Episode 15

25 5 3
                                        

Pada akhir game semua jawaban di bacakan, satu pun dari jawaban mereka tidak ada yang benar. Termasuk jawaban Ziva. Seisi kelas tertawa oleh lelucon hari ini, benar-benar berbahaya jika tidak memahami kode-kode dengan baik. Kode apapun itu.

"Va. Bisa-bisanya dari Indonesia ke Andinea"

"Yee yang kamu juga kali dari Bawang ke Hayang"

"Ye masih deket kali"

Suara riuh itu seketika diam saat Bibi Kantin memasuki ruangan dan langsung menanyakan perihal singkong yang telah direbus tadi. Bukan karena tidak kebagian, tapi karena singkong itu tidak boleh diambil oleh para anggota Pramuka.

"Kalian udah sering banget ngambil singkong di belakang sana. Kali ini juga udah yang kesekian kalinya, lihat aja bakal saya lapor ke kepala sekolah nantinya," ucapnya lalu pergi dari ruang kelas.

"Dek ... bener kalian ambil gak izin?"

Seisi ruangan seketika diam. Tak ada suara sedikitpun kecuali suara ketukan pena milik Kak Panji. Tatapan mata tajamnya namun tetap dengan nada bicara yang lembut.

"Kalian gak izin?"

"Gimana mau izin, kita udah izin aja tetep gak dibolehin," celetuk Dion di sudut ruangan.

"Terus? Tetap maksain buat ambil?"

"Siap iya kak"

"Kalian tahu itu salah?"

"Siap tahu"

"Tapi itu juga hak kami, Kak. Pohon singkong di belakang ruangan itu kami yang menanamnya dulu," ucap Dion lagi.

"Dion bisa diam sebentar?"

"Siap tidak"

"Lebih baik kamu keluar sekarang daripada bikin masalah ini bertambah"

"Kenapa sih? Salah mulu salah mulu. Gak semua yang ada di sana punya sekolah! Sekarang singkong besok apa lagi? Ruangannya sekalian gitu?!"

"DION!"

"Siap salah, Kak"

"Tolong jangan menjawab untuk sementara waktu"

"Kenapa? Gak suka? Oke aku keluar," ucap Dion lalu pergi ke luar ruangan.

"Dion!"

Kak Panji menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. Baru beberapa kali ia melatih disini tetapi sudah banyak hal yang terjadi dan semuanya pasti menimbulkan keributan. Ia kemungkinan berpikir bahwa Kak Alvi tidak betah bekerja disini karena kelakuan para anggota Pramuka yang masih bersifat kekanak-kanakan.

"Panji, gak boleh gitu. Mereka masih SMP, tahan emosimu," batinnya.

"Oke. Kakak tahu kalian hari ini melakukan kesalahan, meskipun kata Dion tadi itu singkong punya kalian. Tapi singkong itu tetap ditanam di pekarangan sekolah. Sebenarnya mau kita kembalikan juga gak bisa karena udah masuk ke perut"

"Jadi kakak harap untuk kedepannya, kalo mau apa-apa izin dulu sebelum bertindak. Oke?"

"Siap oke!"

"Eh gak ada, ya, siap oke"

"Siap iya Kak"

Sementara itu, di depan ruang ketrampilan, Dion duduk dengan kepala yang terbenam di antara kedua tangannya yang terlipat. Ia menangis meskipun isak tangis itu tak terdengar.

"Yon"

"Kenapa?"

"Jangan gitu dong"

"Ya, gak suka aja liatnya. Kemarin kita disalahin karena jambu, ya walaupun sebenarnya salah kita. Sekarang singkong, besok apa? Peralatan kelas ilang? Terus ruangan kita diambil gitu?" cerocos Dion tanpa jeda.

KABAMAS [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang