Krisan
Bandara menjadi tempat perpisahan penuh air mata serta pelukan paling tulus. Berharap datang kembali di tempat yang sama untuk menjemput orang yang sama
Happy Reading
☀
☀
☀
Situasi di bandara sangat ramai, ratusan orang dari berbagai daerah sudah berkumpul untuk keberangkatan pesawat pukul sebelas siang. Suasana semakin riuh ketika terdengar suara tiba pesawat di latar belakang. Penumpang dengan keberangkatan pukul dua belas mulai berjalan tergesa-gesa dengan menarik kopernya menuju gerbang. Sementara yang lain duduk di kursi menunggu jam keberangkatan dengan sabar.
Udara di bandara terisi dengan aroma makanan yang tercipta dari toko dan restoran di sana. Banyak orang yang mulai berbelanja untuk oleh-oleh atau sekadar mencoba makanan itu.
Papan tanda elektronik yang besar menampilkan jadwal penerbangan, memberikan informasi tentang kedatangan dan keberangkatan pesawat.
Petugas keamanan dan staff bandara dengan seragamnya bekerja keras untuk menjaga ketertiban dan keamanan. Antrean panjang terbentuk di area pemeriksaan keamanan, di mana penumpang melepaskan sepatu mereka dan melewati mesin detektor logam.
Meskipun ada keramaian dan ketegangan yang tak terhindarkan di bandara, juga ada momen kesedihan ketika keluarga dan teman-teman berkumpul untuk mengantarkan keberangkatan orang yang mereka cintai. Bandara adalah tempat berpisah paling pilu yang berdenyut dengan ritme perjalanan antar negara bahkan dunia.
Darel tengah duduk sendirian di salah satu kursi, mamanya antre membeli makanan untuk dirinya. Ponselnya tidak ada getaran sama sekali selama berada dalam genggamannya.
Dimasukannya ponsel dalam saku kemejanya lalu mengambil paparbag yang telah ia siapkan semalaman. Di dalamnya ada buket bunga, kotak bunga yang telah dijadikan hiasan meja, dan surat. Barang itu akan mendarat di tangan vania. Sebagai hadiah perpisahan mereka yang sementara.
"Woi bro!" panggil Langit menepuk bahu Darel.
"Duduk, Lang," jawab Darel melirik kursi kosong di sebelahnya.
"Bisa gak wajahnya gak usah sok sedih gitu. Gue gak akan nangis!" suara Langit meninggi. Ia tak suka melihat wajah Darel murung seperti itu.
"Kayak ga pernah aja lo!" cetus Darel mengingat kejadian di mana Langit harus ke luar kota dan pisah sementara dengan mereka semua. Kini hal yang sama terjadi pada Darel dengan konsep yang berbeda.
"Gue yakin, lo bakalan nangis di pesawat nanti," ucap Langit kemudian tertawa mengejek.
"Lo gak ada sedih-sedihnya gue mau pergi. Gue mau operasi bukan rekreasi kok lo bahagia banget!"
Rasa emosi mulai muncul di diri Darel ketika mendengar ucapan sahabat laknatnya itu.
Langit menghela napas dan memegang bahu Darel. "Sebenarnya gue sedih banget. Lo harus pergi memperjuangkan kesembuhan lo dan gue gak bisa nemenin lo. Gue gak mampu ngebayangin gimana tubuh lo yang akan terbaring saat operasi. Gue gak tau apa yang terjadi di sana. Gue cuma gak mau menunjukkan kesedihan gue di depan lo. Gue gak mau rasa sedih gue menjadi beban ketika lo berangkat. Gue di sini cuma bisa doain agar operasi lo lancar. Gue pasti kangen banget sama lo apalagi babuin lo."
Langit menahan air matanya agar tidak jatuh. Bagaimana pun kondisi hatinya tidak bisa berbohong. Ia sangat sedih ketika Darel harus berjuang sendirian demi kesembuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Fiksi RemajaFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
