Malam....
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk 1,9 ribu komen dichapter sebelumnya 😙
Tidak lupa mengingatkan, sebelum baca tolong VOTE dulu ya ☺️ Dan jangan lupa penuhi paragraf dengan komen kalian 😉
Part ini cukup pendek hanya 1600 an kata. Ga pa2 lah ya dari pada ga update 😥
Selamat membaca!
────────────────────────────────────────────
Dengan gerakan secepat kilat dan mengejutkan, tangan kanan Kai bergerak memukul rahang pria yang menodongkan pisau ke arah mereka. Tangan kirinya digunakan untuk memiting leher pria itu. Dan Kai juga meremas tangannya kuat hingga pisau di tangan pria itu terlepas dari genggaman. Setelahnya terdengar teriakan kesakitan dari pria itu.
"Wow...impresif," celetuk Elena dengan ekspresi takjub melihat keahlian Kai dalam bertarung.
Pria yang sebelumnya berada di atas motor, berusaha membantu rekannya dengan cara menyerang Kai. Tapi Kai malah menjadikan pria yang berada dalam pitingannya sebagai tameng. Teriakan sakit dari penjahat itu terdengar karena beberapa kali terkena pukulan dari rekannya sendiri. Kemudian Kai menghantam kepala pria itu ke rekannya yang masih berusaha melawannya.
Beberapa menit kemudian Kai berhasil membuat kedua lawannya tidak berdaya. Keduanya terduduk di aspal dengan wajah meringis menahan sakit. Langkah Kai mendekat, kemudian ia mengambil paksa ponsel dari kantong saku salah satu pria. Lalu Kai melemparkannya ke arah Elena dan Elena menangkapnya.
"Aku tidak hafal nomor siapapun." Elena melempar balik ponsel itu pada Kai.
Kai kemudian menekan nomor telepon basecamp, sebab hanya nomor itu yang ia hafal. Semoga saja ada yang menjawab. Setelah panggilan yang kedua, suara Sam terdengar menjawab. Ternyata Sam meninggalkan klub lebih awal dan baru saja tiba di basecamp. Baguslah.
Elena dalam posisi berjongkok, pandangannya terarah pada Kai yang sedang berbicara dengan Sam melalui ponsel. Dan tangan Kai yang lain memegang pisau lipat yang mengarah ke dua perampok itu. Meski manusia yang sedang ia tatap bukanlah Kaivan, tapi selalu ada perasaan membuncah bisa melihat sosok Kaivan lagi melalui Kai.
"Kepala mereka bisa bocor jika terus-terusan kau timpuk seperti itu."
Suara Kai barusan berhasil menarik Elena dari lamunannya. Elena baru sadar jika tangannya sedari tadi meraih kerikil di dekatnya, lalu melemparnya ke arah dua perampok amatiran yang masih terduduk di aspal.
Kai mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. "Kalian boleh pergi," usirnya.
Tanpa kata keduanya berjalan terseok-seok menuju motor.
"Tunggu," Elena bangkit dari posisi jongkoknya kemudian mengulurkan belasan lembar uang pada mereka. "Untuk kalian," ucapnya kemudian.
"Te-terima kasih," jawab salah satu dari mereka. Kemudian motor mereka mulai menjauh dari sana.
"Untuk apa kau bersikap baik pada perampok?" Ujar Kai setengah mencibir.
"Mereka merampok kita karena butuh uang. Karena mereka perampok amatir dan malam ini gagal merampok kita, kemudian kau juga menghajarnya, kupikir tidak ada salahnya aku beramal," celoteh Elena sebelum berjalan kembali menuju mobil Gavin.
KAMU SEDANG MEMBACA
PREDESTINATION
RomanceSaat mendekati tikungan terakhir, mobil di belakang Elena kehilangan kendali. Dan insiden mengerikan itupun terjadi. Kejadian tersebut begitu cepat, Elena tidak sempat melakukan antisipasi sekedar melakukan manuver untuk menghindar. Mobil lawan meng...
