Tak terasa, kini Ina sudah menginjak tahun ketiga di SMA. Selama satu tahun, dia terus melebarkan sayapnya di industri hiburan. Meski ia masih mengalami konflik dengan Julia, sejauh ini dia cukup bisa mengatasinya. Selain itu, sekarang baik Xavier maupun Xaria juga sudah menyesuaikan diri di tempat masing-masing. Xavier yang memiliki bakat di bidang otomotif membuatnya cepat belajar. Dia bahkan selalu dipuji-puji oleh bosnya karena kepiawaiannya. Sedangkan Xaria, sekarang sekarang dia semakin dipercaya oleh Julia. Dia bahkan sering mendengarkan curahan Julia hingga memberikan saran. Xaria juga semakin lihai dalam berakting sebab ia selalu mendengarkan ajaran Ina. Namun, selama dua tahun ini mereka sama sekali tidak mendengar berita tentang Noah. Meski begitu, Ina yakin kalau Noah akan baik-baik saja.
Di suatu tempat pada waktu yang berbeda, seorang pemuda berkacamata sedang sibuk membaca buku. Semuanya tampak normal, tetapi dia malah membaca buku sambil berjalan. Orang-orang yang berada di koridor reflek menyingkir ketika melihatnya. Tapi tiba-tiba...
Duk
Brukk
Buku yang dipegang jatuh ke lantai. Semua orang yang melihat kejadian itu seketika menahan nafasnya.
"Hei, kalau jalan itu lihat-lihat," ucap pemuda yang tadi tidak sengaja tertabrak.
"Shusst, diam! Memang kamu tidak tahu dia siapa?" Kode seseorang yang tampaknya adalah teman pria itu.
"Siapa dia?" tanya pemuda itu karena terkejut mendengar respon temannya.
"Dia itu 'si gembok besi' yang Aku bicarakan," bisik temannya itu.
Pria itu seketika menjadi panik. Dia memang siswa baru di sekolah. Dia mendengar kisah tentang orang yang dijuluki "gembok besi". Jika kamu membuatnya tersinggung, maka dia tidak akan membiarkanmu lari dengan mudah. Padahal, sebenarnya rumor itu tidak benar serta hanya dibesar-besarkan.
"M-maafkan Aku, Aku salah! Aku murid baru, jadi tidak tahu! Aku benar-benar minta maaf." Pria itu berucap dengan peluh yang menetes.
Noah dengan santainya mengambil buku yang terjatuh. Dia melihat orang di depannya menunduk begitu rendah. Dia menaikkan satu alisnya heran.
"Hemm." Noah tak memperdulikan orang di sekitanya dan segera pergi.
"Huh... Aku selamat..." desah pria itu diiringi orang-orang yang ikut menghembuskan nafas lega.
***
Kini Ina sedang menikmati secangkir teh buatan Xaria. Semakin lama keahlian Xaria menyeduh teh semakin bagus. Ina sendiri sangat menyukainya hingga beberapa kali dia memberikan pujian. Ina duduk tenang seraya membiarkan angin menerpa dirinya pelan. Sayup-sayup, ia melihat Xaria dan Xavier mendekat.
"Kakak, Aku membawa kue," ujar Xaria sambil menyerahkan piring.
Ina mengambilnya tanpa banyak bicara.
"Aku senang sekali kita bisa berkumpul bersama," kata Xaria melebarkan senyumnya.
"Tapi setiap kali melihatmu itu benar-benar sangat menyebalkan," tukas Xavier sinis.
"Apa?! Kurang ajar!"
Xaria mendekati Xavier hendak memukulnya. Dia sudah mencengkeram kerah baju milik Xavier. Tangan kanannya terkepal, bersiap meninju pipi Xavier. Namun aksinya seketika terhenti setelah mendengar penuturan Ina.
"Hentikan. Kita akan kedatangan tamu."
"Tamu? Siapa?"
Xaria maupun Xavier seketika melihat arah pandang Ina secara serempak. Mereka melihat siluet seseorang berjalan mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sereina
FantasyBELUM REVISI (18+ banyak adegan kekerasan dan manipulatif. Diharapkan untuk tidak meniru maupun melakukan hal-hal tersebut di kehidupan nyata. Cerita ini hanya fiksi semata.) Seorang anak harus menyaksikan kematian tragis dari kedua orang tuanya. Da...
