Krisan
Hal yang paling sia-sia adalah berharap sama seseorang yang hatinya masih setengah untuk kita, setengah untuk orang lain.
Happy Reading
☀
☀
☀
Melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin dengan senyuman yang menampakkan mimik wajah kasian. Tersenyum melihat nasib ceritanya.
"Gue beserta kedua temen telah effort untuk acara sore ini ternyata... batal juga," ungkapnya.
Ia merebahkan tubuhnya yang sudah berpenampilan cantik dan anggun itu pada tempat tidur. Menatap atap kamarnya yang sangat kosong itu.
"Yang salah gue yang terlalu berharap pada Raksa atau Raksa yang terus menerus kehidupannya selalu tentang moza?" gumamnya.
Selang tiga detik, dirinya pun berdiri menatap tubuhnya sendiri pada cermin full body.
"Van, lo gak boleh egois. Moza butuh Raksa. Sedangkan jalan berdua sama Raksa bisa kapan-kapan. Lo hadir di antara keduanya. Lo gak boleh merebut Raksa dari Moza."
Vania dengan penuh pengertian berusaha memahami keadaan Raksa. Raksa selalu dengan Moza dalam keadaan mendesak. Jelas, Raksa mengutamakan Moza daripada Vania.
"Tapi gue kesel! Gue udah cantik tapi gak jadi keluar!"
Vania kembali uring-uringan lalu tidur lagi. Ia tengkurap dengan kepalan tangannya yang terus menerus memukul permukaan bantal yang empuk itu.
"Gue gak papa tapi gue kesel! Cewe mana sih yang gak bete kalo udah siap-siap berjam-jam tapi gak jadi keluar!" teriaknya dengan mulut yang terbungkam dengan bantal yang berada dibawah kepalanya.
Setelah merasa lelah akibat uring-uringan, akhirnya mulutnya diam juga. Getaran dari dering ponselnya terasa ketika dirinya masih sibuk menutupi wajahnya.
Tanpa ia lihat nama yang tertera dalam ponsel itu, langsung diterima panggilan tersebut.
"Apa?!" ucap kata pertama yang ia keluarkan.
"Woi, santai bro, santai," jawab seseorang dari balik telepon.
Vania menjauhkan ponselnya dari telinga, memastikan suara siapa yang barusan ia dengar.
"Sorry, apa apa, Rel?" tanya Vania dengan nada bicara mulai mereda.
"Lo ada acara, gak? Keluar yuk."
"Maaf, gue lagi sakit."
Vania berbohong. Sebenarnya ia sudah tidak ingin keluar ke mana pun. Moodnya sudah rusak.
"Lo sakit? Udah makan belom? Obatnya ada? Gue ke sana sekarang. Lo pengen apa?"
"Eh... Gak usah. Gue gak papa. Gue mau tidur." Vania kembali menolaknya. Kalau Darel menghampirinya ketawan lagi bohong, dong?
"Darel bukan seorang lelaki yang menerima penolakan. Gue ke sana sekarang. Lo diem di rumah jangan ke mana-mana."
Sambungan teleponnya terputus, Darel mengakhiri panggilannya setelah memberikan ancaman pada Vania.
Vania melentangkan tubuhnya dengan ponselnya masih dalam genggamannya.
"Kenapa, ya, ketika gue ada masalah sama Raksa, Darel selalu ngehubungin gue. Feelingnya kuat banget," gumamnya sembari mengingat beberapa kejadian di hari lalu. Mulai ditinggal di bioskop, kehujanan di pinggir jalan, waktu pasar malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Fiksi RemajaFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
