DELAPAN BELAS⚔

1.3K 75 0
                                        

Seorang gadis berjalan seraya membawa sebuah boneka. Langkahnya  sesekali diselingi lompatan kecil menandakan betapa senangnya dia saat ini. Ina menguncir rambutnya dengan rapi, bahkan memakai pita berwarna hitam membuatnya tampak cantik. Selain pita dia juga memakai baju berwarna hitam bak ingin menghadiri pemakaman.

Ina mengetuk pintu dengan bersemangat. Dia terus mengetuk sampai orang yang di dalam merasa kesal.

"Siapa!?" teriak seorang laki-laki.

Ina mengerjap polos. "Halo paman, Aku teman Anne," ucapnya pada pria paruh baya yang baru membuka pintu.

Orang tersebut lantas mengernyit heran. "Apa dia punya teman?" bisiknya.

Laki-laki itu menatap ke arah remaja yang sangat cantik di depannya. Ia membasahi sudut bibirnya. "Anne sedang pergi sebentar. Tunggulah di dalam."

"Iya," Ina tersenyum senang.

Paman Anne mempersilakan Ina duduk. Dia pamit mengambilkan segelas air untuknya. Tangan Ina dengan pelan meremas boneka yang ia bawa. Senyumnya tak pernah luntur.

"Sejak kapan kamu berteman dengan Anne?" tanya Paman Anne sambil membawa gelas.

"Belum lama ini kami tak sengaja bertemu di jalan. Dia memberi tahu rumahnya ada di sekitar sini."

Pantas saja dia mau ke sini

"Sering-seringlah datang. Anggap saja rumah sendiri."

"Tentu," Ina tersenyum semakin lebar.

Perlahan Paman Anne mulai mendekati Ina. Ina lantas menatap heran.

"Sekarang hampir malam. Apa orang tuamu tidak melarangmu pergi keluar?"

"Aku tinggal sendiri," jawab Ina sedih.

Paman Anne segera menggenggam tangan Ina. "Maaf ... kalau begitu menginap saja malam ini."

"Benarkah?" tanya Ina tersenyum berharap.

Paman Anne yang menggenggam tangan Ina mulai merubah posisinya. Dia meraba paha Ina sedikit demi sedikit. Setelah memegang paha Ina, tangannya semakin menjalar ke atas. Ina segera berdiri dengan ekspresi kaget.

"A-aku mau ke kamar mandi. Dimana letaknya?" ucap Ina gemetaran.

"Lurus lalu belok kiri," balas Paman Anne.

Bukannya berjalan ke arah yang ditunjuk Paman Anne, Ina malah keluar lewat pintu belakang.

"Hei!" teriak seseorang dari belakang.

Ina segera berlari mendengar teriakan Paman Anne. Dia berlari ke arah hutan. Paman Anne terus mengikutinya.

Di sisi lain ada seorang gadis yang melihat pintu rumahnya terbuka. Anne baru saja pulang bekerja. Dia mencari sosok pamannya namun tidak menemukan siapa pun disana. Ia tidak terlalu memikirkannya dan segera menutup pintu.

Ina seakan menggiring paman Anne menuju suatu tempat. Ya, tempat yang sangat Ina kenal. Itu adalah sebuah tebing tempat Arthur menghilang. Ina seketika berhenti di sana. Paman Anne melihat Ina seperti tikus yang terjebak dalam perangkap.

"Mau kemana kamu?" Paman Anne sedikit menjilat bibirnya menatap Ina.

Ina berekspresi ketakutan. Tubuhnya bahkan terlihat bergetar.

"Ini bukan tempat yang buruk," ujar Paman Anne melihat sekelilingnya.

Ina tak menjawab membuat Paman Anne semakin menatapnya dengan tatapan yang menjijikan. Paman Anne mulai mendekatinya. Tetapi sebelum dirinya bisa melakukan lebih jauh, Ina dengan sigap menendang perutnya.

SereinaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang