-I-18

58 15 12
                                        

DUA hari sudah aku hanya menghabiskan waktu dengan berbaring di atas kasur. Ayah pun baru menanyakan apa yang aku lihat terkahir kali sebelum tidak sadarkan diri, dan aku kembali menjelaskan apa yang aku lihat. Sama seperti ketika aku menjelaskannya kepada Nathan, dan memang sudah pasti Nathan yang melaporkan itu kepada Ayah. Ternyata seseorang yang aku lihat itu memang benar Aron Black. Itu petunjuk baru, kata Ayah. Katanya ia tidak akan menyisir hutan lagi, tapi akan langsung mengirimi pasukannya ke reruntuhan kota pulau tersebut-jika waktunya memungkinkan. Aku sedikit merasa senang. Namun itu artinya mereka akan melewati beberapa sarang iblis malam, yang membuatku merasa khawatir.

"Tenang saja. Mereka akan dipersenjatai senjata yang mendukung," hibur Ayah, sambil tersenyum.

Aku tahu aku tidak menceritakan semuanya. Terutama tentang cowok malaikat yang aku lihat, lagi pula sepertinya itu tidak terlalu penting. Aku bertanya-tanya apa yang sedang ia lakukan di luar cincin dengan jarak sejauh itu. Atau itu hanya sebuah khayalan, karena aku terlalu banyak berpikir tentangnya? Tapi itu terasa nyata, seperti semua yang aku lihat sebelumnya. Lagi pula Ayah tidak membutuhkan informasi tentang cowok malaikat itu, maksudku... namanya El-entah hanya El atau ada tambahan lainnya.

Alex tidak datang ke kamarku untuk menengok ketika ia diberi jatah pulang. Kata Ayah dia sangat sibuk, dan hanya menggunakan waktu pulangnya untuk beristirahat. Namun, ia memberiku stoples manisan salju khas kota Sexo, dengan kartu ucapan semoga cepat sembuh di atasnya.

Manisan ini biasanya diberikan kepada orang yang sangat dicintai, karena terbuat dari bunga yang bisa dimakan. Bentuknya saja masih bunga utuh, yang seolah dipenuhi oleh salju. Aku tidak berpikir Alex menyukaiku, mungkin dia hanya memberikan manisan salju ini sebagai tanda kalau dia peduli padaku. Atau, terserahlah. Mungkin balas Budi karena aku selalu membelikannya roti lapis?

Hari pertama setelah aku sembuh, aku tidak menghabiskan waktuku di atas kasur dengan wajah bosan Nathan. Aku mulai beraktivitas seperti biasa. Bibi mulai sedikit-sedikit menyuruhku mengerjakan sesuatu. Tidak seperti sebelumnya, tapi masih tetap membawa unsur pernikahan di dalamnya. "Seorang istri dan seorang ibu tidak akan kuat jika berdiam diri saja ketika sedang tidak enak badan. Sakit kepala dan nyeri otot bukan halangan bagi mereka untuk tidak bersih-bersih dan menyiapkan makanan. Kehidupan di rumah tidak berhenti dan akan tetap berjalan meskipun sedang sakit."

Sambil mengelap kaca jendela bagian dalam, aku menarik napas dalam dan mengembuskannya. "Maksud Bibi, seorang istri dan seorang ibu tidak boleh istirahat, meskipun sedang sakit?"

"Bukan begitu, tapi, ya... mereka tetap mengerjakan pekerjaan rumah meskipun sedang sakit," jelas Bibi. "Ada waktu istirahat, tapi tidak sampai mengganggu pekerjaan mereka. Lagi pula, mereka biasanya akan merasa lebih baik karena tubuh mereka tetap bergerak. Kau tahu, imunitas seorang ibu tidak bisa diremehkan."

Jujur, aku belum pernah mendengar ungkapan itu dari seorang dokter. Yang aku tahu, ketika sakit, dokter akan menyarankan pasiennya untuk beristirahat cukup, makan-makanan yang bergizi seimbang dan cukup-karena kebutuhan nutrisi orang sakit biasanya dua kali lipat dari orang sehat, dan jika sakit masih berlanjut setelah lebih dari dua tiga hari, segeralah hubungi pusat kesehatan terdekat. Aku sama sekali tidak menemukan tetap kerjakan pekerjaan rumah di dalamnya. Mungkin Bibi hanya mengarang itu.

Setelah selesai mengerjakan rutinitas pagi yang selalu aku kerjakan di kala sehat maupun sakit itu-yang hanya tidak aku kerjakan di kala aku "benar-benar" sakit saja, Bibi kembali memperbolehkan aku ke luar rumah. Dengan syarat, Nathan harus ada di sisiku. Benar-benar di sisiku.

"Apa?" kata Nathan, ketika aku mendongak menatapnya, saat kami sedang berjalan menuju halte.

Aku langsung melirik tangannya yang sedang menggenggam tanganku. "Sungguh?"

Berawan #1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang