Episode 38

19 3 0
                                        

"Hah disita? Lah ngapain?" tanya Wahyu dan Dion keheranan saat melihat ruang gudep mereka disita.

Ruangan kecil itu tertutup total, papan-papan kecil juga dipaku untuk menutupi akses jalan memasuki ruangan. Ziva menatap ruangan itu heran dari kaca luar. Mereka bahkan tak bisa memasuki ruang keterampilan kali ini. Mereka tersandarkan pada dinding ruang keterampilan. Sejak perkemahan pelantikan, Pramuka kembali di ambang kehancuran. Banyak tuduhan-tuduhan yang diberikan. Mulai dari hilangnya sapu dan pel kelas, hacurnya bangku-bangku hingga isu bahwa mereka mengadakan perkemahan di hutan dan membuat salah satu anggotanya menghilang.

"Nasib kita gimana, Kak?" tanya Ziva menatap Rian yang kini berdiri dengan punggung yang tersandar pada tiang.

"Ya begitulah"

Senin itu, saat pembina upacara dipersilahkan untuk menyampaikan amanatnya. Semua berjalan baik-baik saja hingga seorang guru itu menatap sinis Wahyu yang pada hari itu bertugas sebagai pemimpin upacara.

"Fasilitas sekolah tolong dijaga baik-baik, anak-anakku sekalian. Seperti sapu, kain pel, penghapus, penggaris kelas bahkan bangku kalian sekalipun kalau bisa ditanam saja di lantai agar tidak dirusak oleh oknum-oknum tertentu"

"Bapak sempat mendapat laporan sebelumnya bahwa anak pramuka menghilangkan beberapa perlengkapan sekolah dan merusak sebagian fasilitas belajar mengajar seperti bangku siswa-siswi untuk dijadikan api unggun"

Sejak hari itu, para guru di sekolah semakin benci terhadap mereka. Bukan hanya pada ekskulnya saja, tapi juga pada para anggotanya. Parahnya mereka sampai tak pernah dianggap apabila mendapatkan suatu prestasi. Seburuk itukah Pramuka di mata mereka?

Ziva menghela napasnya panjang, meraba pintu ruangan berharap akan ada sebuah keajaiban. Belum lama ini, sebuah surat undangan dari sebuah SMP di pusat kota sampai di sekolah ini. Undangan tentang perlombaan Pramuka Sesumbagsel. Anggota Kabamas sudah antusias bahkan sudah memilih para anggota dalam bidangnya masing-masing. Namun, tempat latihan mereka malah disita. Sungguh menyedihkan.

Siang itu, Ziva berbaris di pasukan PBB kreasi bersama beberapa teman seangkatannya. Mereka mulai melakukan latihan dasar dengan berbagai macam kreasi. Selang beberapa menit setelah latihan PBB, ia berlari menuju tempat di mana Vika dan Rian belajar untuk lomba LCT (Lomba Cepat Tepat). Sebelumnya Ziva tidak termasuk ke dalam bidang ini sampai suatu saat Vika menariknya.

"Vika, kamu mempelajari bagian kepramukaan secara khusus. Fokuskan ke sana, untuk dua bidang yang lain biar mereka berdua yang ambil alih," ucap Kak Panji melirik Rian dan Ziva.

"Saya bagian apa, Kak?" tanya Ziva.

"Kamu bagian materi umum"

"Materi umum, hmm berarti ada PPKn, IPA, IPS, Agama, dan Matematika juga, Kak?"

"Ya. Untuk agama kita serahkan kepada Rian"

"Aduh matematikanya, Kak, hehe," ucap Ziva lantas menggaruk dagunya.

"Bisa, kamu pasti bisa, kok," bisik Rian tepat di telinganya.

Ziva mengela napasnya, ia tahu jika bidangnya adalah hal yang terberat. Bidangnya tak semudah materi kepramukaan yang hanya berputar pada pramuka, tak juga hanya fokus pada keagamaan. Ia harus fokus pada semuanya termasuk tentang hal-hal di dunia.

Berulang kali Ziva membaca lembaran bukunya yang berisi segelintir materi. Ia bahkan tak tahu banyak soal pelajaran umum. Vika sudah terpusat pada materinya, dan Rian, ia tampak seolah tak peduli meskipun dalam otaknya ia sedang berpikir tentang hal-hal keagamaan yang harus dihafal.

"Yuk, latihan PBB lagi!" teriak Kak Panji dari arah runaag laboratorium.

⚜️⚜️⚜️

Ruangan yang disita tak sekalipun mematahkan semangat mereka. Meskipun sekolah tak mendukung mereka tetap ceria, meskipun semuanya berusaha untuk meruntuhkan, tapi mereka tetap berdiri. Semuanya memang tak mudah, mengembalikan nama baik itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Hal-hal baik akan mereka usahakan, asalkan mereka tak akan diabaikan di masa depan.

Hari ini adalah hari Jumat, SMP tercinta mengadakan acara peringatan Maulid Nabi SAW. Siswa-siswi dipulangkan lebih awal pada hari ini. Ziva dan teman-temannya berbaris di depan ruangan keterampilan dengan Wahyu sebagai pelatih sebelum Kak Panji datang. Tak lama melatih, mereka berangkat untuk melaksanakan salat Jumat di masjid.

Hujan deras membasahi kota ini, Ziva, Dila, dan Jesika melaksanakan salat dzuhur di kelas yang masih terbuka, tak lama, Nadia menyusul. Selesai salat mereka berlatih di lapangan basket, karena hujan semakin deras para anggota Lili berteduh di kantin hingga Arbi menjemput mereka untuk latihan di lapangan atas.

Mereka berjalan di bawah derai hujan. Padahal lorong kelas telah tersedia agar mereka tak kehujanan. Mungkin prinsip mereka sedang berubah, kalau ada cara susah kenapa harus pilih yang mudah. Di depan ruang keterampilan mereka berbaris. Ziva dan yang lainnya hanya diam dengan mata yang menatap lurus ke depan.

"Dek. Astaghfirullah, kalian kenapa malah hujan-hujanan? Lihat tuh, tuh, yang itu apa lagi. Astaghfirullah," ucap Wahyu menujuk Liza, Jihan, dan Ghina.

"Kalian tahu pakaian muslim kalian bagaimana? Tipis, kalau terkena air jadinya menerawang. Gak perlu kakak sebutkan apa yang terlihat jelas saat ini"

Wahyu mengusap wajahnya gusar, di sampingnya Rian berdiri sambil menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri Ziva lalu mengangguk tak jelas. Ziva tak ikut hujan-hujanan dan bajunya pun tak basah. Hanya saja sepatunya basah kuyup karena terperosok saat hendak meninggalkan kantin.

Byur! Suara air terdengar di depan kelas 8G. Air hujan di sana sudah seperti bendungan. Mereka menoleh, melihat Tio dan Ade sudah berenang di sana.

"Wah wah, orang lagi sibuk ceramah di sini. Kalian malah berenang!" tegas Wahyu dengan mata melotot.

"Ikut woy!" ucapnya seperkian detik kemudian dan langsung menceburkan diri ke dalam air diikuti Rian.

Sekolah ini mendadak menjadi waterboom seketika sejak hujan turun dengan derasnya. Baik Ziva maupun teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepala disaat para seniornya bertingkah layaknya anak kecil sambil bermain. Ziva, Vika,dan Dila menyantap batagor di depan kelas 7E karena ketiganya memang belum makan siang.

Anggota lebah sudah sibuk mengisi kantung plastik dengan air keran untuk dijadikan bom air. Mereka saling lempar-lemparan hingga mengenai Ziva di pinggir lapangan.

"Ayo mandi hujan," ajak Rian di tengah lapangan.

"Enggak ah, basah"

"Ayo lah," paksa Rian sambil menarik lengan gadis itu.

Ziva berjalan mengikuti Rian, membiarkan riani hujan membasahi tubuhnya. Semua orang memiliki kenangan tentang hujan, begitupun dengan Ziva. Ia tahu jika ini adalah salah satu kenangan paling menyenangkan untuknya. Di bawah riani hujan, Rian merentangkan sebelah tangannya untuk menaungi Ziva meskilun itu tidaklah berguna saat ini.

"Kok baju kalian couple?" tanya Ade yang sadar jika baju Rian dan Ziva senada.

- TBC -














Yeayy Yuhu Update lagi Gaes
Aku bakalan update beberapa bab dalam sehari ya berhubung jadwal sekolah lumayan kosong

Pantau terus cerita ini ketika update. Jangan sampai ketinggalan episode berikutnya. Semangat membaca cerita yang entah kapan usai.

Jangan lupa vote, komen, dan follow ya
Sampai jumpa di episode berikutnya
Babay!!

KABAMAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang