Suara guru yang berteriak melalui mikrofon sudah terdengar sejak beberapa menit yang lalu. Siswa siswi yang baru saja memasuki gerbang langsung berlarian menuju kelasnya masing-masing. Ziva berjalan santai menuju lapangan utama masih dengan seragam olahraga SD-nya. Maklum kelas 8 saja belum mendapatkan baju olahraga dari sekolah, apalagi kelas 7 nya.
Sesampainya di lapangan, ia langsung mengambil barisan tengah. Tidak terlalu ke belakang karena takut tidak mendengar instruksi. Hari ini adalah hari Jum'at, jadwal dimana mereka akan melaksanakan jalan santai dengan rute yang cukup jauh. Siswa-siswi mulai berjalan dari urutan kelas 7 yang lebih dulu hingga kelas 9 yang berjalan paling akhir.
Ziva melihat sesosok yang ia kenali. Seorang kakak seniornya yang sering kali ia lihat tanpa mengetahui namanya dan juga menjumpai beberapa teman seangkatannya yang hanya ia kenali wajahnya saja. Semua butuh proses untuk mengenal satu sama lain, bukankah begitu? Ya, sepertinya memang begitu.
"Ziva, kenapa jalannya pelan banget sih?" tanya salah seorang temannya.
"Ya, namanya juga jalan. Kalo cepat itu, ya, lari"
"Tapi, kan, kita ketinggalan jauh"
"Enggak. Tuh di belakang kita masih banyak orang"
"Tapi, orangnya gak ada yang aku kenal"
Ziva menoleh ke belakang dan benar saja banyak sekali para siswa yang berjalan di belakangnya dengan tatapan yang biasa saja sebenarnya. Ziva saja yang terlalu percaya diri. Ia menelan ludahnya berusaha sekuat tenaga berjalan lebih cepat agar tidak berjalan di antara para siswa kelas 8.
Ia terhenti di dekat sebuah pohon dan beristirahat sejenak. Ziva juga lelah membenarkan sepatunya yang terus terinjak oleh orang lain dan hampir terlepas karena ukurannya yang sedikit kebesaran. Seseorang menghampirinya dan mengajaknya untuk lanjut berjalan.
"Ayok lanjut. Kenapa berhenti?"
"Capek, Kak. Bentar doang istirahatnya"
"Ish kamu udah ketinggalan loh. Teman kamu udah gak tau kemana itu. Emang mau jalan bareng sama kakak?" tanya kakak itu.
"Eng-enggak. Aku kelas 7 sendiri di sini hehe, takut"
"Makanya jalan. Tuh kan ditinggal"
"Emang nyebelin! Ditinggal pula," batin Ziva.
Ia tersenyum sekilas lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan kakak seniornya yang sudah ikut berjalan di belakangnya. Ia sesekali melihat ke belakang, memperhatikan baju yang dipakai oleh kakak itu, berwarna biru sendu dengan motif minimalis. Mereka mengenakan pakaian kaos bebas dengan celana training. Pandangan mata Ziva bertemu dengan kakak itu lalu dengan segera ia mengalihkan pandangannya.
"Yan. Liatin apa sih sampai gak denger kalo kita ngomong?" tanya seseorang di sebelah kakak itu.
"Em gak ada. Cuma liatin pemandangan doang, rasanya tuh kek adem gitu kalo lagi jalan santai. Lihatin pepohonan dengan nuansa pedesaan"
"Rian, lebay banget sih kata-katanya"
"Lah emang bener. Mau gimana lagi? Masa iya aku mau bilang sedang melihat sosok bidadari yang turun dari khayangan, tersangkut di atas pohon dan tidak bisa turun"
"Dah dah mulai ngawur omongannya"
Ziva hanya terdiam sejak tadi. Ia berjalan tanpa sepatah katapun yang ia lontarkan selama kakinya berjalan. Ia fokus mendengarkan pembicaraan orang-orang di belakangnya, masih mencari siapa sosok dibalik nama Rian. Ziva menoleh ke belakang, melihat baju kakak seniornya itu pada bagian dada kiri. Tertulis sebuah nama singkat di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
KABAMAS [Selesai]
Teen FictionMenang itu, bukan tentang siapa yang mendapatkan medali maupun piala. Bukan pula orang-orang yang menyimpan puluhan piagam di rumahnya. Tapi, menang itu adalah sebuah proses di mana seseorang bertekad untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik dibandi...
![KABAMAS [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/310224513-64-k166125.jpg)