Hari-hari begitu cepat berlalu, beberapa hari lagi adalah hari dimana mereka akan melaksanakan perkemahan. Hari itu, Ziva dan teman-teman satu organisasinya bermain di ruang ketrampilan sambil menyiapkan perlengkapan seperti tikar dan peralatan masak di dalam sana. Tak lupa juga mereka membersihkan ruangan tersebut agar tidak terlihat kotor lagi. Ziva memerhatikan rak-rak buku di sana dan membereskannya.
"Oh lagi beres-beres," ucap Rian dan langsung memasuki ruangan.
Ia langsung meletakkan tasnya di atas matras yang tertumpuk di sudut ruangan. Lalu ikut membereskan ruangan bersama yang lainnya, ia duduk di dekat Ziva sambil membereskan buku-buku dan menyusunnya kembali di dalam rak.
"Dek. Kalo mau pinjam gak apa-apa sih," ucapnya tanpa melirik sedikitpun kepada Ziva.
"Hah? Apanya?"
"Hatiku. Ya buku lah, apalagi?"
"Oh. Belum berminat, sih, Kak. Kapan-kapan deh"
"Banyak loh pengetahuan di sini. Tapi, jarang dibaca semenjak Pramuka vakum"
"Vakum? Vakum cleaner?"
"Vakum itu berhenti. Astaghfirullah"
Ziva hanya terkekeh akibat keisengannya. Ia lalu meletakkan salah satu buku berukuran sedang di dekat buku-buku yang berukuran lebih kecil. Mata Rian menatapnya lalu mengambil buku tersebut dan memindahkannya.
"Nyusunnya sesuai ukuran biar lebih rapi"
"Oh oke kalo gitu"
Ziva dan Rian hampir menyelesaikan pekerjaan tersebut. Setelah Anna datang dan memanggil Rian, pekerjaan itu harus diselesaikan sendiri oleh Ziva. Teman-temannya juga tak mungkin membantu karena sudah bekerja di tempat masing-masing.
"Loh sendiri, dek?" tanya Wahyu.
"Eh iya Kak"
"Rian tadi kemana?"
"Tau tuh, dipanggil sama Kak Anna. Jadinya keluar deh"
"Kebiasaan tuh anak. Kalo dipanggil sama orang yang dia suka pasti langsung gesit"
Setelah pekerjaan tersebut selesai, mereka berkumpul untuk latihan mandiri sejenak. Kakak-kakak senior kelas 8 yang akan melatih sedangkan kakak-kakak kelas 9 mereka telah pulang terlebih dahulu kecuali Marsha yang masih bolak-balik di sana.
Ziva dan beberapa temannya dilatih oleh Ade dan Rian. Sedangkan Liza, Jihan, dan Ghina dilatih khusus bertiga oleh kakak-kakak lainnya. Mereka seakan sudah terpilih menjadi pemimpin untuk pemilihan nantinya, bukankah tidak adil? Tapi itulah mereka.
"Pimpinan saya ambil alih. Siap gerak!"
"Langkah tegap maju ... jalan!"
Kebanyakan dari mereka belum bisa melakukannya dengan benar karena masih terbawa gerakan saat SD yang sangat berbeda dengan gerakan saat SMP, mengharuskan kakak-kakak senior memperbaikinya dengan latihan berulang kali.
"Langkah tegap maju ... jalan!"
Ziva, Vika, dan Dila terus melangkah maju. Belum berhenti sebelum Ade memberikan aba-aba berhenti. Ketiganya sudah hampir menabrak dinding ruangan, membuat ketiganya menahan tawa. Dila mencuri-curi kesempatan untuk menoleh, dan benar saja yang mengambil alih malah sibuk mengobrol.
"Pimpinan saya ambil alih. Henti gerak!" ucap Rian tegas.
Ketiganya berhenti lalu tertawa puas. Tak peduli jika itu masih dalam posisi siap. Rian menghampiri ketiganya lalu ikut tertawa sejenak. Ade yang baru tersadar langsung berdiri di tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KABAMAS [Selesai]
Fiksi RemajaMenang itu, bukan tentang siapa yang mendapatkan medali maupun piala. Bukan pula orang-orang yang menyimpan puluhan piagam di rumahnya. Tapi, menang itu adalah sebuah proses di mana seseorang bertekad untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik dibandi...
![KABAMAS [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310224513-64-k166125.jpg)