45. Tersadar

418 26 6
                                        

Krisan

Ternyata persahabatan lawan jenis itu tidak ada dan aku jatuh cinta dengan sahabatku. Aku menikmati setiap detik bersamanya

Happy Reading

Sekitar satu jam ruangan serba putih itu tertutup rapat tanpa adanya setitik celah kini terbuka dan menampakkan dokter bersama perawat keluar dari sana. Mereka yang sudah menunggu dengan perasaan gelisah bergegas berdiri dan mendekati dokter laki-laki itu.

"Dok, bagaimana kondisi anak saya?" tanya sang mama yang wajahnya sudah sembap. Tangannya terasa sangat dingin. Mengkhawatirkan kondisi anak tunggalnya.

"Kondisi anak ibu saat ini dalam masa kritis. Kami akan memindahkan ke ruang rawat dan memantau terus kondisinya," jawab dokter tersebut.

"Apakah kecelakaan itu berakibat fatal, dok?" tanyanya lagi.

"Kami akan kembali melakukan pengecekan setelah pasien siuman. Namun, untuk saat ini tidak ada keseriusan dalam kecelakaan tersebut. Pasien hanya perlu waktu untuk melewati masa kritisnya. Berdoa saja agar pasien cepat pulih."

"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, dok."

"Semua dokter pasti melakukan yang terbaik untuk pasiennya."

"Terima kasih, dok."

"Itu sudah kewajiban saya. Saya pamit dahulu."

Dokter beserta perawatnya meninggalkan ruangan UGD. Perasaan khawatir sedikit mereda meski belum sepenuhnya.

***
Darel sudah dipindahkan ke ruang rawat sejak kemarin. Kemarin malam ia harus pulang diantar oleh Arsel. Sedangkan Langit pulang bersama Bulan dan Ara. Keinginannya, menunggu Darel malam kemarin dihalangi oleh Mamanya. Hingga hari ini ia baru kembali untuk menunggu Darel kembali sadar. Vania dengan sengaja mengirim surat ke sekolah dan menuliskan bahwa ada urusan keluarga padahal ia menunggu Darel di rumah sakit.

Tatapan mata sendu itu terus mengarah ke wajah Darel yang begitu pucat. Tidak ada lagi senyuman yang terlihat. Atau tatapan mata yang selalu memancarkan rasa cinta untuknya. Rasa sesal pada diri Vania kembali hadir ketika melihat tubuh Darel yang terbaring tak berdaya di atas kasur rumah sakit. Tangannya yang terpasang jarum infus, hidungnya yang dilengkapi alat pernapasan dan kepalanya yang terbalut oleh perban putih, sedikit memperlihatkan darah.

"Darel, bangun ya. Gue akan terus di sini nemenin lo. Lo jadi gini karna gue. Gue minta maaf sama lo," ucap Vania membelai pelan punggung tangan Darel. Bahkan tangannya juga terasa dingin, tak sehangat biasanya.

"Sekarang gue tau bahwa lo setulus, sesayang dan secinta itu sama gue hingga rela melakukan apa saja demi gue. Panas, hujan, badai lo terjang demi gue. Mata gue yang selama ini tertutup dengan alibi kata sahabat kini terbuka. Maafin gue."

Monolog demi monolog terus diucapkan. Berharap Darel mampu mendengarnya meskipun dalam kondisi tidak sadarkan diri.

"Ternyata sahabat lawan jenis tanpa perasaan itu tidak ada. Meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan tetapi jika terus berusaha pasti akan berhasil. Dan lo mulai di titik berhasil. Lo bangun, ya. Untuk kesekian kalinya, demi gue."

Tangannya terangkat merapikan rambut Darel yang sedikit berantakan. Pertama kalinya, ia membelai rambut Darel bahkan kepalanya. Mungkin jika Darel sadar, ia akan kesenangan.

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang