Episode 9

29 5 2
                                        

"Ini kenapa bisa ada di sini, sih?" tanya Ziva lalu membuka lembar pertama pada buku tersebut.

"Pfttth ... tulisannya jelek"

Ziva menahan tawanya lalu menutup buku tersebut, meletakkannya di atas bangku dan membiarkannya di atas sana. Ia menghangatkan tubuhnya sejenak sebelum tidur, lagipula masih banyak teman-temannya yang berkeliaran tidak jelas.

"Eh, Kak? Itu buku Kakak tadi jatuh," ucap Ziva kepada seseorang yang berdiri di sebelahnya.

"Iya tahu"

Ziva terdiam melihat sekitar, tiba-tiba ia merinding akibat hawa dingin di sekitarnya. Adriansyah tersenyum sekilas lalu mengambil bukunya yang berada di sebelah Ziva, ia ikut duduk di bangku menemani gadis itu.

"Menurut kamu, tulisan kakak jelek gak?"

"Banget," ucap Ziva dan dengan segera menutup mulutnya karena keceplosan.

Rian tertawa pelan, memerhatikan wajah gadis itu yang sudah merasa takut karena ucapannya yang tidak bisa di jaga. Jujur, ya sangat jujur tidak baik di saat seperti ini. Tapi memang itulah kenyataannya.

"Jujur banget"

"Eh maaf itu tadi anu-"

"Stt ... udah. Seenggaknya muka kakak gak jelek kayak tulisannya kan?"

Ziva membulatkan matanya heran. Pertanyaan macam apa yang dilontarkan kepadanya saat ini. Satu sikap terungkap bahwa Rian itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ia berdiri lantas berjalan menuju tendanya.

"PD banget," lirihnya.

Ia duduk di dalam tenda, menikmati camilan bersama teman-temannya yang lain. Sedangkan di luar sana Wahyu sedang sibuk karena kaos kakinya yang basah akibat tak sengaja tersiram air, bertengkar karena roti satu bungkus dan riuhnya mereka di dalam tenda karena sebuah permainan. Entahlah mereka sedang asik sendiri bermain ABC 5 dasar di dalam tenda.

"Nisa, bagi dong"

"Ih apaan aku cuma bawa sedikit"

"Sedikit dari mana? Itu setengah tas isinya jajanan semua loh. Inget gak boleh pelit"

"Iya deh iya"

Ziva, gadis itu mengambil sarung di dalam tasnya, menghangatkan dirinya dan berniat tidur sebelum para senior mengomel karena posisi tidur yang cukup berantakan sehingga tenda tidak cukup untuk ruang tidur.

Tak terasa waktu sudah pagi. Ziva mengucek matanya dan mendengar suara-suara bising yang mengganggu tidur di luar sana. Siapa lagi jika bukan ulah para senior yang sengaja membangunkan para juniornya untuk melaksanakan shalat Subuh. Ziva hendak keluar tapi ia lupa bahwa jilbab yang ia kenakan telah terlepas dan membuatnya harus bersiap-siap terlebih dahulu.

Udara pagi ini sangat segar, embun masih membasahi rerumputan yang ada di lapangan ini. Dan pohon cemara yang masih kecil itu dibasahi oleh gerimis semalam. Suasana di sekolah ini sejuk, memang sangat sejuk di pagi hari, tak heran jika sangat nyaman berkemah di sini.

"Wahyu! Kamu dipanggil dari tadi gak denger-denger. Tau tau udah di sini aja," omel Marsha dari arah ruang koperasi siswa.

"Lho? Aku? Aku gak kemana-mana. Dari tadi aku di sini jemur kaos kaki"

"Serius? Lah jadi yang di depan lab IPA tadi?"

"Stt udah gak usah dibahas hal begituan"

"Kak. Aku juga lihat cewek cantik di WC perempuan tadi pagi"

"Ih dibilangin udah jangan dibahas lagi, bisa?" tegur Dion.

"Oh, hantu ya?" tanya Ziva dengan suara cukup keras.

"Stt ... udah udah diem"

"Lah Ziva cuma nanya doang"

"Udah. Jangan dibahas hal begituan, masih pagi juga udah bahas begituan"

Para senior mulai memasak sedangkan juniornya sudah berpencar untuk melakukan berbagai aktivitas. Tak terkecuali Ziva yang harus menyusun peralatan masak di ruang ketrampilan. Ia berjalan perlahan menuju ruang ketrampilan yang terletak di sudut sekolah. Gelap, kurang pencahayaan dan ujung ruangan itu tertutup oleh pohon sirsak membuatnya semakin gelap saja.

"Duh ini gimana? Gelap banget di dalam"

"Duh gimana kalo hantu yang mereka temui tadi muncul? Ah kok takut jadinya"

Ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dan tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sorot lampu remang-remang. Ia menata barang-barang yang ia bawa dan mendengar rak piring bergerak entah karena apa. Sontak is terdiam dengan bulu kuduk yang sudah berdiri.

"Jangan nakutin aku ah. Aku gak ganggu. Bentar lagi aku pergi dari sini, janji"

Setelah menata semuanya ia berjalan keluar dari ruangan dan kembali ke rombongan. Benar-benar seram menurutnya, memang setiap sekolah memiliki cerita angker masing-masing termasuk sekolah yang ia injak saat ini. Tetapi, ia belum tahu hal-hal angker di sekolah ini meskipun pagi ini ada beberapa hal yang muncul.

Ziva duduk di bawah pohon sambil memperhatikan beberapa orang berlarian dari taman sekolah dan langsung memasuki tenda. Ketakutan, entah apa yang mereka lakukan barusan. Terlihat seorang pria berkumis yang hanya mengenakan kaos dalam dan celana dasar sedang berjalan menghampiri mereka. Tak lupa kapak yang berada di tangannya membuat semua orang yang ada di sana merasakan aura ngeri yang sesungguhnya.

"Maaf, Pak. Kenapa, ya?" tanya Kak Alvi heran.

Dengan muka yang sudah memerah bapak itu menjelaskan perbuatan beberapa orang tadi. Setelah selesai ia pergi menyiksa raut wajah Kak Alvi yang sudah tersulut emosi.

"Keluar, kalian keluar sekarang juga dari tenda"

Beberapa orang tersebut keluar dari tenda dan menghadap kepada Kak Alvi. Berkumpul di bawah pohon membentuk sebuah lingkaran kecil. Sebagian anggota yang tak tau apa-apa hanya bisa diam dan memerhatikan apa yang telah terjadi melalui perbincangan mereka.

"Siapa suruh kalian maling jambu? Gak ada yang pernah ngajarin, kan?"

"Dek. Kalian sudah mencemari nama baik gugus depan kalian sendiri pagi ini. Kelakuan kalian itu tidak mencerminkan anak SMP. Balik lagi aja ke SD sana"

"Gak heran kalo satu sekolah membenci ekskul ini. Wajar aja kalo anggotanya seperti ini. Lain kali jangan di ulangi, jika kalian sampai mengulangi hal yang sama, tidak ada kata maaf untuk kalian"

Kak Alvi diam, mengambil seragam Pramukanya dan pergi begitu saja dari lokasi perkemahan. Semua yang ada di sana hanya diam sedari tadi, tak ada yang berbicara karena takut emosi Kak Alvi akan memuncak dan menimbulkan kegaduhan yang akan semakin memperkeruh keadaan.

"Loh kok pergi?"

"Biarin aja. Toh katanya tadi lagi ada urusan"

"Oh gitu ternyata"

Wahyu dan Dion berlarian, Dion yang memegang sebuah telur busuk berniat ingin melemparkannya kearah Wahyu berhubung Wahyu sedang berulang tahun hari ini.

"Happy birthday Wahyu!" teriak para senior.

Rian yang berdiri diam akhirnya mengejar Wahyu dengan seekor kodok di tangannya. Kodok tersebut sudah mati dan tak sengaja ia temukan di dekat tenda.

"AAA KODOK! BUANG!" teriak Wahyu.

- TBC -







Yuhuu update lagi ges meskipun kemaleman. Gimana-gimana? Masih mau nemenin aku sampai akhir cerita?

Mau ya, biar aku gak sendirian hihi.
Tunggu update berikutnya, ya!

Jangan lupa vote episode ini. Sampai jumpa di episode berikutnya. Babay!!

KABAMAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang