35. Surprise untuk Raga

509 28 3
                                        

Selamat membaca!
Jangan lupa follow guys😉

❄️❄️❄️

Begitu mendengar Raga bolos dari Sabilla, Naya langsung menemuinya ke warung Babeh di jam istirahat pertama. Dan benar, kekasihnya itu kini tengah bermain game bersama Athan dan juga Bagas.

"Raga!"

Raga sontak menoleh ke belakang. Dari raut wajah yang Raga lihat sepertinya dia akan kembali mendapat semprotan dari sang pacar. Raga langsung meletakkan ponselnya yang masih menyala, lalu menyambut Naya dengan senyum manis.

"Gak usah senyum!" ketusnya.

Athan dan Bagas beringsut mundur sambil menahan tawa. "Live drama gratis," bisiknya di telinga Bagas.

"Ambil keripik Than buat temen nonton." kekehan Bagas dan Athan mendapat pelototan dari Raga. Namun keduanya sama sekali tidak peduli akan hal itu.

Naya melipat kedua tangannya di dada. Menghunuskan tatapan tajam pada Raga yang masih duduk di depannya. "Mau sampai kapan bolos terus?"

"Niatnya nggak gitu, Na."

"Niatnya nggak gitu? Trus ngapain dari pagi di sini bukan masuk kelas? Kelas kamu mendadak pindah ke sini?!"

Raga mencoba menuntun Naya untuk duduk. "Iya, aku minta ma'af. Tadi aku kesiangan, Na.."

"Kesiangan jadi alasan buat kamu bolos semua pelajaran?"

Raga hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian menyuruh Athan untuk memesankan minuman untuk Naya.

"Kenapa bisa kesiangan?" tanya Naya lagi.

Raga menelan ludah ketika Naya mempertanyakan itu. Masalahnya semalam Raga bergadang menemani Athan main PS.

"Nemenin gue nyoba PS baru sampe subuh, Na!"

Temen kampret! Athan sialan! Raga menyumpahi Athan yang dengan sengaja memberitahu alasannya kenapa bisa kesiangan.

Sontak Naya menekuk wajahnya kesal. "Ohh. Sepenting itu ya main PS sampe lupa tidur?"

"Yaang.." Raga menahan Naya yang hendak berdiri. "Iya oke aku salah. Aku minta maaf.. janji nggak gitu lagi."

"Ga, meskipun sekolah ini milik keluarga kamu, bukan berarti kamu seenaknya gini. Aku tau kamu punya banyak kelebihan, tapi itu tidak membenarkan kamu untuk bertindak sesuka hati. Sekolah punya peraturan, meskipun aku tau sebanyak apapun aturan yang kamu langgar itu nggak akan berpengaruh, tapi tolong hargain aku dan murid lain yang berusaha bertahan di sekolah tanpa koneksi apapun!"

Perkataan Naya barusan membungkam Raga. Selama ini dia memang masuk asal-asalan. Tapi begitu mendengar Naya bicara panjang lebar rasanya Raga memang salah.

"Bentar lagi ujian kenaikan kelas. Kalo kamu kayak gini terus apa gunanya aku ingetin kamu tiap hari?!"

Raga masih setia mendengarkan semua omongan Naya tanpa membantah sedikitpun.

"Kamu tau arti kewajiban dan tanggung jawab kan?" Raga masih diam. Dia hanya mengangguk pelan. "Kamu denger aku ngomong nggak sih?!"

"Denger yang, aku denger semua omongan kamu."

"Kalo denger kenapa nggak di jawab?"

"Aku nggak mau nyela omongan kamu, yang.." jawab Raga dengan lembut. Dia masih setia menggenggam sambil mengusap punggung tangan Naya.

"Trus apa jawabannya? Tau gak?!"

"Tau yang tau.."

"Kalo tau ya jalanin!"

Ragashka [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang