Epilog

59 3 5
                                        

Hai! Aku Ziva. Seseorang yang tidak bisa beralih dari semua kenangan yang mengitarinya. Hmm ... kalian pasti akan mengatakan bahwa aku terlalu mencintai masa lalu, bukan? Sebenarnya tidak seperti itu.

Aku merasakan semuanya berubah, menjadi asing, menjadi hening. Berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan lima tahun ke belakang. Sebenarnya semuanya bisa baik-baik saja apabila mereka berada di sini, di tempat ini, bersamaku. Sayangnya sejak Kak Panji mengundurkan diri, satu persatu dari mereka meninggalkan ekstrakulikuler ini dan tidak pernah kembali. Bahkan aku tak tahu kabar mereka saat ini.

Aku bukannya tidak bisa berpaling dari masa lalu. Hanya saja semuanya berat untuk ku tinggalkan. Karena semua senyum dan kebahagiaan itu berada di sana. Jika saja mereka di sini, mungkin cerita indah itu akan bisa dikenang bersama-sama. Cerita bagaimana perjuangan untuk menegakkan kembali nama Kabamas. Dan cerita bagaimana kita bisa saling mengenal antara satu sama lain.

Kabamas tempat di mana Jihan menemukan keluarga keduanya, tempat di mana teman-teman menemukan saudara tak sedarahnya, tempat berjuang, tempat menangis bersama, dan tempat di mana aku menemukan semua hal yang selalu ku cari; petualangan. Kabamas menyimpan banyak cerita yang tidak mungkin untuk dilupakan. Kabamas memiliki tempat istimewa tersendiri di dalam hati dan tak akan pernah terganti.

Oh ya aku lupa menceritakannya, nama Kabamas sudah kembali resmi. Sudah berdiri kembali meskipun namanya belum tercantum jelas di depan sana. Kabamas sudah diakui, Kabamas tak lagi hina di mata warga sekolah. Semuanya berubah, seharusnya ini menjadi berita bahagia, bukan?

Ya, seharusnya apabila ini didengar oleh mereka juga. Aku? Sebenarnya aku hanya ingin mengembalikan semua temanku di sini, di bumi perkemahan ini. Aku merindukan mereka, benar-benar rindu. Canda tawa, suka duka, bahkan serangkaian kegiatan yang dilalui bersama. Aku merindukannya. Meskipun itu tak akan terulang kembali. Berulang kali Kak Rian menyuruhku untuk tidak menangis, tetap saja air mata ini lolos begitu saja.

Berada di sini seperti berada di taman mawar. Indah tapi penuh duri. Aku yakin kalian memahami maksudku. Senang tapi sakit ketika mengingatnya, begitulah kira-kira. Semua hal datang dan pergi pada waktunya. Hari ini aku mungkin kehilangan mereka, bisa jadi di kemudian hari aku akan kehilangan Kak Rian. Tidak ada yang tahu.

"Ziva! Ayo pulang!" teriak Rian yang sudah berjalan ke arah motornya.

"Sebentar, Kak"

Dengan cepat ku tutup buku diaryku, memasukkannya ke dalam tas sebelum Kak Rian meninggalkanku. Aku bersyukur karena masih dipertemukan dengan seseorang yang ku pikir tidak akan bisa ku temui lagi di kemudian hari. Kak Rian, seseorang yang membuatku bertahan di dalam organisasi ini. Kisah cintaku hanya sebatas patok tenda, tapi aku tak peduli karena kisah ini tidak hanya dituliskan untukku dan dirinya semata.

Motor Kak Rian melaju meninggalkan lingkungan sekolah dalam sekejap. Aku terdiam, memerhatikan langit yang begitu cerah pagi ini, seolah-olah semesta sedang menghiburku dengan keindahannya.

Semesta, biarkan tempat ini menjadi saksi bisu perjalananku bersama mereka, tentang suka dan duka bersama. Biarkan aku mengenangnya selama aku masih hidup di dunia yang fana.

Kabamas ... selamat tinggal. Aku pamit dulu, ya. Kapan-kapan aku berkunjung lagi, siapa tahu semua keinginanku bisa menjadi nyata suatu hari nanti.

Dan kepada seluruh teman-teman seangkatanku dan juga kakak seniorku, Kak Panji, Kak Pances, Kak Lidia, dan kakak yang lainnya. Terimakasih telah menjadi bagian dari ceritaku, meskipun hanya muncul dalam beberapa bagian saja. Percayalah, aku selalu merindukan kalian semua. Sehat selalu, ya, aku tahu kalian masih berada di tanah yang sama seperti yang ku pijak saat ini.

Ingatlah tidak ada yang menetap, semua hanyalah sesaat. Perkara waktu yang akan menjawab sampai kapan mereka akan tinggal bersamaku. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok, atau bahkan tahun-tahun setelahnya.

- Tamat -











Hai semuanya! Ku akhiri cerita ini sampai di sini, ya, karena sejatinya cerita ini tidak akan pernah usai untuk dituliskan. Oh, ya, jangan kalian pikir semua ceritanya adalah nyata ya teman-teman. Selalu aku sisipkan unsur fiksi di setiap babnya.

Terimakasih kepada teman-teman yang telah membaca cerita ini sampai akhir. Aku harap kalian tidak melewatkan satu part pun dalam cerita ini.

Terimakasih atas dukungannya sehingga cerita ini dapat berakhir tepat sesuai target yang ku buat. Hehe jangan bersedih, ya. Akan ada cerita-cerita menarik yang kemungkinan akan on going setelah yang satu ini.

Salam Pramuka dari Kabamas!

Bonus foto Kabamas 👇





Tara makjrengg!

(Foto yang diambil tepat setelah perlombaan perdana pada bulan Desember 2018)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Foto yang diambil tepat setelah perlombaan perdana pada bulan Desember 2018)

KABAMAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang