29 || SAKIT PERUT

1.9K 156 9
                                        

"Aku mencintaimu karena perhatian dan agamamu, jika hilang perhatian dan agamamu, maka hilanglah pula cintaku."

-AISYA-

🍁🍁🍁

***

~HAPPY READING~

Terhitung 5 hari Agam dirawat di rumah sakit, kini Agam sudah pun bisa beraktivitas seperti biasanya. Dan akhir-akhir ini, mereka disibukkan dengan acara 7 bulanan kehamilan Aqeela.

Jum'at siang ini setelah sholat Jum'at & Dzuhur, Agam dan Aisya berjalan berdua menuju kelas mereka masing-masing. Karena, ntah ini cuma perasaan Aisya atau memang kenyataan, nggak tau juga. Agam setelah sakit, malah lebih manja kepadanya. Menurut Aisya nih ya, nggak tau bener atau cuma perasaan aja.

"Lo sakit?" Tanya Agam pada Aisya.

Sebab, sedaritadi Aisya seperti menahan sesuatu dan terlihat sedikit pucat.

"Nggak, gapapa kok. Gw jalan ke kelas dulu ya." Ucap Aisya lalu berjalan mendahului Agam.

Agam yang menatap Aisya dari belakang itupun seperti melihat sesuatu di rok Aisya. Menyadari apa itu, Agam langsung berlari ke arah Aisya dan mencekalnya sebelum gadis itu malu nantinya.

"Aisya berhenti dulu!" Agam mencekal tangan Aisya membuat Aisya berhenti.

"Kenapa?" Tanya Aisya bingung.

"Lo.." Agam menyadari wajah pucat Aisya. "Tembus, Sya."

Ucapan Agam sontak membuat Aisya langsung mengerti dan mengecek rok bagian belakang nya. Ia membelalakkan matanya, ternyata terlihat jelas. Dengan reflek, ia langsung berjongkok, berharap tidak ada yang melihat nya, selain Agam.

"Hey, kok jongkok di sini. Ini tengah lapangan, Sya. Nggak panas?" Tanya Agam ikut berjongkok serta menggunakan tangannya untuk menutupi wajah Aisya dari sinar matahari.

"Kalo nggak gini gimana lagi? Gw malu, Gam." Cicit Aisya.

"Jadi ini alasan kenapa muka lo pucet, lo lagi haid deres ya?" Aisya menganguk. "Bawa ganti?" Tanya Agam.

"Ada, tapi di tas. Nggak mungkin gw ke sana dalam keadaan begini, ini gw bangun pasti udah kek air terjun." Ujar Aisya jujur.

Memahami keadaan gadisnya, Agam pun berdiri dan langsung melepaskan jaket yang ia kenakan. Agam memang menggunakan jaket, karena meski sudah keluar dari rumah sakit, pastinya ada lah di mana badannya masih sedikit meriang.

"Aisya bangun." Titah Agam membuat Aisya mendongak.

"Gw maluuu, nanti kalo tambah deres gimanaa? Trus nanti kalo ada yang liat gimanaaa?"

"Lo bangun dulu, Aisya. Tenang, ada gue di sini, gausah malu." Ujar Agam membuat Aisya mau tidak mau harus menurutinya, pahanya udah pegel sebenarnya.

Aisya pun bangun, dan Agam dengan gesit langsung menutupi seluruh rok Aisya menggunakan jaket besarnya dengan cara mengikatkan pada pinggang Aisya. Untung jaket Agam warnanya hitam dan besar, sehingga rok Aisya tidak terlihat sama sekali.

Aisya melihat itu langsung menatap kagum cowok di depannya ini. Perhatian, pinter, ganteng, tangguh, setia, apalagi coba? Aisya jadi curiga kalo anaknya Anjas itu sebenernya bukan dirinya, tapi Agam. Berasa kek Agam itu titisan Anjas gitu, eh astagfirullah.

"Tapi kalo itu bener, muka Agam sama Kak Ai gaada mirip-miripnya. Ya mungkin emang gw lah kembarannya Kak Ai, cuma sifatnya nurun si emak aja." Batin Aisya.

A G A MTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang