INGIN rasanya mengganti topik pembicaraan. Ema memang sahabatku. Tapi aku merasa aneh jika membicarakan Gio dengannya. Maksudku, Ema terus menerus memuji Gio. Seolah Gio adalah laki-laki yang ada dalam impiannya, bukan impianku. Atau... sebenarnya dia hanya ingin meyakinkanku untuk menikah saja ketimbang masuk perguruan tinggi atau bekerja.
"Aku belum mendapatkan kabar darinya." Dan aku memperhatikan ekspresi wajahnya ketika aku mengatakan itu.
Tapi dia tida terlihat seperti yang aku kira. Dia malah mengernyit sambil bertanya, "Sudah berapa lama?"
"Empat hari."
"Baru juga empat hari," katanya. "Mungkin karena keadaan di kota Tria sedang tidak kondusif selama dua hari yang lalu. Aku membaca beberapa laporan jika iblis malam sering datang ke delapan penjuru gerbang secara bersamaan. Tapi aku dengar sudah tidak lagi. Mungkin dia akan menghubungimu malam ini atau besok."
Aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan tentang Gio. Jadi aku bertanya, "Kau sedang mencari apa?" Karena sejak tadi, ia hanya sibuk mencari file dan menyalinnya dalam satu berkas.
"Data berapa banyak, berapa kali, dan serangan-serangan seperti apa saja yang sering terjadi di kota Sexo," jelasnya, matanya kembali sibuk dengan layar komputer.
"Memangnya ada apa dengan kota Sexo?" tanyaku. Berusaha membaca data-data yang sudah dia kumpulkan.
"Ada serangan aneh," jawabnya. "Iblis malam menabrakkan diri mereka dengan kecepatan tinggi ke cincin terluar kota sebelah timur laut. Itu terus terjadi setiap malam selama dua Minggu terakhir. Itu agak aneh. Karena biasanya mereka tidak akan begitu saja menabrakkan diri mereka pada dinding."
"Seharusnya itu tidak jadi masalah, kan? Dinding itu memiliki ketebalan sekitar empat meter. Mereka tidak mungkin bisa menembusnya dengan mudah."
"Memang. Tapi jika terus menerus dan dengan intensitas yang cukup konsisten." Dia mengambil sesuatu dari dalam amplop cokelat, lalu menyerahkannya padaku. "Ini bisa terjadi."
Aku menatap sebuah foto yang sedang menunjukkan dinding beton setelah empat meter yang terbalut baja mengkilap mulai retak dan melesak beberapa sentimeter.
"Jika mereka terus melakukan ini, dan tidak ada rencana dari pihak kerajaan, kota Sexo, maupun Organisasi Pemburu Iblis Malam, kurang dari setahun dinding itu bisa diterobos," jelas Ema. Gadis berambut mohawk itu terlihat agak khawatir.
"Ini baru pertama kali terjadi, atau... sebelumnya pernah terjadi kasus seperti ini?" tanyaku.
"Ini baru yang pertama terjadi. Aku sudah mencari data sampai ke arsip tiga ratus tahun yang lalu, saat cincin baru dibangun, tapi tidak ada kasus semacam ini. Biasanya mereka memanjat. Menumpuk diri mereka sendiri untuk melewati cincin, ketimbang menabrakkan diri mereka sendiri ke dinding sampai hancur."
"Bukankah kita bisa menembaki mereka saja terus menerus?" tanyaku.
"Bisa saja. Tapi kau tahu, membuat senjata dan energi yang digunakannya membutuhkan biaya, kan? Jika terus seperti ini, anggaran untuk persediaan senjata yang diberikan kerajaan kepada kota Sexo bisa habis sebelum waktunya."
"Lalu, rencana apa yang akan mereka ambil?"
Ema menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Mungkin itu sebabnya Komandan Korri mengajak beberapa petinggi dan anggota yang masih ada untuk rapat besar-besaran."
"Kau tidak diajak?" tanyaku.
"Jika aku tidak melakukan pekerjaan ini." Sambil menatap layar komputer. "Siapa lagi yang akan melakukannya?"
Aku melupakan sesuatu yang sejak tadi tanganku pegang. "Oh, iya. Aku lupa. Aku membawakanmu makan siang." Sambil menyerahkan paper bag padanya.
"Oh, Nat. Mau terlalu baik," katanya. "Terima kasih. Nanti sepulang kerja, aku akan mentraktirmu, sebelum kau pergi ke kota Sexo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Berawan #1
Vampir[VAMPIR] [Tamat] [13+] "Aku mencintai salah satu jenis dari mereka yang disebut vampir. Makhluk rupawan yang memiliki bentuk tubuh seperti malaikat untuk menarik mangsanya. Aku mencintai seseorang yang seharusnya tidak aku cintai. Karena harga yang...
