"Mohon maaf kepada gugus depan Panglima Ali Asar, kalian gugur malam ini juga. Sekali lagi jangan pernah berkecil hati, kegagalan adalah awal dari sebuah kesuksesan"
Ziva membulatkan matanya, secara otomatis gugus depan Pangeran Diponegoro menempati juara tiga. Sedangkan gudep Kabamas dan SAM memperebutkan juara 1 dan 2. Kita tidak pernah tahu gudep mana yang akan muncul sebagai juara.
"Kepada kakak-kakak dipersilahkan untuk keluar, setelah ada panggilan nanti baru boleh masuk kembali"
"Siap iya kak"
Ziva, Vika, dan Dila kembali duduk di dekat tangga, memikirkan soal apa lagi yang nantinya akan mereka berikan. Belum pernah tercatat dalam sejarah bahwa gugus depan SAM dapat dikalahkan oleh gugus depan lain. Malam ini sangatlah menentukan.
"Kalian lihat gak, sih, nilai kita tadi berapa?" tanya Dila dengan mata berbinar.
"Seratus hahah," bisik mereka meskipun dalam hatinya berteriak.
"Selanjutnya kita mau kasih soal yang gimana?" tanya Vika membuat kedua temannya berpikir keras.
Di bawah terdengar yel-yel yang begitu menggema dan saling bersahut-sahutan antara satu dengan yang lainnya. Fokus Ziva jadi terbuyar seketika. Sorot cahaya senter dari arah tangga nenyilaukan matanya, membuatnya semakin tidak bisa untuk berpikir.
"Dek, eh ini kalian?" tanya Kak Panji, Kak Pances, dan Kak Lidia berbarengan.
"Oalah senter Kak Panji rupanya," ucap Ziva.
"Iya, Kak. Dari tadi kami di sini gak ada yang nemenin, sedih banget," ucap Dila mendramatisir.
"Maaf, ya, Kakak-kakak tadi sibuk ngatur anggota yang lain"
Ketiganya hanya mengangguk memaklumi, kemudian terdiam karena memikirkan soal yang nantinya akan mereka tukarkan kepada lawan. Sudahlah Ziva tak lagi bisa berpikir saat ini.
"Aha, kakak tahu," ucap Kak Lidia bersemangat.
Mereka merapatkan formasi, Kak Lidia merangkul bahu Ziva dan Vika sambil berbisik-bisik. Kak Pances yang tidak diajak ke dalam formasi hanya mendengus sebal lalu mengambil tempat duduk di dekat mereka, kebetulan kursi di sana kosong.
"Ahahah iya, Kak, betul-betul," ucap ketiganya menyetujui ide dari Kak Lidia.
"Semangat, ya, kalian pasti bisa, kok"
"Siap! Semangat!"
Lima menit kemudian mereka memasuki ruangan. Mereka berhadapan dengan gugus depan yang sangat populer dengan segudang prestasi. Ziva melirik ke arah pakaian mereka, sangat sederhana, tak ada aksesoris lain selain kacu yang melingkar di leher. Berbeda jauh dengan yang ada di hadapan mereka, jujur ia sedikit minder saat ini.
"Baiklah kakak-kakak, silahkan kalian tulis sebanyak 5 soal di atas kertas ini lalu tukarkan kepada lawan kalian. Mengerti?"
"Siap mengerti!"
"Laksanakan"
Vika dengan cepat menyambar kertas tersebut. Ia berpikir cepat tentang soal-soal yang dirasa sulit untuk dijawab, salah satunya adalah keppres yang mengatur tentang gerakan pramuka.
"Keppres nomor berapakah yang mengatur tentang gerakan pramuka? Gimana?"
"Boleh tuh"
"Nomor dua, ya, apa yang dimaksud dengan kode kehormatan? Gimana?"
"Boleh, boleh. Nama pramuka saat Hindia Belanda boleh tu, Vika"
"Landasan idiil dan konstitutional gerakan pramuka juga"
KAMU SEDANG MEMBACA
KABAMAS [Selesai]
Teen FictionMenang itu, bukan tentang siapa yang mendapatkan medali maupun piala. Bukan pula orang-orang yang menyimpan puluhan piagam di rumahnya. Tapi, menang itu adalah sebuah proses di mana seseorang bertekad untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik dibandi...
![KABAMAS [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310224513-64-k166125.jpg)