Krisan
Katanya, fase tertinggi dalam mencintai itu mengikhlaskan. Dan aku sedang belajar bagaimana caranya ikhlas itu.
Happy Reading
☀
☀
☀
Berita perihal pesawat yang jatuh ke laut terus menjadi siaran utama di setiap stasiun televisi. Hingga kini telah menginjak tiga hari setelah kejadian itu. Berita paling buruk yang pernah Vania dengar.
Laporan terakhir dari reporter mengatakan bahwa sepuluh jasad penumpang tidak ditemukan. Ada kemungkinan jasad itu tenggelam dalam laut yang sangat luas, tertancap pada terumbu karang atau lebih parahnya ulah makhluk hidup di laut.
Para tim telah melakukan penyelidikan semaksimal mungkin tetapi jika kecelakaan di lautan yang seluas dan sedalam itu sangat susah untuk menemukan setiap jasad.
Hingga berita pun tersebar bahwa sepuluh jasad terakhir itu tidak bisa ditemukan kecuali atas takdirnya yang mengembalikan jasad itu supaya menepi ke lautan.
Vania berusaha berdiri di atas kakinya yang terasa sangat lemas itu. Ia ingin pergi ke laut. Ia ingin berteriak di sana berharap Darel mendengar suaranya dan bisa kembali meskipun dengan keadaan tidak terselamatkan.
Vania keluar dari rumahnya sendirian. Ia tak menghubungi temannya, ia ingin menikmati waktunya sendirian. Memeluk rasa sedih dan kehilangan itu sendiri. Tangan kirinya telah membawa bunga mawar yang sudah tak memiliki tangkai beserta bunga krisan putih yang hanya satu tangkai.
"Vania..." panggil seseorang dengan suara yang sangat lembut.
Sontak kepalanya terangkat mengarah ke sumber suara. "Ngapain lo ke sini?" tanya Vania dengan nada suaranya yang datar. Tak ada lagi Vania versi dulu yang tergila-gila dengan Raksa.
"Gue cuma pengen memastikan keadaan lo. Gue turut berduka..."
"Lo udah liat keadaan gue. Lo bisa pergi." Vania bersama rasa muaknya tak ingin melihat Raksa.
"Van, kalo lo tetap ingin hubungan kita berakhir gapapa tapi setidaknya kita kembali jadi teman." Raksa menatapnya dengan tatapan penuh harap. Mengapa Raksa membicarakan hal itu disaat Vania sedang tidak baik-baik saja?
"Lo kira gak sakit? Gue terlalu ngejar lo tapi setelah gue dapet ternyata jadi nomor dua dan dipikiran lo cuma ada Moza! Ini emang kebodohan gue, gue gak masalah kalo kalian lanjut ke hubungan serius. Lo mau kita kembali jadi temen? Oke. Lo bisa pergi sekarang." suara Vania terdengar begitu tegas lantang. Meskipun kondisi dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Van... Gak ada hubungan serius antara gue dan Moza."
Raksa bersikukuh meyakinkan Vania. Tidak ada tujuan selain tidak ingin membuat Vania salah paham dan terus marah padanya.
"Ada atau engga gue gak peduli."
"Van, perasaan lo ke gue udah gak ada lagi, ya?" Raksa menembak langsung pertanyaan pada intinya.
"Sejak awal perasaan gue hadir untuk lo hanya karena tatapan mata lo. Andai saja waktu awal kita ketemu gue gak bertatap mata dengan lo, mungkin kejadiannya gak gini. Gue gak akan terjatuh pada mata lo. Gue gak akan tergila-gila ngejar lo. Kemungkinan besarnya gue bisa menerima kehadiran Darel dan bahagia bersama. Selama ini sikap gue yang serius untuk lo menjadi sumber kecewa untuk Darel. Gue sadar bahwa yang gue cintai itu Darel."
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
