Episode 33

22 3 1
                                        

Saat ini adalah Persami ketiga bagi angkatan ke-7. Perkemahan kali ini bukanlah perkemahan seperti biasa tanpa agenda yang padat, Kak Panji dan teman-temannya telah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari. Karena kali ini adalah perkemahan pelantikan setangan leher atau pelantikan kacu.

Kabamas kedatangan anggota baru, namanya Zoya. Ia adalah anak kelas 7F yang baru saja masuk karena tertarik dengan kegiatan Pramuka. Hal ini membuat keanggotaan Pramuka semakin bertambah jumlahnya. Pagi ini tepat pada pukul 10.00 WIB panggilan itu terdengar. Para anggota Pramuka langsung berkumpul di depan meja piket meskipun harus melalui proses perizinan yang cukup melelahkan.

"Loh, ada Kak Panji?" tanya Ziva yang baru saja sampai.

Para anggota menoleh ke arahnya membuat Ziva merasa seperti sedang menjadi sorotan. Menit demi menit berlalu, mereka juga belum diizinkan sehingga mereka harus duduk memerhatikan orang-orang yang sedang latihan upacara di lapangan. Sebenarnya bosan, namun tak lama kemudian mereka dipulangkan.

Matahari tak tanggung menaikkan suhunya siang ini. Ziva dan Vika telah tiba lebih dahulu di sekolah dibandingkan yang lainnya. Sorot mata Ziva menyapu lingkungan di sekitarnya, terlihat Kak Lidia, teman dari Kak Panji yang sedang sibuk membuat gapura bersama salah satu temannya lagi, namanya Kak Gusti. Mereka sudah sejak tadi menegakkan tenda karena melihat tenda yang ditegakkan para anggota pramuka pada perkemahan sebelumnya sudah seperti atap rumah gadang, cekung.

"Yon! Yan! Udah belum naruh sumbunya?!" teriak Kak Lidia.

"Siap sudah, Kak!" jawab keduanya serentak.

Ziva melihat dua orang yang berjalan dari arah lapangan basket menuju meja piket. Rupanya yang tiba lebih awal adalah Dion dan Rian, hanya saja mereka tak terlihat karena berada di lapangan basket. Para anggota mulai berdatangan satu persatu, apel sore sekaligus pembukaan juga telah dilaksanakan.

Banyak sekali kesibukan di sore ini, mereka terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melaksanakan berbagai tugas. Ada yang menyiapkan api unggun, memasak, merapikan barang-barang di dalam tenda dan bahkan ada yang hanya berdiam diri sambil melamun, seakan sedang memikirkan masa depan yang suram.

Teman Kak Panji juga banyak sekali yang berdatangan. Diantaranya ada Kak Gusti dan Kak Lidia dan seorang kakak berkulit hitam manis bernama Ahmad. Ziva, Dila, Tio, There, dan Anni diambil alih oleh Kak Ahmad, begitupun dengan para anggota yang lainnya sehingga mereka terbagi menjadi regu-regu sore ini.

"Hormat grak!"

"Tegap grak!"

"Tomat grak!"

Ziva seketika hormat, ia tak terlalu jelas mendengar aba-aba dari Kak Ahmad membuatnya bertanya-tanya apa yang salah saat melihat orang-orang di sebelahnya.

"Dek, kalo gak denger bilang siap ulangi"

"Siap, Kak"

"Ulangi"

"Siap ulangi"

"Siap grak"

"Istirahat di tempat grak!"

"Siap grak!"

"Istriempat grak!"

Ziva hampir saja terkecoh kali ini, untung saja pendengarannya berfungsi normal. Kak Ahmad membawa mereka menuju lapangan basket di mana semua regu berada di sana. Tempat yang terbilang cukup luas itu dijadikan sebagai tempat latihan sore ini. Semua regu dijadikan satu, kekompakkan, kefokusan mulai diuji. Semuanya kacau ketika mereka diminta untuk menutup mata.

Ziva sudah asal berjalan ketika aba-aba langkah tegap maju diberikan. Kak Panji dan teman-temannya tertawa begitu melihat Ziva dan teman-temannya sudah berjalan layaknya kreasi baris-berbaris. Tawa Ziva pecah ketika Nadia berjalan menanjak dan hampir menabrak pohon.

"Dek, mau jalan ke pasar atas, ya?" tanya Kak Ahmad membuat yang lain tertawa.

Ziva tertawa lebar melihat Nadia yang kebingungan di bawah pohon. Terlebih lagi ketika Ziva yang melihat Jesika sudah jalan di tempat dengan wajah yang sudah menempel pada tembok laboratorium IPA. Kakak-kakak sudah lupa telah mengambil alih sehingga hal ini bisa terjadi. Sebenarnya mereka belum diperintahkan untuk membuka mata, tapi Ziva melanggar perintah itu.

"Berhenti grak!"

"Setelah saya istirahatkan, silahkan membentuk regu-regu seperti awal. Istirahat di tempat grak!"

Ziva berlari menuju regunya dan mulai berlatih dengan Kak Ahmad. Meskipun senyuman Kak Ahmad nampak manis, ada sifat menjengkelkan dibaliknya, salah satunya adalah cerewet.

"Dua kali belok kanan langkah tegap maju jalan!"

Ziva berada di barisan kedua, Dila berada di depannya. Setelah dua langkah berjalan, Dila malah berbelok ke arah kiri membuat Ziva kebingungan dalam mengambil jalur. Ziva menahan tawanya ketika melihat Dila yang sudah berjalan entah kemana.

⚜️⚜️⚜️

Para anggota Kabamas beristirahat, mereka duduk-duduk di lapangan sambil mengobrol santai. Pandangan mata Ziva kini tertuju pada Rian yang berjalan dengan kaki yang sedikit pincang sambil membawa kayu bakar di tangannya.

Ziva memerhatikannya yang sesekali meringis kesakitan, tak tega melihatnya begitu, Ziva mengalihkan pandangannya. Teman Kak Panji bertambah lagi dua orang, sebut saja namanya Tomo dan Tomi. Keduanya adik kakak, wajahnya mirip dengan rambut seperti landak.

Ziva sibuk mengobrol bersama teman-temannya, menikmati langit yang perlahan berubah warna menjadi biru keungu-unguan. Sangat indah, rasanya Ziva tak pernah melihat senja secantik ini sebelumnya. Suara gitar membuyarkan pandangannya, Ziva menoleh ke arah belakang, melihat Kak Tomo yang sedang memainkan gitarnya sambil berkeliling layaknya pengamen jalanan.

"Minuman keras ... cendol," nyanyi Kak Tomo.

"Miras, Kak, miras"

"Kata siapa? Cendol, lah. Coba dibekuin, keras, kan?"

"Iya deh serah kakak"

Kak Tomo duduk di antara mereka lalu memerhatikan anggota Lili satu persatu. Ia berdiri, memetikkan senar gitar lalu berputar-putar.

"Saya mencium aroma-aroma jomblo"

"Lebih baik kakak keluar, ya, jangan di tengah-tengah takutnya ketularan jomblo"

"Ih ngeri banget. Lebih horor dari film horor mana pun. Pergi ah," ucap Kak Tomo bergidik ngeri lantas meninggalkan para anggota Lili.

Sebelum adzan maghrib berkumandang, Kak Tomi memerintahkan anggota Kabamas untuk membuat lingkaran guna untuk berdoa bersama-sama. Ziva bertatapan dengan Rian sekilas sebelum akhirnya saling tersenyum. Kak Tomi membuka suaranya setelah beberapa menit terdiam.

"Baiklah, di sini bisa kalian lihat ada sebuah botol berisikan air. Air ini sudah kakak bacakan doa, nanti kita semuanya harus meminum air ini tanpa terkecuali. Sambil berdoa, semoga gugus depan ini menjadi maju kedepannya. Aamiin"

Botol tersebut digilirkan dari ujung hingga ke ujung. Lingkaran dibubarkan ketika adzan telah berkumandang merdu dari masjid. Mereka lekas mengambil air wudhu dan menunaikan salat maghrib berjamaah, teman Kak Panji yang baru saja datang langsung mengambil posisi imam. Tubuhnya tinggi, putih, soal wajah dapat dikatakan lumayan membuat anggota Lili hampir gagal fokus sebelum salat dimulai. Ziva sempat cekikikan sebelum akhirnya takbir diucapkan oleh imam.

- TBC -












Eiyoo ges update lagi setelah lama banget gak up😭

Udah mau pelantikan aja nih, penasaran sama kisah seru mereka?

Jangan lupa vote, komen, dan follow ya. Sampai jumpa di episode berikutnya.

Babay!!

KABAMAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang