40. Coffeeshop

376 24 3
                                        

Krisan

Memang hubungan yang baik dan bertahan lama harus melewati ribuan kata maaf

Happy Reading




Vania tetaplah Vania. Cewe yang sudah kelewat bodoh sebab mencintai manusia yang salah. Tak lain yaitu Raksa. Setelah menyaksikan perdebatan antara Raksa dan Darel di hari itu. Vania memilih memaafkan Raksa.

Maaf yang terucap dari mulutnya mendapat serangan dari Ara. Ara sangat berpihak pada Darel. Memang cinta itu membodohkan dan membutakan. Matanya tidak bisa menilai mana seseorang yang tulus dalam mencintainya dan orang yang menjadikannya pilihan kedua meski sekedar pasif.

Vania membela Raksa mati-matian tak peduli rasa sakit yang diterima. Ia hanya ingin bahagia bersama orang yang ia cinta meski selalu di nomor duakan sebab dari awal memang dirinya yang bersalah atas semua perilaku Raksa. Sebuah resiko mencintai seseorang yang memiliki sahabat lawan jenis. Itu salah.

"Hai, Raksa," sapa Vania ketika motor milik Raksa berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

"Hai, cantik," balas Raksa yang membuat Vania salah tingkah. Ia pun menutup kedua pipinya. Ia yakin saat itu pipinya bersemu merah.

Setelah menjalani adu bicara dengan Raksa lewat telepon sore itu, ditambah melihat Raksa berdebat dengan Darel, dan tidak menyapa beberapa hari, kini kupu-kupu di perutnya kembali berterbangan ketika mendengar suara Raksa yang memuji penampilannya.

Vania bergegas naik ke atas motor itu dan memeluk tubuh Raksa yang begitu kekar dari belakang. Begitupun dengan dagunya, ia tempelkan pada bahu milik Raksa. Sembari menghirup aroma dari tubuh Raksa.

"Kita mau ke mana?" tanya Vania.

Raksa sedikit menoleh ke belakang, melihat wajah Vania dari jarak yang begitu dekat.

"Ke coffe shop tapi dengan nuansa alam," jawabnya.

"Terserah asal sama kamu."

"Iya hanya aku dan kamu."

Vania semakin mengeratkan pelukannya. Rasanya kupu-kupu semakin berterbangan dalam perutnya. Bahagia jika hanya ada dirinya dan Raksa. Tidak ada Moza di antaranya. Mereka berdua berada di fase memperbaiki hubungan yang sempat memanas.

Menyita waktu satu jam lima belas menit untuk menuju coffe shop tersebut. Raksa dan Vania mulai memasuki ruangan utama untuk memesan menu dan mengambil nomor meja. Setelah mencatat pesanan, mereka memilih tempat duduk di pinggir danau yang airnya sangat dingin dan jernih.

"Aku suka tempat ini, lain kali aku ajak Bulan dan Ara ke sini. Pasti mereka suka juga," ujar Vania lalu melepas sepatunya dan memasukkan telapak kakinya dalam air danau tersebut sambil digoyang-goyangkan.

Raksa lega setelah melihat Vania kembali tersenyum seperti itu. Melihat Vania kembali ceria ketika bersamanya.

"Raksa, kaki kamu mana?" tanya Vania mengalihkan pandangannya pada cowo yang duduk di sebelahnya.

"Kamu jangan ngeliatin dengan tatapan seperti itu!" Vania menutup wajahnya. Ia tak suka ditatap mata Raksa. Ia sangat lemah dengan tatapan mata itu.

Raksa tertawa kecil tetapi suaranya masih terdengar. "Kenapa, hm?" Raksa membawa kedua tangannya untuk memegang tangan milik Vania dan membukanya. Dan terlihatlah wajah Vania yang bersemu merah seperti buah jambu.

"Jangan bilang seperti itu juga!" Vania tak lagi menutup wajahnya tapi memilih menundukkan pandangannya. Tangannya sudah dipegang erat oleh pacarnya.

Raksa menarik dagu Vania hingga sejajar dengan wajahnya. "Aku sayang sama kamu. Maafin aku, ya."

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang