Marsha berjalan menuju meja piket, memutar instrumen senam kewer-kewer. Ia berdiri menjadi instruktur senam bersama Liza, Jihan, dan Ghina. Kebetulan memang mereka yang benar-benar hafal gerakan senam itu. Ziva berdiri di barisan paling belakang, melihat orang-orang disekitarnya yang sudah mulai asik bergoyang mengikuti instruktur. Tak lupa juga Rian yang berbaris paling depan, gerakannya kaku. Ah entahlah biasanya memang yang berada di barisan paling belakang yang paling asik gerakannya.
Ziva bergerak mengikuti teman-temannya, sesekali ia tertawa. Kalian tahu sebuah fakta? Ketika kita berada di dekat seseorang yang kita sukai. Tanpa sadar, lirikan mata kita langsung tertuju pada orang yang kita sukai. Benar? Dan itulah yang Ziva lakukan saat ini, tanpa ia sadari, setiap kali ia tertawa mata itu terus tertuju pada seseorang dengan baju kaos berwarna biru yang melekat pada tubuhnya-- Rian.
"Aduuhh capek. Istirahat sebentar, ya," ucap Marsha mengusap peluh di pelipisnya.
"Iya iya. Kenapa gak udahan aja, sih, Kak?" tanya Nadia yang sudah tak tahan lagi.
"Nasinya belum masak tuh. Jadi kita gak ada kegiatan. Senam bikin kita sehat juga loh"
"Tapi capek. Apalagi senam kewer-kewer"
"Capek banget, ya? Kalo gitu kita udahan dulu, ya. Terserah deh kalian mau ngapain"
Para anggota KabaMas berhamburan meninggalkan lapangan. Ada yang masuk ke tenda, masuk ke WC, dan juga ada yang masuk ke selokan karena tak melihat jalan saat berlari. Sekarang sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Kak Panji baru saja bangun ketika mendengar Wahyu dan Dion yang sibuk memukul panci dengan ranting pohon di dekat tenda. Setelah target mereka bangun, barulah mereka berlarian untuk bersembunyi.
Angin pagi ini berhembusan lembut. Menggoyangkan dedaunan menimbulkan suara-suara gesekan. Ziva duduk, menghadap ke arah cahaya matahari. Memperhatikan pepohonan kecil yang bergoyang, teman-temannya sudah sibuk bermain tanpa memedulikan dirinya yang entah kenapa pagi ini ingin menyendiri. Masih malu karena mengingat pernah tersandung patok tenda mungkin.
"Ziva, main yuk!"
"Enggak ah, gak minat"
"Ah gak asik. Masa kamu doang yang gak ikut main"
"Banyak noh. Kak Wahyu, Kak Dion, Kak Rian, Kak Rahmat, Kak Noris, Kak Bonge, Kak Ilham, Kak Nina, Kak Marsha, Kak Anna, Kak Anni, dan banyak lagi. Gak ikut main tuh"
"Gak sekalian kamu nyebutin semua nama mereka"
"Gak ah. Pegel bibir ini"
Teman-temannya memasang wajah sebal. Namun, satu menit kemudian Ziva ikut dalam permainan itu. Ia duduk, memerhatikan teman-temannya yang terus mendapatkan hukuman karena permainan penuh jebakan. Apalagi kalau bukan ToD. Sebenarnya Ziva tidak ingin memainkan permainan itu hanya karena jebakannya yang aneh-aneh. Tapi apa boleh buat.
"Alhamdulillah bukan aku yang dapet," ucap Ziva saat botol tersebut nyaris berhenti di depannya.
"Kebetulan aja itu. Biasanya juga dapet"
"Liza!" tegas Dayang menatap Liza tajam.
"A-apa? Jangan aneh-aneh deh"
"Truth Or Dare?"
"Truth"
"Aku tahu, kok, kamu juga suka sama seseorang di sini. Kamu lagi suka sama siapa? Sejak kapan?"
Liza terdiam, Liza adalah seseorang berkulit putih dengan pipi yang tembam. Matanya sipit hampir seperti orang China, tapi suaranya tidak ada lembut-lembutnya jujur saja.
"A-aku? Ngapain, sih, kalian nanyain begituan? Bukannya wajar, ya, kalo ada cinta lokasi di Buper?"
"Karena itu kami nanya, Liza. Mustahil gak ada jatuh cinta di Buper"
KAMU SEDANG MEMBACA
KABAMAS [Selesai]
Novela JuvenilMenang itu, bukan tentang siapa yang mendapatkan medali maupun piala. Bukan pula orang-orang yang menyimpan puluhan piagam di rumahnya. Tapi, menang itu adalah sebuah proses di mana seseorang bertekad untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik dibandi...
![KABAMAS [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310224513-64-k166125.jpg)