48. Hari kedua sebelum pergi

312 20 0
                                        


Krisan

Jika memang kita cuma teman semoga suatu hari nanti menjadi teman hidup selamanya

Happy Reading



Vania memutuskan untuk pergi ke sekolah karena masih ada tugas paskibra yang harus ia kerjakan. Untuk hari kedua, ia ingin keluar bersama Darel ketika malam. Ia membiarkan Darel untuk beristirahat dulu. Sedangkan dirinya, harus ke sekolah.

Hari ini adalah hari jumat, yang artinya besok sudah memasuki hari libur sabtu dan minggu. Ia bisa menghabiskan waktu di hari sabtu dan minggu Darel harus berangkat.

"Sudah selesai urusan keluarganya?" sindir Ara ketika melihat Vania baru menduduki bangkunya.

"Urusan keluarga atau urusan perasaan?" tanya Ara lagi. Sedangkan Vania hanya menunjukkan senyuman paksaan pada Ara.

"Gimana kondisi Darel?" tanya Bulan mengambil alih pertanyaan yang lain.

"Lebih baik," jawab Vania.

"Jelas lebih baik, yang menjaga adalah pujaan hatinya," sahut Ara.

"Nanti kita kumpul di kantin, ya. Ada yang mau gue omongin sama kalian. Lan, ajak langit dan arsel juga."

Setelah mengatakan itu, Vania memfokuskan pandangannya terhadap ponsel. Ara dan Bulan saling memandang menyirat tanya tanya. Tidak biasanya Vania berkata seserius itu.

***
Seusai makan di jam istirahat, mereka masih berkumpul di satu meja. Tidak langsung meninggalkan kantin dan kembali ke kelas. Di sana sudah ada bulan, ara, vania, langit, dan arsel.

"Tumben banget lo ngajak kita kumpul. Setelah bolos eh pas masuk ngajak rapat kenegaraan," ujar Langit. Sejak jam pelajaran pertama, ia sudah membaca pesan dari Bulan yang mengatakan bahwa Vania ingin kumpul dan membicarakan sesuatu.

"Ada apa, van?" timpal Arsel.

"Perihal Darel," jawab Vania. Situasi mendadak hening. Dan mereka semua fokus melihat ke arah Vania.

"Dia udah sadar dan proses pemulihan, kan?" tanya Langit. Dirinya langsung khawatir setelah mendengar nama sahabatnya itu.

"Iya, Darel udah proses pemulihan dari kecelakaan kemari. Tapi..."

Vania menggantungkan ucapannya. Ia tak berani mengatakan berita yang baru saja ia ketahui. Ia yakin bahwa mereka semua pasti akan terkejut.

"Tapi apa, van. Lama banget!" sahut Ara yang mulai kepo.

"Darel sakit kanker hati, minggu besok dia harus ke Australia untuk operasi transpalasi hati." Vania mengucapkannya dengan cepat lalu ia menunduk. Ia pun menangis mengingat kondisi Darel yang parah itu.

"Lo becanda?" tanya Arsel.

"Ini bukan hal lucu yang harus lo becandain. Gak mungkin Darel sakit separah itu. Dia selama ini terlihat sehat-sehat aja," tutur Langit.

"Gue juga kaget tapi gue sering melihat dia minum obat. Ketika gue tanya, dia bilang hanya vitamin. Saat ngobrol santai dia selalu bilang bahwa dirinya sakit hati. Gue kira sakit hati yang dimaksud itu cemburu karena gue."

Vania mencoba menjelaskan. Ia paham bahwa hal ini tidak mudah dipercayai.

"Tenang, Van," ujar Bulan sembari memegang bahu Vania.

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang