Akhir-akhir ini ada rumor tentang Ina. Dikatakan bahwa Ina sebenarnya memiliki attitude yang buruk. Apa yang orang-orang ketahui tentangnya adalah palsu dan sekedar untuk pencitraan. Tetapi, banyak yang tidak mempercayai rumor itu karena tidak ada bukti sama sekali. Ina sendiri merasa bahwa dalam beberapa waktu terakhir dirinya seperti sedang diikuti. Saat akan kembali ke kamarnya, Ina dengan cepat berbelok ke arah lain. Dia melihat bayangan seseorang yang tadi mengikutinya mendekat ke arah kamarnya.
"Sial, kemana dia pergi?" gumam orang itu.
Orang yang selalu menguntitnya ternyata tidak lain adalah Vera. Tentu saja dia dapat dengan mudah mengakses kamar karena dia merupakan teman sekamar Ina. Kemudian, Ina juga menebak bahwa rumor itu muncul karena perbuatan Vera. Vera terus mengikutinya untuk mencari bukti dalam upaya membenarkan rumor yang dia ciptakan. Sayangnya, Ina langsung menyadarinya. Dia dengan tenang mengintip apa yang sedang Vera lakukan.
Drrtt drrtt
"Ya? Maaf saya belum menemukan celah sama sekali," kata Vera sopan saat berbicara pada orang yang baru saja meneleponnya.
"Sudah dua minggu dan tidak ada hasil?"
"Saya berjanji akan segera menyelesaikannya. Hanya butuh waktu sedikit lagi," balas Vera saat penelepon nampaknya marah mendengar ucapannya.
"Terserahlah!"
Sang penelepon mematikan telepon secara sepihak membuat Vera ikut kesal.
"Memangnya mudah melakukannya? Sialan, dia cuma bisa menyuruh-nyuruh."
Ina memang tahu kalau Vera membencinya. Namun, dia sedikit terkejut karena Vera kini dengan berani berupaya menjatuhkannya. Dia juga memahami bahwa ada seseorang di belakang Vera. Dan orang itu kemungkinan besar yang tadi berbincang dengan Vera di telepon. Ina sendiri sudah bisa menebak siapa orang itu.
Saat Vera memandang kasur miliki Ina, matanya menangkap boneka kelinci hitam. Dia mengambilnya membuat mata Ina sedikit menajam.
"Boneka yang sangat jelek. Persis seperti pemiliknya yang kampungan, eewww." Vera memutar-mutar boneka itu, melihat setiap inci bonekanya.
"Ughh, kekanak-kanakan sekali."
Tepat saat itu matanya tak sengaja menangkap resleting yang ada di bagian belakang boneka. Dia pun reflek hendak membukanya. Tapi sebelum dia sempat melakukannya, terdengar suara yang membuatnya seketika berhenti.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Ina pelan.
Vera sedikit panik, tetapi segera berusaha membuat mimik wajahnya normal kembali. "Tidak ada, hanya mau mengambil jerit rambutku."
"Lalu kenapa kamu memegang bonekaku?" tanya Ina.
Mendengar ucapan Ina, Vera buru-buru memberikan boneka itu ke tangan Ina. "Aku hanya mau melihat dari dekat karena boneka ini mengganggu pemandangan. Ternyata lebih jelek kalau dilihat dari dekat. Sudahlah!"
Vera dengan langkah tergesa-gesa keluar kamar sebab takut perbuatannya akan diketahui Ina. Di lain sisi, Ina dengan santai memandangi bonekanya. Jika saja dia sedikit terlambat, mungkin dia akan menancapkan belati itu di tubuh Vera.
"Sangat menganggu," tukas Ina.
***
Pergerakan Ina benar-benar semakin terbatas. Di luar pun, dia tidak bisa beraktivitas dengan nyaman. Karena setiap ada waktu, Vera akan mengikutinya. Bahkan Ina tidak bisa menemui Benjamin selama dua minggu Ini. Sekarang pun Vera masih saja mengikutinya. Ina hanya bisa berjalan-jalan di area pertokoan dan membeli beberapa merchandise kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sereina
ФэнтезиBELUM REVISI (18+ banyak adegan kekerasan dan manipulatif. Diharapkan untuk tidak meniru maupun melakukan hal-hal tersebut di kehidupan nyata. Cerita ini hanya fiksi semata.) Seorang anak harus menyaksikan kematian tragis dari kedua orang tuanya. Da...
