Mansion Bailey dipenuhi orang-orang yang ingin berbela sungkawa. Kemudian, seorang gadis mengenakan gaun hitam memasuki ruangan. Dia berjalan melewati orang-orang menuju ke depan peti mati. Entah apakah di dalamnya kosong atau ada mayat orang lain. Gadis itu menatap peti mati mewah yang kini tertutup rapat. Lalu ia menelisik setiap detail di sekitar peti mati. Bunga-bunga dirangakai begitu indahnya. Sayangnya tidak ada foto dirinya disana. Tentu saja, tidak mungkin Jeremy akan menaruh foto saat dia masih berusia sembilan tahun. Wajah gadis itu tertutup oleh topi fedoranya yang lebar sehingga orang-orang di sekitarnya tidak akan dapat melihatnya ekpresinya saat ini.
"Permisi, anda siapa?" tanya seseorang dari belakang.
Deg
Itu adalah suara yang sangat Ina kenal. Suara yang selama ini menjadi mimpi buruknya. Ina membalikkan badannya. Dia menatap seorang laki-laki paruh baya yang sekarang menatapnya keheranan. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah delapan tahun lamanya. Ina memandang Jeremy sambil menyunggingkan senyum manisnya. Tak ada celah sama sekali dalam mimik wajahnya walaupun ia sedang berhadapan dengan orang yang paling dia benci.
"Ah, halo... saya teman sekelas Julia," Ina menyapa ramah.
Jeremy memandang Ina seksama. Jeremy tahu betul teman-teman dekat Julia. Dia belum pernah melihat gadis di hadapannya sama sekali. Walau begitu, dia tetap bersikap sopan.
"Oh begitu."
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya sepupu Julia," ujar Ina.
"Terimakasih," Jeremy tersenyum tipis.
"Boleh saya tahu bagaimana beliau meninggal?" tanya Ina ringan tapi cukup mengejutkan.
"Keponakanku meninggal karena sakit. Setelah orang tuanya meningga, dia langsung terkena penyakit mental. Dan ternyata... ini juga berdampak pada kesehatan fisiknya," balas Jeremy sedih.
"Astaga, itu sangat menyedihkan."
Jeremy tidak melihat ada sedikit kilatan di mata Ina. Tak berapa lama, Jeremy melihat sosok Julia. Dia mengkode Julia untuk berjalan mendekat.
"Ada apa Ayah?" tanya Julia.
"Temanmu datang, sapalah dia."
Julia yang kini menyadari kehadiran Ina segera melebarkan matanya.
"Hai, kita bertemu lagi," kata Ina seraya tertawa lembut.
"Ada apa, Julia?" Jeremy menyadarkan Julia yang hanya berdiri terpaku.
"Ah, kamu datang?" Julia tersenyum dengan paksa karena tidak ingin terlihat buruk dimata ayahnya.
"Turut berduka atas meninggalnya sepupumu."
Ina menggandeng tangan Julia yang dibalas dengan canggung. Sejujurnya dia sangat ingin menghempaskan tangan Ina dengan kasar. Tetapi, dia tidak bisa melakukannya karena pastinya akan mengundang perhatian orang-orang di sekitar.
"Kalian cukup dekat?"
Entah mengapa Jeremy merasa familiar saat melihat gadis di depannya. Dia mengingat-ingat apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun, dia tidak dapat menemukan gadis itu dalam ingatannya. Akhirnya dia berasumsi bahwa mungkin dia baru saja mengalami deja vu.
"Ah, kita cuma teman kelas," sanggah Julia cepat.
"Walau begitu kita juga sering berinteraksi," lanjut Ina.
"Benarkah?"
"Emmm, ayah... sepertinya ada banyak tamu penting yang baru datang." Julia berupaya mengalihkan perhatian Jeremy.
"Kalau begitu, kalian berbincanglah. Ayah akan menyambut tamu yang lain."
Jeremy segara meninggalkan mereka berdua. Baik Ina maupun Julia mengangguk sambil tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Julia sengit.
"Tentu saja menghadiri pemakaman," tukas Ina santai.
"Untuk apa?" tanya Julia kesal.
"Hanya penasaran."
"Kalau sudah, pergilah," Julia hendak meninggalkan Ina.
"Itu 'dia' bukan?"
Pertanyaan Ina membuat tubuh Julia seketika menengang.
"Apa maksudmu?" tanya Julia.
"Dia adalah orang yang kehadirannya sangat menganggumu hingga kamu melampiaskan kebencianmu padaku."
Julia terdiam sejenak. "Lalu kenapa? sekarang dia sudah mati," tukas Julia dengan nada rendah karena takut ada yang mendengarnya.
"Sungguh luar biasa. Menikmati kematian seseorang dan menganggap pemakaman selayaknya pesta kemenangan," timpal Ina.
"Memangnya kamu tahu apa?" cecar Julia tidak terima.
"Entahlah, Aku cuma merasa iba dengannya." Ina melirik peti mati yang semakin dilihat semakin tampak memprihatinkan.
Ina berjalan melewati Julia. "Apa kamu tidak takut kalau dia akan berubah menjadi hantu dan membalaskan dendamnya?" bisik Ina di telinga Julia.
Melihat kepergian Ina Julia pun membalas. "Persetan dengan hantu."
***
Ina memandang ke setiap sudut mansion. Tempat ini adalah rumahnya dulu. Dia sering berlarian untuk menyambut kedatangan ayahnya yang pulang kerja. Ketika dia melewati taman, dia ingat bahwa dia sering menghabiskan waktu bersama ibunya disana. Mendengarkan semua kisah menarik bahkan melihat ibunya yang menampilkan akting memukaunya. Sekarang, semua itu hanyalah kenangan yang indah.
Ina tak menyadari bahwa sapuan kenangan itu membuat dirinya tanpa sadar mencengkeram telapak tangganya hingga meninggalkan bekas. Ina menarik nafas pelan, berusaha menenangkan dirinya. Akibat matanya yang terlalu fokus melihat taman, dia tidak sengaja menabrak seseorang. Sosok yang tidak sengaja Ina tabrak adalah seorang pria bertubuh tinggi. Padahal Ina sendiri sudah termasuk tinggi di kalangan perempuan. Tingginya sekitar 178 cm, namun dia tampak kecil di depan pria itu. Mungkin tinggi pria itu sekitar 190 cm.
Ina menunduk sedikit sebagai tanda permintaan maaf. Lalu, dia melenggang pergi tanpa menyaksikan wajah pria itu dengan seksama. Pria itu berjalan beberapa langkah, tapi segera terhenti. Dia menyaksikan punggung Ina yang semakin menjauh. Lalu, seorang laki-laki berlari ke arahnya dengan keringat membasahi dahinya.
"Ada apa Tuan?" tanya laki-laki itu pada pria bertubuh tinggi.
"Tidak ada," balas pria itu dengan suara rendah.
Walau sekilas, pria itu dapat melihat dengan jelas wajah gadis yang baru saja bertabrakan dengannya. Dia tidak mengindahkan wajah gadis itu yang sangat cantik. Namun, dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada ekpresi gadis itu. Memang, ekpresinya tampak sangat tenang dan santai. Tetapi, mata terkadang tidak bisa berbohong. Gadis itu memiliki mata yang begitu dalam. Mata itu tampak memiliki kebencian yang sangat besar. Meski begitu, gadis itu sangat pandai dalam menyembunyikannya. Orang-orang di sekitar gadis itu mungkin saja tidak terlalu memperhatikan hal ini.
Holaaa aku kembali😁
Gimana kabarnya hari ini?😃
Masih semangat buat nungguin Ina kan hehe😉
Disini ada yang kangen Noah? Ayo siapa aja yang kangen?😋
Kalau kalian kangen sama Noah dan pengen cepet-cepet ketemu dia, boleh dong kasih like sama komennya kakak😍🤩
Oke deh segitu dulu!!!
Sampai jumpa di next episode!😚
KAMU SEDANG MEMBACA
Sereina
FantasíaBELUM REVISI (18+ banyak adegan kekerasan dan manipulatif. Diharapkan untuk tidak meniru maupun melakukan hal-hal tersebut di kehidupan nyata. Cerita ini hanya fiksi semata.) Seorang anak harus menyaksikan kematian tragis dari kedua orang tuanya. Da...
