Kali ini Ina mendapat sebuah project baru, yaitu membintangi sebuah film bertemakan keluarga. Dia juga mendapat berbagai tawaran untuk menjadi model dalam iklan. Berkat itu, karirnya semakin naik dari hari ke hari.
Saat ini dia sedang menuju ke lokasi syuting. Ketika sampai, dia tidak sengaja menabrak seorang laki-laki. Ina segera meminta maaf dan hendak pergi tanpa melihat wajah orang di depannya.
"Tunggu," kata orang itu.
"Ya?" Ina berbalik pelan.
"Kamu Auristela?"
"Iya."
"Hai, Aku Eric." Eric lantas menyodorkan tangannya meminta berkenalan.
"Stela," balas Ina seraya menyambut tangan Eric. "Kalau begitu, sampai jumpa lagi."
"Kamu tahu, kita satu sekolah," ucap Eric berusaha memperpanjang percakapan mereka.
"Aku tidak tahu," jawab Ina seakan tidak tertarik.
Senyum di wajah Eric sedikit membeku, namun dia berusaha untuk tidak terlihat tersinggung. "Tentu saja, Aku dari kelas menyanyi."
"Jadi begitu..."
"Emmm, Aku yang akan mengisi soundtrack di film ini," jelas Eric.
"Selamat untukmu," puji Ina singkat. "Sepertinya Aku harus pergi." Ina melirik seorang kru film yang memanggilnya dari jauh.
"Oke... Bisakah kita mengobrol lebih lama lain kali?"
"Tentu."
Eric menatap punggung Ina sambil berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa bertemu lagi. Di sisi lain, Ina tampaknya tidak terlalu peduli dengan keberadaan Eric dan bahkan merasa sedikit terganggu olehnya.
***
Saat ini Ina dan Lia sedang berjalan menuju kantin sekolah. Mereka berbincang-bincang ringan selama perjalanan. Tetapi sebelum sampai, mereka melihat kerumunan siswi di koridor. Beberapa bahkan berteriak tidak jelas.
"Apa yang terjadi?" tanya Lia.
"Entahlah." Ina mengangkat bahunya tanda tak tahu.
"Bagaimana kalau kita lewat jalan lain saja?" tawar Lia.
"Ide yang bagus," balas Ina setuju.
Sebelum mereka sempat melangkah, tiba-tiba terdengar panggilan di antara kerumunan tersebut.
"Stela!!"
Para siswi pun sontak sedikit menyingkir dan memberikan jalan pada orang yang tadinya berada di kerumunan. Setelah itu, terlihatlah laki-laki dengan seragam disertai dasi berwarna hijau.
"Kita bertemu lagi," sapa laki-laki itu.
Siswi-siswi di sekitar menjadi heboh karena Eric sang penyanyi yang sudah terkenal dari kecil menyapa Ina, yang merupakan siswi teladan dan sedang naik daun saat ini.
"Halo," sapa Ina ringan seraya berusaha mengontrol ekspresinya.
"Kalian saling kenal?" ujar Lia takjub melihat interaksi keduanya.
"Kebetulan kami bertemu di lokasi syuting minggu lalu," timpal Eric ramah. "Ngomong-ngomog, kamu temannya Stela?" lanjutnya.
"Ah iya, namaku Cordelia."
Mereka pun saling berjabat tangan dengan sopan. Cordelia yang melihat Eric diam-diam melirik Ina segera mengambil inisiatif bertanya untuk membuka percakapan.
"Apa yang sedang anda lakukan di sini?"
Gedung setiap jurusan memang berbeda dan letaknya pun tidak berdekatan. Sehingga, beberapa murid yang melihat kehadiran Eric juga bertanya-tanya tentang hal itu.
"Oh, Aku ada urusan dengan Tuan Arnold."
Lia masih sedikit bingung mengapa Eric memiliki urusan dengan salah satu guru di jurusan akting. Tetapi dia tidak bisa menanyakannya lebih lanjut walaupun dia sangat penasaran.
"Aku mengerti." Lia menganggukkan kepalanya pelan.
"Ngomong-ngomong, kalian mau pergi kemana?" tanya Eric mencoba akrab.
Karena pandangan Eric tertuju pada Ina, mau tidak mau Lia segera mengkode Ina dengan menyikutnya. Dia memberikan tatapan penuh arti agar kali ini Ina yang berbicara.
"Kami akan pergi ke kantin," balas Ina.
"Kebetulan sekali Aku juga belum sarapan. Bolehkah Aku ikut bersama kalian?"
Ina memandang Lia yang terus menatapnya dengan jengah. "Apakah anda sudah menyelesaikan urusan anda?" tanya Ina dengan nada agak datar.
"Tidak apa-apa, Tuan Arnold masih memiliki beberapa urusan," balas Eric.
Melihat Ina yang masih diam saja tanpa membalas permintaan Eric menjadikan Lia kembali berinisiatif. "Kalau begitu, jika anda mau ayo kita pergi ke kantin bersama."
Mereka bertiga akhirnya berjalan berdampingan menuju kantin. Kali ini tidak hanya siswi, tetapi para siswa pun kini ikut heboh. Bahkan beberapa dari mereka ikut mengekor di belakang.
Begitu juga saat mereka sampai di kantin. Mereka segera menjadi pusat perhatian karena sangat mencolok. Di antara kerumunan, Julia, Medeline, dan Kylie turut menyaksikan peristiwa itu. Mereka awalnya ingin meninggalkan kantin, tetapi tak sengaja melihat pemandangan tersebut.
"Yang benar saja. Eric disini? Bersama mereka juga?" tukas Kylie tak percaya sekaligus iri sebab dia adalah fans Eric.
"Apa yang dia lakukan disini?" timpal Medeline ikut tidak senang.
Julia tidak mengatakan apa-apa. Meski dia tidak mengidolakan Eric, dia juga kesal dengan situasi saat ini.
"Apa-apaan! Ericku tersenyum bersama gadis itu!" Kylie semakin menjadi-jadi melihat interaksi akrab antara Eric dan Ina.
Dalam tempat yang sama, seorang gadis mengepalkan tanganya kesal saat melihat Ina. Dia melewati kerumunan dengan emosi. Bahkan cara dia lewat cukup kasar yang membuat beberapa siswi protes padanya. Entah karena matanya yang tidak fokus atau dia yang memang tidak bisa mengendalikan tubuhnya, dia menabrak Medeline. Guncangan itu membuat kopi di tangan Medeline tumpah hingga mengenai badannya.
"Hey! Dimana kamu meletakkan matamu, brengsek," ujar Medeline marah melihat seragamnya kotor.
"Apa kita harus mengejar perempuan jelek itu?" tanya Kylie.
"Tentu saja! Lihat apa yang dia lakukan. Sialan!" Medeline berdecak marah.
"Gadis itu..." gumam Julia sambil berpikir sejenak.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Kylie penasaran.
"Tidak. Tapi Aku pernah melihatnya di suatu tempat," balas Julia ringan.
"Jadi, apakah kita akan memberinya pelajaran?" timpal Medeline.
"Aku rasa Aku memiliki ide yang lebih baik. Lalu, dia akan sangat berguna nantinya."
Julia tersenyum misterius membuat Kylie dan Medeline saling pandang dengan tatapan bingung. Kini mata Julia kembali terfokus pada Ina yang masih menjadi sorotan umum. Dia pikir sorotan itu cepat atau lambat akan hilang, kemudian akan berbalik ke arahnya.
"Sekarang, kita harus mencari gadis itu," ungkap Julia.
Beruntungnya, gadis yang tadi menabrak Medeline masih berada tidak jauh dari mereka. Dengan segera Medeline menarik rambut gadis itu dengan keras karena masih tidak terima.
"Awww!" ringis gadis itu. "Siapa..." ucapannya terhenti saat menyadari keberadaan Julia.
"Ayo kita bicara," kata Julia disertai senyum liciknya.
Hai para pembaca!!😁
Aku up nih hehe😅😄😀
Masih belum bosen kan dengan cerita ini...🥺
Yah.. intinya dukung terus Author ya biar semangat nulis.
Bisa di like dan komen yang banyakkk🥰
Udah deh segitu dulu. Semoga chapter selanjutnya bisa upload cepet hehe
Makasihh
KAMU SEDANG MEMBACA
Sereina
FantasyBELUM REVISI (18+ banyak adegan kekerasan dan manipulatif. Diharapkan untuk tidak meniru maupun melakukan hal-hal tersebut di kehidupan nyata. Cerita ini hanya fiksi semata.) Seorang anak harus menyaksikan kematian tragis dari kedua orang tuanya. Da...
