Krisan
Puncak lelah dalam sebuah hubungan ketika terlalu banyak memberikan kata maaf dan kesempatan tapi tidak ada perubahan
Happy Reading
☀
☀
Kemegahan sebuah rumah seperti istana itu semakin terlihat mewah ketika malam hari. Gemerlap lampu yang menjadi hiasan kini menjadi pendukungnya. Puluhan orang sudah berkumpul di ball room rumah tersebut. Di sekelilingnya tertata beberapa meja beserta kursi. Dilengkapi dengan makanan dan minuman. Si pemilik rumah sungguh memanjakan para tamu undangannya.
Vania duduk seorang diri di salah satu kursi sambil mulutnya mulai mengunyah kue cokelat berbentuk kotak mini. Penampilannya malam ini sangat elegant. Ia dijemput oleh Raksa secara dadakan. Ia dibawa ke pesta ulang tahun Moza atas permintaan dari Moza sendiri. Pesta itu hanya didatangi oleh keluarga dan teman terdekat Moza. Termasuk Raksa dan Vania.
Vania mengamati setiap pergerakan dari Raksa yang terlihat sangat sibuk kesana ke mari menyambut beberapa orang yang kemungkinan itu kerabat dari Moza. Wajar saja jika Raksa mengenalnya. Raksa dan Moza sudah berteman sejak lama. Namun, hingga saat ini Moza belum terlihat di mana keberadaannya.
"Hai, adik, kenapa kamu sendirian?" tanya seorang perempuan yang berumur sekitar dua puluh tujuh tahun. Perempuan itu cantik dan manis. Dari sapaan awalnya terdengar dia cukup sopan.
"Hai, tante, saya lagi nungguin Raksa," jawabnya dengan melihat ke arah Raksa sebagai petunjuk pada seorang perempuan itu.
"Oh kamu temannya Raksa dan Moza?" tanya perempuan itu lagi.
Vania terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. Apakah dirinya harus mengakui statusnya bersama Raksa yang kini sudah resmi berpacaran?
"Iya tante, saya teman mereka." Vania berbohong. Ia tak mau keluarga dari Moza mengetahui statusnya. Raksa kemarin berkata bahwa tidak semua orang harus tau perihal hubungannya.
"Semoga langgeng ya pertemanannya. Jaman sekarang susah mencari teman yang tulus. Saya lihat kalian bertiga anak yang baik. Jaga pertemanan kalian jangan saling adu domba."
Perempuan itu sedikit memberi nasehat. Vania cukup mengangguk dan memaksakan bibirnya agar sedikit tersenyum.
Perempuan itu pun pergi dan Vania kembali sendiri. Dirinya merasa canggung menghadiri sebuah acara yang kelihatannya cocok disebut sebagai acara keluarga dalam memperingati ulang tahun Moza. Harusnya ia tidak berada di pesta itu.
"Selamat malam semuanya, terima kasih atas waktunya untuk menghadiri acara ulang tahun putri kami yang ke delapan belas tahun," ucap seorang pria yang diduga oleh Vania itu adalah papa dari Moza.
Acara segera di mulai. Sedangkan Raksa masih berdiam diri di depan. Vania berusaha memberi kode lewat matanya agar Raksa duduk di sampingnya. Menemani dirinya agar tidak canggung. Ia risih jika dipandang aneh oleh orang lain.
Setelah berusaha, akhirnya Raksa peka juga. Ia berjalan mendekati Vania.
"Hai, maaf ya, kamu gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Raksa kemudian duduk di kursi sebelah Vania. Hingga mereka berdua duduk berdampingan.
"Gak papa kok. Cuma sedikit canggung aja kalo sendirian," jawab Vania dengan penuh kejujuran.
"Iya, aku temanin kamu."
Mereka berdua kembali berdiam dengan tangannya yang saling menggenggam di bawah meja. Raksa menggenggam tangan Vania agar pacarnya sedikit santai. Terlihat dari wajahnya Vania cukup tegang. Mungkin tidak terbiasa mendatangi acara seperti ini. Terlebih lagi banyak keluarga besarnya Moza.
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
