29. Mimpi Buruk

476 26 0
                                        

Haii bestuuyy!!
Mohon koreksi typo ya🙏
Jangan lupa kasih bintang buat authornya. Biar diriku makin semangat nulisnya:)
--
Selamat membaca!!

--

Tak perlu bermimpi indah, cukup tidur dengan nyenyak, adalah harapan dari segelintir orang yang terkena mental.

❄️❄️❄️


Setelah membersihkan diri, Raga menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, matanya tak kunjung merasakan kantuk. Pikirannya masih terisi penuh oleh Naya. Raut wajah kecewa gadis itu mengisi penuh ingatannya. Tidak bisa dipungkiri, hati Raga merasa sakit ketika melihat Naya tak mempercayainya.

Beberapa kali Raga menelpon, tapi gadis itu seperti tak berniat mengangkatnya barang sekalipun. Raga mengirimkan beberapa pesan, hanya centang biru yang Raga dapatkan.

Yakin jika malam ini dia tidak akan bisa terpejam tanpa bantuan obat. Akhirnya Raga kembali membuka laci, mengambil obat tidur yang beberapa hari ini tidak dia minum. Tapi untuk malam ini, dia harus kembali menelan obat sialan itu.

Setelah menelan obat tidur, Raga hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk benar-benar terlelap.

Tidur yang paling menenangkan adalah tidur tanpa mimpi. Sebuah harapan yang selalu Raga sematkan sebelum tidur. Namun, sepertinya, Tuhan tak pernah mengizinkannya untuk merasakan tidur nyenyak. Baru satu jam dirinya terlelap, mimpi menyakitkan itu kembali datang.

"Lo nggak boleh lebih pinter dari gue, Raga!"

"Lo cukup main-main kayak biasanya. dan gue bakal tambah sayang sama lo.."

"Kamu anak yang nggak berguna! Anak bodoh!"

"REGA!!"

"Kamu pembunuh! Kamu bunuh anak kesayangan saya!!"

"Bukan, bukan Raga, Maa.. Raga nggak dorong Bang Rega.."

"Harusnya kamu yang mati! Rasain ini!" Ibu dua anak itu kembali memukul anak bungsunya dengan sabuk milik suaminya.

"Mati kamu! Mati!"

Jeritan dari anak berusia dua belas tahun itu tak urung membuat Tania menghentikan pukulannya. Hanya seorang ibu dengan mental terganggu yang begitu tega menyakiti buah hatinya sendiri.

"Papa.. toloonggg..." Pria paruh baya yang katanya menyandang figur sebagai ayah itu hanya diam membisu.  Menyaksikan anaknya disiksa oleh ibunya sendiri.

"Aakhhhh... Sakiiitt..!"

Raga menjerit dengan mata yang masih terkatup rapat. Kedua sudut matanya basah, cairan bening merembas keluar meski matanya masih terpejam. Keringat dingin menyeruak di sekujur tubuh. Nafasnya sesak dan tak beraturan.

"AAARRGHH!!" Raga terbangun dengan posisi langsung duduk. Dadanya terasa sesak dan kepalanya  seperti tertimpa batu besar. Lelaki malang itu menangis sendirian. Tidak ada seorang pun yang paham bagaimana sakitnya dia selama ini. Memiliki daya ingat kuat adalah sebuah kesakitan tersendiri bagi seorang Raga.

"Cape, Ma.. Raga cape.. Raga mau pelukan Mama.. Raga mau Mama peluk Raga sama kayak waktu Mama meluk Rega.."

"Kenapa lo harus milih jalan itu dan bebanin ini semua ke gue Re.."

"Raga cuma mau tenang.. Raga mau tenang dalam pelukan Mama.."

Lelaki itu bergumam sendirian, mengutarakan perasaannya yang terasa sesak. Pelukan dan beberapa hal sederhana yang mudah di dapatkan sebagian anak normal lainnya. Itulah harapan yang selalu Raga inginkan.

Ragashka [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang