Selamat membaca🙂
__
__________________________
Tidak ada satupun manusia yang hidup tanpa luka. Mereka yang kau lihat bahagia hanyalah manusia yang terlalu apik menutupi lukanya.
❄️❄️❄️
Di hari sabtu, pagi-pagi sekali Naya sudah menerima banyak ceramahan dari Daffa. Perihal dirinya yang kemarin sore pulang diantar seorang laki-laki. Berbeda dari kemarin, Naya bisa menghindari Kakaknya karena Daffa yang masih sibuk dengan pekerjaan. Tapi hari ini, dia terpaksa mengalah dan mengiyakan semua perkataan Daffa.
Tak ingin adu argumen dengan Daffa, Naya memilih untuk mengajari Raga. Melanjutkan pembelajaran tempo hari. Mengingat lelaki itu sudah ketinggalan banyak pelajaran karena sekolahnya yang hanya setor muka.
"Ma, titipan bunga Nana yang kemarin di mana? Nana mau belajar bareng dulu, abis itu langsung ke tempat ibu," bisik Naya pada Diana.
"Oh itu, Mama taruh di belakang. Belajar sama siapa? Kamu nggak mau bareng aja sama Daffa?"
"Ssttt.. jangan kenceng-kenceng, Ma. Nanti Bang Daffa denger bisa ribet. Nana belajar sama Raga."
"Oalah, pantesan.. anak Mama gercep nih pdkt-nya," goda Diana di telinga Naya.
Naya refleks menyenggol Mamanya. "Pdkt apaan sih, Ma. Nggak usah aneh-aneh deh. Udah ah, Nana berangkat dulu."
Setelah menyalami Mamanya, Naya langsung ngacir ke luar rumah. Untung tadi dia sudah memesan taxi online, jadi tidak perlu menunggu lama taxi yang di pesannya sudah ada di depan.
Semalam Naya sudah membuat janji dengan Raga lewat chat. Tadinya Raga berniat menjemput Naya. Namun, gadis itu menolaknya. Apalagi kalau bukan karena Daffa. Entah kenapa Naya merasa Daffa sama seperti Zein, mereka seolah sentimen terhadap Raga. Padahal jika Naya perhatikan, Raga tidak seburuk yang mereka bicarakan.
Naya sudah meminta alamat rumah Raga. Dia menunjukkan alamat tersebut kepada sopir taxi. Dalam perjalanan Raga terus menghubungi Naya, sudah sampai mana? Katanya takut kalau Naya nyasar, padahal teknologi sudah canggih masa iya masih nyasar. Pikir Naya.
"Berhenti di sini aja Pak, saya turun di sini," kata Naya kepada sang supir.
"Baik, Mba."
Setelah membayar ongkos taksinya, Naya keluar dari mobil. Dia lumayan terkagum karena rumah Raga berada di perumahan elit. Dia agak bingung, pasalnya Raga tidak memberikan no rumahnya. Naya pun menelpon Raga.
"Halo. Ga, rumah lo yang mana?"
"Lo dimana?"
"Ini di jalan komplek rumah lo, gue nggak tahu persisnya dimana."
"Yaudah tunggu di situ, gue ke sana sekarang. Jangan di tutup telponnya."
Raga langsung keluar dari kamarnya dan menyusul Naya.
Naya mengedarkan penglihatannya ke sekitar. "Oh, di sini ada tempat laundry, Ga. Namanya Madam Laundry."
"Iya, gue udah lihat lo. Rumah gue ke lewat dikit, Na."
Refleks Naya menoleh ke belakang. Terlihat seorang pria dengan pakaian santai mendekat ke arahnya. Tampilan Raga terlihat sangat berbeda ketika memakai seragam sekolah. Celana pendek selutut dan kaos oblong putih. Yang sama hanya gaya rambutnya saja, acak-acakan. Tapi kenapa malah terlihat tampan? Sepertinya mata Naya sudah bermasalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ragashka [END]
Novela JuvenilCinta memang rumit. Seperti benang kusut yang sulit di uraikan. Memilih atau dipilih, menerima atau diterima. Semuanya bergantung pada, bagaimana Tuhan memainkan skenarionya. Raga tidak pernah menyangka akan menjatuhkan hati pada gadis berisik seper...
![Ragashka [END]](https://img.wattpad.com/cover/334999973-64-k518175.jpg)