52. Berjuang Demi Hati

295 17 0
                                        

Hampir dua tahun penyakit itu ia sembunyikan dari teman-temannya. Kini, mereka tengah berdoa untuk kesembuhannya. Kanker hati, atau hepatocellular carcinoma (HCC), adalah jenis kanker yang berasal dari sel-sel hati.

Transpalasi hati adalah pengobatan yang sering ia hindari, kini harus ia jalani. Sudah terlalu banyak obat yang ia konsumsi untuk mencegah penyebaran sel kanker itu tetapi, percuma.

Operasi transplantasi hati adalah tindakan medis yang sangat kompleks dan berpotensi hidup atau mati. Operasi yang menuntut keterampilan, dedikasi, dan kerja sama tim medis yang luar biasa. Untuk melakukan operasi ini harus menjalani rangkaian pemeriksaan dan persiapan yang serius agar dapat memastikan bahwa operasi ini akan berhasil dan membantu memperpanjang hidupnya. Bahkan setelah operasi pun pasien harus mengikuti arahan pemulihan secara tepat.

Austin Hospital - The Victorian Liver Transplant Unit: Austin Hospital yang terletak di Melbourne, yang akan menjadi tempat Darel memperjuangkan hidupnya.

Darel sudah terbaring lemas di atas brankar yang akan dibawa masuk ke ruang operasi. Tatapan matanya sendiri ketika sudah memasuki ruang operasi yang steril penuh dengan tim ahli bedah yang berpengalaman, perawat, dan peralatan medis canggih. Darel, yang penuh dengan harapan dan kekhawatiran, terbaring di atas brangkar operasi yang dingin.

Obat bius telah disuntikkan lewat suluran infus. Hingga beberapa menit kemudian matanya menutup secara perlahan.

"Ya allah, darel mau berjuang sekali lagi," gumamnya sangat lirih, hanya dirinya yang mendengarnya. Matanya terpejam secara penuh. Bibirnya pun tersenyum seakan siap untuk memperjuangkan segalanya.

Prosedur dimulai dengan hati yang sehat yang telah disumbangkan oleh seorang pendonor yang telah meninggal dan cocok dengan pasien. Tim bedah bekerja dengan presisi yang luar biasa saat mereka mengangkat hati yang sakit dan menggantinya dengan hati yang sehat.

Selama operasi yang berlangsung berjam-jam, setiap langkah diambil dengan hati-hati untuk memastikan bahwa organ baru ini akan berfungsi dengan baik dalam tubuh pasien.

Waktu operasi menghabiskan waktu enam jam. Para tenaga medis telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Pintu ruang operasi akhirnya terbuka.

"Operasinya berjalan dengan lancarkan. Pasien akan segera dialihkan ke ruang inap," ujar kepala dokter itu.

"Baik, Terima kasih, dok," jawab seorang ibu yang sudah menunggu seorang diri di depan ruang operasi.

***

Ruangan serba putih dengan ukuran yang sangat luas bahkan terlihat pemandangan gedung tinggi kini menjadi tampat Darel beristirahat memulihkan kondisinya pascaoperasi.

"Sayang, kamu harus segara sadar. Operasi kamu berjalan dengan lancar. Di tubuh kamu sudah ada hati baru," gumam seorang perempuan yang telah melahirkan dan merawatnya selama belasan tahun.

Perempuan itu membelai punggung tangan Darel yang terasa sangat dingin dengan menatap wajah anak satu-satunya. Wajah itu terlihat pucat dengan hidungnya terpasang saluran oksigen untuk membantunya dalam bernapas.

"Darel, kamu harus kembali sehat. Kamu harus selalu menemani mama hingga tua. Mama sangat bangga memiliki anak kuat sepertimu."

Tangannya terangkat mengarah ke kepala Darel dan membelai rambutnya yang berwarna hitam serta sangat halus.

Hari menjelang sore, Darel tak kunjung sadar juga. Mamanya menitipkan Darel pada perawat. Dirinya harus ibadah dan makan terlebih dahulu untuk mengisi tenaga agar bisa menjaga Darel hingga larut malam.

***

Tiga hari berlalu, Darel sudah sadar setelah sepuluh jam operasi. Namun, tubuhnya masih terbaring di atas brankar. Belum ada izin untuk pulang ke hotel.

"Ma, tolong ambilin ponsel darel," ujar Darel menunjuk meja berwarna putih lebih tepatnya pada ponselnya yang tergeletak di sana. Sepertinya, ponsel itu sudah dibawakan oleh Mamanya.

"Bentar, Nak," jawabnya kemudian mengambil ponsel milik Darel dan diberikan pada pemiliknya.

"Darel mau ngabarin temen-temen Darel dulu. Pasti mereka juga menunggu kabar baik ini."

"Maksud kamu Vania?" tanyanya dengan nada interogasi.

Darel pun menarik napas sangat panjang dan melepasnya perlahan. Menenangkan dirinya untuk menjawab pertanyaan itu tanpa melukai hati sang mama dan tidak menjelekkan Vania.

"Ma, Vania itu perempuan baik, karena dia juga Darel semangat untuk sembuh. Vania itu perempuan yang tulus. Mungkin hari lalu Vania mengabaikan Darel tapi sekarang Vania udah membalas cintanya Darel. Mama gak perlu khawatir, Vania gak akan nyakitin Darel lagi kok."

"Terserah kamu asal utamakan kesehatan kamu dulu. Mama mau keluar ngurus keperluan kamu agar bisa rawat jalan."

Seusai mamanya meninggalkan ruangan, ia menyalakan ponselnya. Tujuan utamanya yaitu whatsapp. Darel sengaja menghubungi Vania jam istirahat sekolah agar bisa ngobrol langsung sama yang lain juga.

Panggilan yang sudah berdering beberapa detik pun akhirnya terjawab.

"Darel!" teriak Vania. Memang cewe itu sukanya teriak jika berhadapan dengannya.

Saat Vania berteriak, taman lainnya sudah menduga bahwa itu Darel. Sontak mereka pun berkumpul mendekati Vania.

"Lo udah sembuh?" tanya Vania. Air matanya tak bisa lagi ia tahan. Rasanya senang sekali setelah tiga hari Darel tanpa kabar kini kembali menghubunginya. Selama tiga hari itu Vania tidak bisa tidur memikirkan kondisi Darel.

"Gue udah sembuh. Operasinya lancar. Gue udah punya hati baru tapi jangan disakiti lagi, ya," jawab Darel memberikan penegasan pada Vania.

Vania mengangguk beberapa kali sambil mengusap air matanya. Darel tersenyum melihat tingkah Vania. Di mata Darel apapun yang dilakukan oleh Vania selalu terlihat lucu. Meski dalam kondisi nangis atau marah.

"Gue seneng lo udah sembuh. Selamat ya. Makasih udah berjuang melawan penyakit lo," ucap Langit yang sedang berdiri di belakang Vania.

"Makasih atas doanya, bro. Titip Vania ya sampai gue pulang."

"Vania mulu pikiran lo, heran. Bucin amat," sahut Ara sewot.

"Cemburu bilang!" sindir Arsel membuat Vania menoleh cepat ke arah Ara.

"Enak aja! Gak ya! Engga, Van. Gue gak cemburu sama sekali. Cuma gue gerah aja liat orang bucin di sekitar gue."

Ara menjelaskan apa maksudnya pada Vania agar tidak ada kesalahpahaman.

"Sel, lo kalo ngomong yang bener, gue sobek mulut lo mampus!" Ara mengancam Arsel si pemilik mulut asal bicara itu.

"Lo kapan pulang?" tanya Vania kembali membicarakan tentang Darel.

Darel terdiam sejenak. "Kayaknya dia minggu lagi. Gue harus memulihkan tubuh gue dipantau sama dokter. Kalo udah bisa perjalanan jauh dan bisa lanjut rawat di sana, gue akan secepatnya pulang."

"Ditunggu kepulangannya."

"Yaudah, gue mau istirahat dulu. Woi kalian titip calon pacar gue. Pastiin makan yang banyak! Awas aja kalian ngusilin dia!" suara Darel sedikit meninggi tertuju pada Langit dan Arsel.

"Siap tuan muda," jawab Langit mengejek.

Panggilan video pun terputus. Darel meletakkan ponselnya di atas bantalnya. Ia menatap langit di luar jendela. Terlihat sangat cerah.

"Secepatnya gue pulang."








Lanjut dulu!

KRISANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang