"when everyone looks at you bad, you will still be good in my eyes"
❄️❄️❄️
"Aku nggak biasa jelasin pakai kata tanpa bukti nyata"
Itulah yang membedakan Raga dengan cowok lainnya. Tidak pernah hanya sekedar kata, tapi di sertai bukti nyata. Sejak kecil Raga pernah diberi satu nasihat oleh sang kakek. Lelaki yang di pegang memang omongannya, tetapi lelaki sejati adalah dia yang berani menelan harga dirinya demi sebuah bukti nyata.
Sama seperti ketika Raga berlutut di depan Naya. Sebagai seseorang yang biasa disegani, Raga menelan habis rasa malunya. Sebab, baginya Naya jauh lebih berharga dari itu semua. Mungkin itulah salah satu dari banyaknya alasan Naya menjatuhkan hatinya pada sosok Ragaskha Mahdava.
"Orang yang di maksud Kakak kamu waktu itu, dia Abang aku." Raga berjongkok sambil mengusap batu nisan dengan nama. Arega Mahdika Aldert.
Naya ikut berjongkok dan menaruh bunga di atas pusara tanpa berkata apapun. Bisa Naya lihat di balik wajah datarnya Raga tersimpan luka hati yang Naya sendiri masih belum mengerti.
"Dulu, Mama aku itu dokter bedah yang cukup terkenal. Dan Rega, sebagai anak sulung dia berkewajiban memenuhi ekspektasi orang tua. Semua rasa sayang dan perhatian mereka habis untuk Rega."
Raga menoleh dan mendapati manik nayanika itu menatapnya dengan iba. Raga tersenyum tipis ketika Naya mengusap lembut pundaknya. "Sementara aku.. aku hanya harus terlihat buruk di mata mereka, cuma itu tugas dan gunanya aku. Menurut Rega."
Naya tidak paham dia menautkan kedua alisnya dengan wajah kebingungan. "Kenapa?"
"Karena Rega terbiasa hidup penuh dengan cinta, kasih sayang dan bergelimang perhatian. Beda sama aku yang cuma jadi beban."
"Lo cuma harus main sama seneng-seneng aja, Ga. Dengan begitu setidaknya ada satu orang yang sayang sama lo, itu gue."
Dulu Raga tidak pernah mengerti kenapa Rega selalu mengatakan hal itu kepadanya. Dengan kepolosan yang Raga punya, dia hanya bisa menuruti kakaknya yang waktu itu terlihat menyayanginya.
Sampai suatu hari, Raga merasa muak dengan semua ketidakadilan yang diterimanya. Karena kemampuan yang dimilikinya, Raga berhasil membuktikan dirinya bisa lebih pintar dari Rega hanya dalam hitungan hari. Sampai dokter mendiagnosis bahwa Raga memiliki sindrom hyperthymesia. Tanpa sengaja Rega mendengar pembicaraan dokter dengan kakeknya. Karena baik dulu maupun sekarang, Raga lebih dekat dengan sang kekek daripada orang tuanya. Hal tersebut membuat Rega merasa terancam. Dan pada akhirnya, keberanian Raga yang merasa ingin diakui malah menjadi sebuah malapetaka.
"Aku rasa, kamu orang yang paling kehilangan dia, tapi kenapa mereka bilang kamu pembunuh?" tanya Naya dengan sangat hati-hati.
"Karena aku pemicunya. Karena aku Rega lebih memilih lompat dari atap apartemen dari pada punya adek egois kayak aku."
Raga menundukkan pandangannya. kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Mengingat hal menyakitkan itu membuatnya hidup dalam penyesalan. "Kamu inget aku punya sindrom hyperthymesia?
Naya mengangguk mengiyakan.
"Aku mencoba untuk menarik perhatian Mama sama Papa dengan kasih mereka nilai sempurna melalui kemampuan yang aku miliki. Setelah itu, untuk pertama kalinya aku liat Papa marahin Rega habis-habisan cuma karena nilainya lebih rendah dari punya aku. Entah itu kali pertama papa marah sama Rega, atau aku yang baru pertama liat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ragashka [END]
Teen FictionCinta memang rumit. Seperti benang kusut yang sulit di uraikan. Memilih atau dipilih, menerima atau diterima. Semuanya bergantung pada, bagaimana Tuhan memainkan skenarionya. Raga tidak pernah menyangka akan menjatuhkan hati pada gadis berisik seper...
![Ragashka [END]](https://img.wattpad.com/cover/334999973-64-k518175.jpg)