Episode 49

19 2 0
                                        

Ziva tiba-tiba beranjak dari duduknya. Ia berlari menuju kelas, beberapa detik kemudian ia keluar dengan raut wajah kesalnya. Gadis itu berlari menuju lapangan dan langsung dikejar oleh Rian.

"Va, kenapa?"

"Hiks sarung Ziva hilang. Tadi ada tapi ditinggal sama Kak Indah di atas meja, Kak Indah pikir sarung itu punya panitia. Sekarang Ziva gak tau sarung itu di mana," ucap Ziva sambil terisak pelan.

Mata gadis itu sudah dipenuhi oleh air yang siap kapanpun diperintahkan untuk menetes. Rian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan.

"Sarung Ziva warna pink, kan?"

Gadis itu mengangguk pasti lalu ikut mencari. Di sudut lapangan, tampak seorang kakak panitia yang tengah duduk sambil meminum es dogan di bawah payung. Rian yang merasa pasti bahwa sarung yang dikenakan oleh kakak panitia itu adalah sarung milik Ziva langsung menghampirinya.

"Permisi, Kak. Izin bertanya. Kalau boleh tahu, ini sarung milik Kakaknya, ya?"

"Oh, bukan, Kak. Ini tadi ada yang ninggalin di atas meja, katanya milik panitia. Jadi ini lagi nungguin panitia yang punya sarung ini," jelas kakak tersebut.

"Kalo boleh tahu, yang meletakkannya perempuan atau laki-laki, Kak?"

"Perempuan, Kak"

"Maaf sebelumnya, Kak, atas semua kesalahpahaman ini. Yang meletakkan sarung ini di atas meja tadi adalah salah satu dari anggota gugus depan kami, dia salah mengira bahwa sarung ini adalah milik panitia padahal sarung ini adalah milik seseorang yang ada di sana"

Rian menolehkan pandangannya, mengarahkan kakak panitia untuk melihat Ziva yang saat ini berjongkok di atas ubin-ubin berbentuk pola sarang lebah sambil terisak.

"Oalah saya tadinya juga sempet mikir, masa iya panitia bawa sarung pink. Maaf, ya, Kak atas ketidaknyamanannya hari ini. Ini saya kembalikan, mohon maaf sekali lagi," ucap kakak panitia itu sambil menyodorkan sarung kepada Rian.

"Terimakasih, Kak. Saya pamit dulu, mari"

Rian berjalan sambil terkekeh melihat Ziva yang sudah seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pasar. Benar-benar persis. Rian menyodorkan sarung dalam genggamannya tanpa suara sedikitpun, gadis itu mengangkat wajahnya, melihat seseorang di hadapannya dengan perasaan senang.

"Nemu di mana?!" tanya Ziva girang.

"Sama kakak panitia"

"Alhamdulillah, untung aja masih ada sama panitia. Kak Indah ih udah minjem gak bilang-bilang, udah itu bilang ini punya panitia segala. Ihhh!"

"Udah-udah, jangan ngomel. Kita balik ke kelas, siap-siap bentar lagi upacara"

Ziva yang tidak mengikuti upacara sibuk menendang-nendang kerikil di atas tanah yang ia pijak. Jumat lalu ia tiba di sini bersama teman-temannya, memulai perlombaan di siang hari dalam kondisi panas meskipun lapangan basah. Kondisi yang sama seperti hari ini, panas tapi genangan air ada di mana-mana. Bedanya, Jumat lalu itu ramai, kini terasa sangat sepi. Kelas-kelas sudah dikunci, suasana ramai berubah menjadi hening. Tak ada lagi kelap-kelip lampu dari ruangan depan yang ditinggali oleh salah satu gudep. Tak ada lagi yang namanya rebutan kamar mandi. Semuanya berubah, mulai detik ini.

Setelah upacara dilaksanakan, mereka berjalan beramai-ramai ke lapangan, berbaris rapi dengan sejumlah perlengkapan yang telah diketakkan di dalam mobil. Ziva berdiri tak jauh dari tempat Rian berdiri, keduanya saling lirik dengan kode-kode pembicaraan yang terdengar samar.

"Juara pertama perlombaan LKBB Variasi jatuh kepada SMP Negeri 3 ..."

"Kita nih, bismillah"

"Kepahiang!"

"Yah ... gagal seneng udah"

Beberapa perlombaan disebutkan, tapi tak satu pun juara yang dapat mereka raih. Tapi Ziva yakin bahwa mereka masih bisa membawa satu piala untuk sekolahnya, juara dua lomba cepat tepat .

"Untuk juara satu perlombaan morse jatuh kepada SMP Negeri 3 ..."

"Udahlah gak usah berharap," ucap Dion.

"Cukup, Kak. Kita udah tau, pasti Kepahiang kan?" ucap Wahyu sedikit jengkel.

"Jangan PHP lah, Kak," keluh Rian.

"Rejang Lebong!" sambung panitia membuat barisan di ujung sana berteriak histeris.

Ziva bersorak girang sampai memukul Dila yang berdiri di belakangnya. Setelah nama sekolah mereka disebutkan untuk pertama kalinya, kebahagiaan terus mengikuti mereka di saat tiga kejuaraan lainnya mereka dapatkan. Gugus depan Kabamas menangis haru meskipun piala bergilir yang mereka impikan tidak bisa mereka dapatkan.

Hari ini juga, tercatat dalam sejarah gugus depan Kabamas bahwa mereka bisa mengharumkan kembali nama gudep mereka beserta nama sekolah tercinta. Mereka berbaris, melakukan sesi foto dengan dua piala beserta dua medali yang berhasil mereka raih. Medali juara satu morse, medali juara tiga tali temali, piala juara dua LCT, dan piala harapan dua.

Setelah sesi foto tersebut mereka berbaris membentuk barisan berbanjar secara selang-seling antara putra dan putri. Meskipun lapangan penuh akan genangan air, tak sekalipun menghapuskan semangat mereka pada sore hari ini. Menyanyikan yel-yel bersama-sama sambil berlari kesana-kemari.

⚜️⚜️⚜️

Dalam perjalanan pulang, mereka mengibarkan bendera Lebah dan Lili dari dalam angkutan kota. Bernyanyi girang sepanjang perjalanan, sore ini juga jalanan kota dipenuhi oleh anak pramuka. Mereka tiba di sekolah pada pukul enam sore. Ziva dan teman-temannya bergotong-royong membawa barang-barang dari gerbang menuju ruang keterampilan. Ziva kebagian membawa tabung gas yang lumayan berat hingga Rian membantunya.

"Ah akhirnya sampai juga hufthh"

"Alhamdulillah, ya, kita dapet juara juga"

"Va, kamu kenapa gak bilang kalo LCT dapet juara?" tanya Rian.

"Emm anu tanya Kak Pances coba"

"Kak Pances nyuruh kalian buat diem, ya? Wah parah, sih"

"Biar ada kejutan, ya, gak?" tanya Kak Pances yang tiba-tiba muncul dengan sepasang smaphore.

"Bener tuh," balas Dila.

"Ah oke deh"

Langit perlahan berubah sedikit keungu-unguan. Ziva dan teman-teman bingung harus pulang dengan cara apa. Tak ada lagi angkutan umum yang bisa membawa mereka pulang pada jam-jam seperti ini.

"Kalian mau pulang, ya?" tanya Wahyu yang langsung mengambik tempat duduk di depan pos satpam.

"Nggak! Kita mau nginep"

"Ooh nginep"

"Ya pulang, lah, udah tahu masih aja nanya"

"Santai ... kita seneng-seneng hari ini"

Hening sejenak, Wahyu langsung meloncat dari duduknya karena merasakan sesuatu menggigit bokongnya. Semua anggota yang ada di sana menoleh ke arah Wahyu yang sudah berguling-guling di atas tanah. Dion dengan cepat membersihkan semut merah yang menempel pada celana sahabatnya itu.

"Yu, yu, bisa-bisanya sampe di gigit semut. Kamu juga pake duduk di atas sarangnya segala"

"Ya, mana aku tahu, Yon"

"Yee masa kaga kelihatan. Biji mata segede itu juga"

"Ya semutnya, kan, kecil"

"Serah dah serah"

- TBC -










Eiyoo ges up lagi
Duh duh usaha memang tidak mengkhianati hasil, ya, kawan. He

KABAMAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang