38. Laut

403 21 0
                                        

Krisan

Menyukai laut tidak harus ikut tenggelam didalamnya. Menyukai laut dengan rasa tenang cukup menikmati keindahannya dan menjaganya agar terus indah

Happy Reading



Kemarin malam Vania dan Darel telah melakukan sesi makan malam berdua. Bagi Darel, kemarin malam adalah malam yang sangat menyenangkan bahkan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, ia makan berdua di tempat yang bagus dan romantis di bawah gemerlap langit malam.

"Gue harus bawa apa lagi, ya?" tanyanya pada Darel dengan kepalanya yang bertolah-toleh melihat barang bawaannya.

"Sebenarnya, lo gak perlu bawa barang apapun. Semuanya udah gue siapin dalam mobil. Lo cukup bawa diri sendiri dengan senyuman yang rekah," balas Darel sambil melempar senyum pada Vania. Tanpa paksaan, Vania pun membalas senyuman itu.

"Mau berangkat sekarang?"

"Seharusnya sih tahun depan sekalian tunangan di pantai tapi gak papa deh sekarang gladi kotor dulu."

"Lo kenapa sih? Jawabannya ngasal mulu."

"Perkataan adalah sebuah doa. Bantu aamiin ya!"

Vania tak meresponnya. Ia keluar dari rumahnya dan mendekati mobil berwarna putih milik Darel. Untuk pagi ini, Darel diharuskan bawa mobil sebab, jarak tempuh menuju laut sangat jauh. Terlebih lagi barang bawaan untuk camping sangat banyak.

Darel sengaja minggu ini mengajak camping tapi tempat yang dipilih oleh Vania adalah pantai. Sebab, Vania cewe penyuka laut. Darel bukan tipe lelaki yang bisa menolak permintaan perempuan yang dicintainya.

Darel akan terus ada untuk Vania. Akan terus menyayangi dan mencintai Vania. Akan terus berjuang dan mengejar Vania meski dirinya hanya dianggap sebagai sahabat. Setidaknya, Vania tidak memberontak ketika menerima perlakuan sederhana darinya. Melihat Vania tersenyum dan tertawa lepas sudah membayar perjuangannya. Itu lebih dari kata cukup.

"Nih, camilan buat lo biar mulut lo ga kering karna kebanyakan diem," ujar Darel ketika telah duduk dalam mobil dengan memberikan sekantong camilan yang sangat banyak.

"Diem salah. Bawel pun salah. Gue selalu salah."

"Lo bawel bikin gue gemes. Lo diem bikin gue susah menahan diri untuk gak keburu nikahin lo!"

"Masih kecil nikah-nikah mulu yang dibahas."

"Membicarakan perihal masa depan dengan seseorang yang diharapkan sangat menyenangkan. Bener, gak?" tanya Darel lalu melirik Vania dengan mengarahkan ujung netranya ke sebelah kiri.

"Jangan berharap lebih pada manusia yang menjadi sumber kekecewaan."

"Lo sedang menasehati diri sendiri? Keknya itu cocok untuk lo."

"Kenapa ya, kalo gue sama lo bawaannya emosi gak ada kedamaian. Lo ngeselin!"

"Justru yang begini yang dirindukan. Percaya deh!" Darel dengan pedenya mengatakannya.

"Inget ya, lo udah gue anggap jadi sahabat. Gak lebih."

"Dengan restu mama papa, sahabat tapi menikah."

Hembusan napas terdengar sangat besar dari rongga hidung dan mulut Vania. Ia memilih untuk diam tetapi, tangannya mulai membuka camilan yang masih terbungkus. Berkomunikasi dengan Darel sangat menguras energi. Meski candaanya memang mampu meningkatkan mood.

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang