AKU kembali menarik penglihatanku dengan kecepatan tinggi. Kepalaku mulai terasa pusing. Aku bisa merasakannya meskipun mataku masih terpejam. Lalu aku membuka mata dengan perlahan. Warna cokelat gelap dari meja makan terlihat buram. Pandanganku terasa berputar-putar, aku mendongak menatap Nathan yang sepertinya berjalan mengitari meja dan berdiri di samping kananku. Rasanya seperti baru turun dari komedi putar dengar kecepatan maksimal, bedanya, hanya otakmu saja yang merasakan sensasi itu.
"Nathalia? Kau baik-baik saja?" Suara Nathan terdengar lamban dan terdistorsi. Aku seperti seseorang yang baru saja menenggak habis dua liter miras.
Nathan semakin mendekat, sepertinya aku limbung, atau entahlah. Yang aku rasakan hanya pandanganku berputar-putar dan pendengaranku sedikit terganggu. Rasanya aneh, aku seolah-olah lupa caranya merasakan dan menggerakkan tubuhku.
"Nathalia, tarik napas," ujar Nathan, suaranya masih sama, terdengar lamban dan terdistorsi. "Buat napasmu lebih teratur."
"Nathan, apa yang terjadi?!" Terdengar suara kepanikan lain. Sama seperti Nathan, suara Bibi terdengar lamban dan terdistorsi. Aku belum pernah mabuk, tapi mungkin beginilah rasanya.
Meskipun pandanganku terasa berputar-putar dan terkesan tidak jelas, tapi aku bisa menangkap jika Bibi menyimpan sebuah nampan di atas meja, lalu mendekatiku di sisi yang lain. "Nathalia?" tanya Bibi. "Kau kenapa, Sayang?"
"Nathalia, tutup matamu. Mungkin itu bisa membantu meredakannya rasa pusingnya," ujar Nathan.
Di tengah-tengah ketidakmampuanku menggerakkan tubuh, aku mencoba melakukan hal yang dia katakan.
"Apa yang kau lakukan padanya, Nathan?" tuduh Bibi. "Matanya berputar-putar aneh sekali. Bibi khawatir ada sesuatu yang salah sedang terjadi di dalam kepalanya. Apa Bibi harus menelepon dokter dari Organisasi Pemburu Iblis Malam?"
"Tidak!" Tukas Nathan, tiba-tiba setelah telinganya mendengar kata "dokter" dilontarkan Bibi. Lalu Nathan terdengar ragu. "Hhmmm ... mungkin jangan dulu. Kita tunggu saja sampai beberapa menit. Mungkin dia hanya kelelahan."
"Itu hanya asumsimu saja, bagaimana jika terjadi sesuatu yang lebih serius? Cedera otak? Geger otak? Penyakit mental? Atau yang lainnya? Kau kan bukan dokter," balas Bibi.
"Percayalah, Bibi. Biarkan saja dulu selama lima menit. Baru setelah itu, jika dia tetap seperti ini ..." Nathan menelan ludahnya, aku baru melihatnya terlihat gugup. "Barulah kita mulai menghubungi dokter."
Bibi mengusap rambutku. "Nathalia, kau kenapa, Sayang? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Kau memakan apa tadi saat makan malam di rumah temanmu? Setan mana pula yang menyerangmu? Apa Bibi harus membaca kalimat pengusir setan berbahasa Latin?" Sepertinya pertanyaan terakhir Bibi tujukan untuk Nathan, karena aku mendengar decakkan kesal khas Nathan.
Perlahan tapi pasti, aku mulai bisa mengatur napas dengan teratur, aku bisa merasakan udara yang keluar masuk melalui hidung dan paru-paru. Rasa pusing yang aku rasakan mulai terasa memudar, seolah gasingnya melambat. Begitu juga dengan pendengaranku. Aku bisa mendengar suara Nathan dan Bibi dengan jelas, tidak lagi terdengar aneh atau terdistorsi.
"Napasnya sudah lebih teratur. Mungkin dia sudah membaik," kata Nathan, tidak begitu yakin.
"Semoga saja kau benar. Karena jika satu menit lagi Nathalia belum membuka matanya, Bibi akan menelepon dokter." Aku bisa merasakan Bibi membuat ancang-ancang untuk pergi menerkam gagang telepon.
Nathan kembali berdecak kesal. "Aku kan sudah bilang, dia sudah lebih baik."
"Iya, kau memang mengatakannya, tapi kau tetap bukan dokter."
Aku mendengar geraman kecil dari Nathan. Kemudian aku merasakan dia mendekat. "Nathalia? Katakan kau sudah merasa baik-baik saja? Beritahu Bibi kau baik-baik saja dan tidak memerlukan dokter?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Berawan #1
Vampir[VAMPIR] [Tamat] [13+] "Aku mencintai salah satu jenis dari mereka yang disebut vampir. Makhluk rupawan yang memiliki bentuk tubuh seperti malaikat untuk menarik mangsanya. Aku mencintai seseorang yang seharusnya tidak aku cintai. Karena harga yang...
