Rian membulatkan matanya, ia tampak bingung untuk menjelaskannya. Ziva mengalihkan pandangannya, menatap ke arah tanah sambil memainkan sepatunya yang kotor.
"Kalo kakak gak mau jawab gak apa-apa, kok"
Rian tampak berpikir berulang kali. Mengetukkan jemarinya pada pagar. Ia menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam sebelum membuangnya kasar.
"Oke. Kakak bakal jawab"
Rian mengambil tempat duduk di sebelah Ziva. Duduk di atas trotoar dengan jalanan yang masih sepi akan kendaraan. Ziva melihat bola mata Rian, tatapannya tetap teduh seakan penuh ketenangan.
"Dulu ..."
Sekitar dua tahun yang lalu, Pramuka dan Paskibra dibawah binaan Pak Hadi. Kedua organisasi itu bersatu dengan sebutan Paspra. Mereka berlatih layaknya paskibra dan memiliki jiwa kekeluargaan yang teramat dalam layaknya anggota Pramuka. Semuanya baik-baik saja, ceria, taat pada agama, dan memenangkan beberapa perlombaan berturut-turut.
Tapi, semuanya berubah. Ketika dua anggota melanggar peraturan. Mereka berpacaran, hal itu sangat dilarang oleh Pak Hadi. Sekali dua kali mendapatkan teguran, tapi hubungannya tak kunjung usai. Keduanya hampir melewati batas ketika para anggota sedang latihan.
Kedua anggota itu duduk berduaan di pojok ruangan, para anggota sudah biasa dengan hal tersebut bahkan tak lagi ingin menegurnya. Hingga suatu hal yang tak diinginkan terjadi, semuanya rusak. Nama baik Paspra rusak sejak saat itu juga. Pak Hadi menghukum keduanya, ia mencambuk keduanya dengan rotan meskipun hanya sekali.
Dua minggu kemudian, Silvi tewas gantung diri di belakang ruang keterampilan. Sedangkan Niko yang dianggap sebagai anggota pramuka dikeluarkan dari sekolah. Paskibra dan Pramuka terpecah, sedangkan Pak Hadi? Beliau dipaksa mengundurkan diri sebagai pembina. Beliau kecewa dan merasa bahwa semua hal dibawah binaannya adalah yang terburuk.
Sejak hari itu, Pramuka di benci. Plang Kabamas dirobohkan dan dicoret-coret oleh para siswa di sini. Ruang gudep disita, Pramuka terpaksa vakum. Dan di tahun ini, Pramuka baru diizinkan untuk aktif kembali.
Rian menatap Ziva yang sekarang fokus untuk menatapnya. Ia tersenyum sekilas lalu mengibaskan tangannya di depan wajah Ziva.
"Paham?"
"Ooh jadi karena itu? Terus kenapa paskibra enggak dibenci, sih? Kan, sama-sama ngelakuin"
"Karena cowoknya dari pramuka. Maka dari itu mereka menganggap anak pramuka gak ada yang baik, semuanya berpikiran kotor kayak si Niko. Padahal enggak, kan?"
"Iya"
"Sudah terjawab pertanyaannya, kan?"
"Sudah. Bahkan jelas banget"
"Akhirnya lega juga, ya? Gak nangis lagi, kan?"
"Enggak atuh, Kak. Ziva cuma penasaran, terlalu memikirkan itu rupanya bikin sesak, ya, Kak. Sekarang gimana caranya buat ngebalikin nama Pramuka?"
"Dengan berbuat baik, kita bisa, kok, membuat semuanya baik-baik aja seperti sebelumnya. Asalkan kita kerja sama. Semua anggota, insya Allah semuanya akan kembali"
"Siap, Kak! Yuk bangkit!"
⚜️⚜️⚜️
Kabamas memiliki cerita kelam yang mungkin tak akan pernah terlupakan. Tembok belakang yang sengaja dilubangi oleh Silvi dulunya pun masih terlihat bekasnya hingga sekarang. Kini semua hanya terfokus kepada bagaimana caranya mereka bisa mengembalikan Kabamas seperti sedia kala. Satu hal yang mereka harus tahu, bahwa semua pencapaian memerlukan pengorbanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KABAMAS [Selesai]
Teen FictionMenang itu, bukan tentang siapa yang mendapatkan medali maupun piala. Bukan pula orang-orang yang menyimpan puluhan piagam di rumahnya. Tapi, menang itu adalah sebuah proses di mana seseorang bertekad untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik dibandi...
![KABAMAS [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310224513-64-k166125.jpg)