47. Sunset bersamanya

379 25 1
                                        

KRISAN

Menunggu selama ini tidak akan sia-sia jika pada akhirnya kau menerima dan membalas perasaanku

Happy Reading

"Selamat sore tuan puteri vania yang cantik jelita," sapa Darel dengan senyuman tulus yang menjadi ciri khas dirinya.

"Apaan sih norak!" balas Vania menutupi rasa malunya.

Tangan Darel yang semulanya berada dibelakang kini perlahan ia arahkan ke depan. "Nih, bunga krisan merah yang pertama untuk Vania."

Senyuman terpancarkan dari bibir Vania diikuti sorot matanya yang terlihat bahagia. Lalu mengambil sebuket bunga krisan merah dan menciumnya.

"Makasih, ya."

"Bunganya aja yang dicium? Orang yang ngasih engga?" Darel mulai menggodanya.

"Gue lempar wajah lo pake bunga, mau?"

"Bercanda... Bercanda!" jawab Darel bernada mengikuti trend pada saat itu.

"Yaudah ayo kita berangkat," sambungnya lagi tak ingin berlama-lama menggoda Vania.

"Ke mana dulu?" tanya Vania.

"Ke KUA boleh."

"Itu wishlist lo?" tanya Vania lagi.

"Iya dan yang bertugas ngewujudin itu lo."

"Kok gue?"

"Karena gue maunya nikah sama lo."

"Kejauhan mikirnya! Ayo ah berangkat."

Mereka pun menaiki motor. Darel memutuskan untuk menjemput Vania dengan motor karena ingin menikmati sunset dengan terpaan angin sore di atas motor. Pikirnya, pasti seru dan lucu. Seperti orang pacaran pada umumnya. Meski mereka belum jadian secara resmi.

Pelukan yang diberikan vania untuk darel terasa begitu erat. Vania mengendus aroma parfume dari tubuh darel yang terbawa embusan angin. Tidak tau mengapa rasanya, vania ingin saja memeluk tubuh kekar darel dari belakang sambil menyenderkan kepalanya menikmati sore hari di Jakarta yang sangat ramai itu. Masih di hari yang sama, mereka akan melanjutkan kegiatannya bersama.

Jembatan kayu kini menjadi tempat pemberhentian motor yang dikendarai oleh Darel.

"Kita di sini dulu, ya?" Darel seakan meminta persetujuan pada Vania.

"Oke," jawab Vania.

"Kita nikmati sunset di sini agar terlihat jelas. Lagian di sini juga sepi jauh dari kendaraan yang lewat agar lebih tenang." Darel mencoba menjelaskan tujuannya.

"Lo suka yang tenang-tenang?" Vania terus mencerna setiap ucapan Darel.

"Semua orang ingin ketenangan dalam hidupnya."

Vania menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan itu. Keheningan terjadi cukup lama hingga ponsel milik Darel dikeluarkannya dari saku. Ia merekam moment mereka berdua ketika menikmati sunset hari itu. Terlihat jelas pesona wajah Vania yang sangat cantik ketika terkena sinar matahari sore.

"Cantik," gumam Darel yang masih bisa didengar oleh Vania.

"Iya cantik banget langitnya. Mataharinya mau tenggelam seluruhnya," jawab Vania. Matanya masih menatap objek di langit. Tatapan kagum dengan keindahannya.

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang