14. Luka tak Kasat Mata

725 38 2
                                        

Hai-hai.
Selamat malam.
--
Gimana puasanya? Masih lancar?
--
Keep spirit guys!!

---

Happy Reading 😊

_______________________________

❄️❄️❄️


Beberapa manusia bijak seringkali berkata, waktu bisa menyembuhkan luka. Tapi untuk segelintir orang, waktu itu bahkan tidak bekerja jika perihal luka tak kasat mata.

Mungkin luka memang tak 'kan sembuh dengan tergesa. Sekalipun sembuh dalam waktu yang lama, tak urung menghilangkan bekasnya. Sebab itu akan abadi, entah di relung hati, atau di bagian terdalam dari diri.

"Bukan Raga, Maaa..."

"Aakhh, sakittt, Maa... Ampun, sakiitt.."

"Paa.. bukan Raga.. Raga bukan pembunuh, Maa.."

Rintihan dari alam bawah sadar anak laki-laki itu terdengar menyakitkan. Keringat merembas dari balik pori-pori. Bahkan Erika—dokter psikolog—yang sudah lama menangani Raga pun ikut merasakan sesak. Tubuh lelaki dengan julukan Antarktika itu terlihat begitu ringkih kala melakukan hipnoterapi. Entah seberapa dalam luka yang dia rasakan, sampai lupa cara mengungkapkan.

"Saat kamu mendengar tepukan dua kali, kamu boleh bangun," perintah Erika.

Tepat setelah Erika menepukan tangannya sebanyak dua kali, Raga terbangun dari alam bawah sadarnya.

"Apa yang kamu lihat apa masih semenakutkan itu?" tanya Erika yang diangguki Raga.

Erika meresepkan beberapa obat untuk Raga. "Masih sering insomnia atau mimpi buruk? Tapi saya lihat ada sedikit perkembangan di pertemuan kali ini. Apa ada seseorang atau sesuatu yang mempengaruhi?"

"Mimpi itu sudah seperti teman tidur saya, Dok." Raga tersenyum sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mungkin iya."

Kali ini Erika yang tersenyum mendengar kalimat terakhir Raga. "Siapapun itu, saya bersyukur. Karena sepertinya dia berpengaruh baik bagi kesehatan mental kamu."

Raga hanya membalas dengan senyum tipis. "Raga, jika kamu sudah menemukan orang yang tepat. Belajar percaya, belajar terbuka, jangan terus memendam sendirian. Ini bukan saran dari seorang dokter, tapi nasehat dari saya sebagai Erika," ucap Erika seraya tersenyum tulus.

"Makasih, Dok. Tapi untuk saat ini, saya harap dokter masih bisa di percaya untuk menjaga privasi saya sebagai pasien."

"Ya, saya mengerti. Kalau saya mau, sudah dari dulu saya bicara dengan Kakek mu tentang bagaimana kondisi cucunya."

Raga bangkit dari duduknya setelah Erika memberikan obat yang biasa dirinya konsumsi di waktu tertentu. "Saya percaya sama Dokter. Kalau begitu saya permisi, terima kasih."

Erika mengangguk seraya tersenyum. Jujur saja, melihat Raga seperti melihat putra sulungnya sendiri. Wanita paruh baya itu kemudian menekan tombol call di ponselnya. Menampilkan dua anak laki-laki yang usianya beda dua belas tahun.

"Kamu masih beruntung, Nak. Masih punya Ayah sama Bunda." Gumam Erika sebelum panggilan itu berhasil tersambung.


❄️❄️❄️


"Banana, nih lihat Ano punya sepatu loda balu. Ini mahal tau, kata Ayah halganya tiga juta lebih. Banana nggak punya kan? Huh, kacian," sombong Geano.

Ragashka [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang