Lima tahun sejak hari itu berlalu. Seorang gadis dengan jilbab cokelatnya berdiri di depan cermin kelasnya, memerhatikan wajahnya yang nyaris tak berubah dibandingkan lima tahun lalu. Hanya saja sedikit lebih cerah dibandingkan dulu. Ya, dia Ziva. Seorang gadis cengeng yang selalu bersama Rian kemana pun. Sekarang, ia sudah menginjak bangku SMA kelas 2.
Dering handphone berbunyi, dengan segera ia mengangkatnya. Telepon yang sudah ia tunggu-tunggu sebelumnya. Telepon yang tidak bisa ia angkat juga sebelumnya karena masih dalam jam pembelajaran.
"Iya, halo, waalaikumussalam"
"..."
"Oh iya, sebentar lagi aku ke sana, ya"
"..."
"Iya, aman. Dianterin pulang, kan, haha"
"..."
"Oke sip. Waalaikumussalam"
Ziva meraih tas ranselnya lalu berjalan keluar dari kelas, tak lupa untuk menguncinya. Hari ini adalah pertemuan pertamanya dengan teman-temannya setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Apa kabar Kabamas? Apa kabar teman-teman? Dan ... apa kabar Rian?
Tepat pada pukul empat sore Ziva tiba di lokasi. Semua mata tertuju padanya, penampilannya mungkin jauh berubah tapi percayalah Ziva masih tetap sama.
"Eeh siapa, tuh, Bi?"
"Gak tau tuh. Emang kita punya temen seangkatan kayak dia? Atau junior kamu kali, Yu. Angkatan berapa, sih?"
Semakin lekat Wahyu melihat Ziva. Ziva dari depan laboratorium sudah tersenyum manis sambil berlari kecil. Tak sabar ingin menyapa semua yang ada di sana, termasuk segerombolan anak SMP yang sedang duduk di tengah lapangan basket.
"Oalah Ziva! Ziva, Bi! Ziva! Masa iya gak inget?"
"Oh Ziva! Yang suka naik sepeda sambil bilang AKU BUKAN ANAK KECIL PAMAN"
"Itu Shiva, Bi. Beda dong"
"Iya iya inget. Ziva yang suka sama Rian, kan?"
Ziva hanya tersenyum sekilas, ia menyalami kakak seniornya satu persatu termasuk Arbi yang melupakannya. Tapi ... kenapa Arbi masih mengingat bahwa ia menyukai Rian? Ya, siapa juga yang tidak tahu tentang cerita yang satu ini, kan? Satu gudep juga sudah tahu tentang hubungan Rian dan Ziva yang hanya sebatas patok tenda. Meskipun begitu keduanya tetap akur.
"Apa kabar, Va?"
"Baik, Kak. Kalau kakak-kakaknya?"
"Baik. Baik banget"
"Alhamdulillah kalo gitu. Cuma segini doang, Kak? Mana Liza?"
"Ziva!" teriak Liza dari lapangan atas.
Liza langsung menyambut kedatangan Ziva dengan senang hati, disusul Gjina dan Jihan. Liza mengajaknya untuk berkenalan dengan adik-adik yang tengah duduk. Canggung rasanya, apalagi saat semua mata tertuju pada Ziva yang hanya diam saja.
"Dek, ini kakak yang pernah kakak ceritain ke kalian. Sebenarnya angkatan kakak lumayan banyak, tapi yang bisa hadir hari ini cuma Kak Ziva doang. Kalian kalau mau tanya-tanya silahkan"
Ziva merasa sedikit tertekan saat Liza menyuruh para junior dihadapannya untuk bertanya. Namun, tak ada seorang pun yang bertanya kepadanya. Membuatnya merasa lega seketika. Ziva meninggalkan para junior itu ketika dipanggil oleh Wahyu.
Mentari mulai sedikit condong ke barat, apel penutupan sebentar lagi akan dilaksanakan. Ziva sibuk berbincang dengan Anna dan Anni yang juga merupakan kakak kelasnya di SMA, sayang mereka tidak pernah bertemu dengan Ziva.
KAMU SEDANG MEMBACA
KABAMAS [Selesai]
JugendliteraturMenang itu, bukan tentang siapa yang mendapatkan medali maupun piala. Bukan pula orang-orang yang menyimpan puluhan piagam di rumahnya. Tapi, menang itu adalah sebuah proses di mana seseorang bertekad untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik dibandi...
![KABAMAS [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310224513-64-k166125.jpg)