LIMA LIMA⚔

611 29 4
                                        

Tak Tak Tak

Suara-suara kecil bergema memenuhi gendang telinga. Jari jemari dengan lihai memainkan pion di atas papan. Lawan bermainnya memiliki ekspresi yang sangat serius membuat Ina menghela nafas pelan.

"Jika terlalu sulit, mungkin kita bisa berhenti di sini."

"Diam, Aku sedang berfikir." Benjamin meletakkan pion catur dengan ragu-ragu.

"Ini cukup membosankan," desah Ina.

"Kamu tidak tahu ya, kalau Aku selalu menang melawan teman-temanku," ucap Benjamin tidak terima.

"Mereka pasti mengalah atau sudah pikun," balas Ina ringan.

"Hufft! Jadi, sekarang apa yang mau kamu lakukan?"

Benjamin bertanya perihal lain. Beberapa hari yang lalu, Ina memintanya untuk menolong seorang pemuda yang entah darimana datangnya. Benjamin yakin bahwa ini salah satu bagian rencana Ina. Mendengar pertanyaan Benjamin, Ina terdiam beberapas saat.

"Melawan musuh yang kuat itu perlu strategi. Kita bisa melakukannya perlahan seperti ini." Ina mengangkat satu pion. "Karena hal kecil tidak akan terlalu berpengaruh jika hilang. Tapi... jika semua itu hilang, maka tentunya akan berdampak pada pertahanannya," lanjutnya seraya meletakkan pion.

"Jadi kita harus melawan yang lemah dulu, lalu yang kuat?"

"Tidak selalu. Kalau ada kesempatan bagus, kita bisa menyerangnya bahkan jika dia kuat."

"Lalu, apa hubungannya dengan kamu menolong laki-laki itu?"

"Pamanku itu tidak terlalu kompeten. Dia bisa hidup tenang sampai sekarang pasti ada alasannya. Seseorang membantunya dari belakang."

"Dari belakang..." gumam Benjamin.

"Dalam peperangan yang nyata, seorang raja bisa memberikan titah untuk memulai perang. Jika dihadapkan dengan seribu pasukan, maka yang bisa mengalahkannya juga harus memiliki seribu atau lebih pasukan. Kita perlu angka yang sebanding."

Benjamin terus memikirkan kata-kata Ina yang berbelit-belit. "Sebanding, itu artinya... kamu pasti bercanda."

Mata Benjamin seketika terbelalak. Di dalam otaknya terdapat kesimpulan yang begitu gila. Dia yang sudah lama berada di dunia bisnis tentunya mengetahui dengan jelas bagaimana keadaan di dalamnya.

"Itu berbahaya!" kata Benjamin mengartikan ketidaksetujuannya.

"Anda tahu bahwa anda tidak bisa menghentikan saya."

"Kalau kamu mau, kamu bisa hidup dengan bebas sekarang. Aku akan selalu melindungimu," kata Benjamin dengan nada yakin.

"Saya hanya ingin berdiri dengan kaki saya sendiri." Ina tersenyum tenang.

Terlalu menyakitkan jika kehilangan orang yang sangat disayangi. Oleh karena itu, Ina tidak ingin bersandar dengan orang lain. Dia tidak ingin merasakan hal yang sama seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya.

"Anda kalah."

Ucapan singkat Ina membuat Benjamin tersentak tak percaya. Dia kembali fokus ke papan catur. Di sisi lain, Ina segera berdiri dari duduknya.

"Terimakasih atas bantuan anda, Kakek." Ina menundukkan kepalanya hormat.

Melihat kepergian Ina, Benjamin hanya bisa menghela nafas pasrah.

Kemudian, Ina berjalan melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan di mansion Benjamin. Dia mengetuk pintu, lalu membukanya tanpa terburu-buru.

"Anda di sini."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SereinaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang