinya, dan dia juga orang yang paling semangat ketika aku melatih kemampuan ini agar lebih tajam. Tidak mungkin aku bisa melihat penglihatan sejauh ini jika karena bukan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Berawan #1
Vampire[VAMPIR] [Tamat] [13+] "Aku mencintai salah satu jenis dari mereka yang disebut vampir. Makhluk rupawan yang memiliki bentuk tubuh seperti malaikat untuk menarik mangsanya. Aku mencintai seseorang yang seharusnya tidak aku cintai. Karena harga yang...
