Selamat membaca
Jangan lupa vote ya..
Bintangnya jangan lupa di klik😉
---
---
___
Bahkan manusia paling kaya sekalipun akan terlihat miskin ketika tak memiliki cinta di hidupnya.
❄️❄️❄️
Pria berkemeja rapih itu terus mengusir sebuah kucing berbulu lebat menggunakan sapu. Matanya setengah tertutup dengan wajah ketakutan. Seolah kucing itu adalah monster menyeramkan.
"BANG DAFFA KUCING GUE!"
Teriakan seorang gadis dari ujung gerbang membuat pria tersebut bisa bernafas lega. "Udah berapa kali gue bilang jangan pelihara kucing Nayanika?!"
Dia Gardaffa Mahaprana Lowsen. Kakak Naya yang baru pulang dari Paris—Perancis. Ya, Daffa masih menyandang marga Lowsen karena dia memang masih tinggal bersama Papanya. Alasannya adalah karena dia tidak ingin Lowsen Company Group jatuh ke tangan ibu tirinya. Dia bertekad akan menggantikan posisi Papanya suatu hari nanti. Karena itulah Daffa melanjutkan studi S2 nya di salah satu kampus ternama negara Prancis.
Belajar dan memumpun karir di negeri dengan dengan sebutan Mode Dunia itu memang sudah menjadi impian Daffa sejak dulu. Maka tak heran jika dia jarang sekali pulang ke tanah airnya sendiri.
Daffa melempar sapu yang dipegangnya tadi ke arah Titan. Jelas hal tersebut membuat Naya panik sekaligus geram. "DAFFA KUCING GUE JANGAN LO SIKSA, ASTAGHFIRULLAH!"
Naya menggendong kucingnya yang malang. "Lo tuh ya kebiasaan banget sih, Bang. Nggak berpikehewanan banget!" sungut Naya lalu beralih ke Titan. "Anak gue, unch.. Tanyang maafin Om Daffa yang lucnut ini ya," ujarnya pada Titan.
"Meoong.."
"Iiyy.." Daffa berjinjit ketakutan kala mendengar suara kucing. "Lo lebih sayang kucing apa Abang sendiri sih, Na?"
"Tanyang lah."
Daffa mengangkat kedua alisnya. Dua saudara beda gender itu memang memiliki banyak kesamaan, terutama wataknya yang sama-sama keras kepala. Yang membedakan mereka cuma satu, Naya itu tipikal manusia pecinta kucing. Sedangkan Daffa, dia ailurofobia. Ya, Daffa adalah manusia yang fobia dengan kucing. Maka tak heran jika dia begitu ketakutan kala melihat binatang menggemaskan itu.
"Punya adik satu durhaka banget. Bisa-bisanya milih kucing daripada Abang sendiri. Sana singkirin dulu tuh Tantan, nggak kangen apa sama Abang lo yang ganteng ini?"
"Tantan, Tantan. Dikira aplikasi pencari jodoh apa. Titan Bang, namanya Titan," koreksinya.
"Ya, ya, ya. Serah deh apalah itu."
Zein yang ada di situ hanya terheran-heran dengan kelakuan mereka berdua. Melihat gerak-gerik Naya terhadapnya, Zein sudah tahu jika gadis itu akan menitipkan Titan kepadanya. "Nggak, nggak. Jangan titipin ke gue. Lo tahu kan gue alergi bulu kucing?"
"Aa Zein jahat, belum juga Nana minta tolong," ucapnya dengan wajah memelas lalu beralih pada Geano. "Ano ganteng, Nana titip Titan ya? Aa Zein sama Bang Daffa pada cemen masa takut sama kucing. Ano kan jagoan," rayunya.
Bocah yang sedang berkacak pinggang itu menghela nafas berat layaknya pria dewasa yang tertimpa masalah. "Kalena Ano ganteng dan baik hati, Titan bial bobo di kamal Ano aja. Sini."
"Makaciiihh Ano ganteng.." Geano terlihat merona ketika disebut ganteng.
Zein mengajak adiknya pulang bersama Titan. Kebetulan rumah mereka memang bersebrangan. Hanya terpisah oleh jalan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ragashka [END]
Ficção AdolescenteCinta memang rumit. Seperti benang kusut yang sulit di uraikan. Memilih atau dipilih, menerima atau diterima. Semuanya bergantung pada, bagaimana Tuhan memainkan skenarionya. Raga tidak pernah menyangka akan menjatuhkan hati pada gadis berisik seper...
![Ragashka [END]](https://img.wattpad.com/cover/334999973-64-k518175.jpg)