52. Invitation

415 25 14
                                        

Segalanya terasa sulit saat perasaan mulai rumit. Jika kesempatan kedua memang ada, izinkan aku memakainya untuk kali terakhir.

Alghiva Zein Praditya—

❄️❄️❄️

"Dor!" Zein menepuk pundak Naya pelan. "Tebak gue bawa apa?"

"Apa?"

"Tadaa.." cowok itu menunjukkan sebuah gantungan kunci berbentuk kucing.

"Eh, ini?" Naya mengambil gantungan kunci itu dari tangan Zein

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Eh, ini?" Naya mengambil gantungan kunci itu dari tangan Zein. Menciumnya haru selayaknya orang yang baru kembali menemukan benda berharganya. "Kok bisa ada sama lo sih? Padahal dulu udah gue cari tujuh hari tujuh malem tapi nggak ketemu-ketemu."

"Ternyata itu nyelip di kotak mainan gue yang udah di taruh di gudang sama Bunda." Zein terkekeh tiba-tiba. "Gue inget banget lo nangis berhari-hari sampe pilek. Mata lo udah kayak ikan koki, idung udah kayak badut. Sumpah lo jelek banget waktu itu, Na. Mana kerjaannya buang ingus di baju gue lagi— aduh!"

Naya mencubit pinggang Zein sampai cowok itu meringis kesakitan. "Jangan bahas kejadian itu lagi, Zein Praditya!"

"Kenapa? Malu? Udah telat." Zein tertawa melihat wajah merah Naya menahan malu.

"Zein! Lo salah makan apa sih hari ini? Kok nyebelin bangeeett.." Naya memasang wajah cemberut. "Lagian salah siapa dulu lo baik banget sama gue. Ya jangan salahin gue dong kalo gue jadi ngelunjak. Lo nya juga fine-fine aja, yakan?"

Kali ini Zein tersenyum sambil mengacak rambut Naya. "Haaahh.. rasanya gue mau kembali ke waktu dulu."

"Kenapa?"

"Karena gue mau sadar lebih cepat. Bukan disaat semua udah terlambat kayak sekarang." Zein menatap manik nayanika di depannya. "Kenapa dulu gue paling suka ketawa lo, kenapa dulu gue ikut sedih tiap liat lo nangis, dan kenapa gue selalu mau terus ada disaat masa-masa sulit lo. Karena ternyata gue udah jatuh cinta sama lo sejak hari itu. Hari di mana untuk pertama kalinya gue ngulurin tangan buat orang lain."

"Zein.. percaya atau nggak, dulu gue juga pernah sejatuh cinta itu sama lo," Naya mengatakan itu dengan suara pelan. Namun  Zein masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Hah? Sejak kapan?"

"Sejak lo selalu ada buat gue." Naya mengembuskan napas panjang. "Tapi gue memilih untuk mengakhiri perasaan itu saat gue tau lo jatuh cinta sama dia. Dan karena cewek lo yang posesif itu gue terpaksa pacaran sama Edgar. Karena apa? Karena menurut dia lo selalu mentingin gue daripada dia."

Zein masih membisu di sana. Jika dulu ia tidak bodoh mungkin kisah ini akan sedikit berbeda. Ternyata, penyangkalannya selama ini berbuah penyesalan. Demi tuhan Zein menyesal karena terlalu lama bersembunyi dibalik topeng persahabatan.

Ragashka [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang