-I-31

39 13 4
                                        

RAUT wajahnya menunjukkan keterkejutan. Aku pikir siapa pun akan terkejut jika tiba-tiba diajak makan malam oleh seseorang, dan aku langsung memalingkan pandangan. Rasanya aku ingin mengecil sekecil-kecilnya. Pertanyaan itu keluar begitu saja karena aku memikirkan isi dari buku yang Nathan berikan, yang katanya vampir tidak makan, jadi kupikir bagaimana jika aku mengetesnya. Buku terkutuk!

"Tentu," akhirnya Immanuel menjawab.

Wajahku terkejut bukan main. Itu bukan jawaban yang terpikir olehku. "Benarkah?"

Dia tertawa kecil. "Memangnya aneh, ya? Kau pikir aku akan menjawab apa?"

"Maksudku," kata-kataku berhenti. Aku jadi bingung, kenapa juga aku harus berkata benarkah? Dia jadi kebingungan. Aku terlalu ekspresif mengungkapkan apapun dengan mulutku. "Hhmm... aku hanya terkejut. Eh... ya, rasanya seperti kejutan. Kau mau makan malam denganku."

Immanuel tertawa ringan sebelum akhirnya menyadari sesuatu. "Tapi bukankah kau harus pulang dua jam sebelum matahari terbenam?"

Aku baru mengingatnya. "Oh, aku bisa izin kepada Bibi atau ayahku." Sebenarnya aku tidak tahu apakah bisa izin atau tidak. Apalagi, sepertinya aku masih dalam masa hukuman.

Immanuel mengangguk-angguk. "Baiklah, kalau kau sudah mendapatkan izin, beritahu aku. Aku akan selalu ada di sini. Kau yang memiliki restorannya atau aku?"

"Mungkin kita bisa memilihnya bersama," jawabku. Dia mengangguk dan membuat senyumannya semakin lebar. Kadang aku heran, sebenarnya dia bisa tersenyum selebar apa. Kata-katanya tadi mengingatkanku akan sesuatu. "Oh iya, kemarin kau ke mana? Aku tidak melihatmu belajar di perpustakaan."

"Oh, kemarin aku ada urusan di kampus. Lalu saudariku memintaku untuk mengantarnya ke pameran foto, di perbatasan kota," jelasnya.

Jika dia sedang mengelak, ekspresi wajahnya jauh dari kata itu. Dia terlihat dan terdengar natural. Sepertinya dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Tapi aku masih memikirkannya, apa dia memang melakukan itu, atau hanya alasan saja agar dia tidak bertemu cahaya matahari?

Kembali hening. Aku ingin membuka obrolan lagi. Namun pikiranku malah penuh oleh berbagai macam soal pemikiran tentang vampir. Ini gara-gara buku sialan itu, aku jadi memiliki pikiran yang aneh tentang Immanuel. Aku harap pikiranku segera melupakan isi buku terkutuk itu.

"Kau mau aku foto?" tanyaku. Itu pertanyaan bodoh, tapi aku ingin menguji sesuatu. Aku pernah mendengar jika vampir tidak bisa bercermin, dan kamera tidak bisa menangkap gambarnya. Maksudku, itu hanya mitos dan belum pernah terbukti, kepercayaan beberapa orang di beberapa novel dan film. Bahkan iblis malam, yang disebut vampir saja masih memiliki bayangan di cermin, dan ditangkap oleh kamera.

"Oh, tentu. Foto aku." Sambil tersenyum manis. Senyuman yang menghangatkan seperti biasanya. Dia langsung mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arahku.

Jika mataku lupa berkedip, sepertinya aku tidak akan membidikkan kamera ke arahnya dan menghitung mundur. Aku akan sibuk menikmati debaran membahagiakan yang terjadi. Jepretan pertama berhasil, kamera mulai mengeluarkan hasilnya. Aku mengambil kertas foto itu dan menunggu gambarnya muncul.

"Sekarang giliranmu," tukasnya. "Sini, biar kufotokan." Dia meminta kameranya.

Aku menyerahkannya. Jari kami kembali bersentuhan untuk kesekian kalinya. Bukan hanya rasa dingin yang aku rasakan, tapi juga getaran aneh kembali terjadi. Apa setiap vampir memancarkan getaran aneh ketika bersentuhan dengan seseorang? Atau ini hanya terjadi padaku? Maksudku, bukan hanya karena dia vampir, tapi aku pernah membaca soal getaran aneh ketika kau bersentuhan dengan seseorang yang kau suka.

Berawan #1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang