44. Menyadari Kesalahan

415 27 0
                                        

Sudah hampir dua puluh menit Vania menangisi kondisi Darel. Ruangan UGD tak kunjung terbuka juga. Untuk pertama kalinya Vania menyebut nama seorang lelaki dalam doanya. Menitip harap doa untuk keselamatannya. Jari jemarinya saling bertaut menjadi sumber kekuatannya.

"Van," panggil Bulan yang baru saja sampai di rumah sakit setelah ia hubungi.

"Bulan," jawab Vania bersama isak tangisnya.

Bulan bergerak cepat untuk membawa Vania ke dalam dekapannya. Ara juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua seakan memberikan energi pada Vania lewat sebuah pelukan hangat.

"Ini semua gara-gara gue, Lan," ucap Vania dengan tangis yang belum tereda.

"Lo gak boleh nyalahin diri sendiri. Semuanya akan baik-baik saja. Gue pernah di situasi lo. Lo percaya gue, dia pasti kembali membaik," jawab Bulan menenangkan Vania.

Sedari tadi Ara hanya terdiam. Ini hal pertama Vania menangis seperti itu. Meskipun ia sering emosi dengan Vania tetapi, untuk kali ini ia merasa kasihan.

"Van, lo harus yakin bahwa Darel itu lelaki kuat. Dia bisa menahan segala rasa sakitnya demi lo. Pasti sekarang dia akan berjuang dan bertahan demi lo juga," ucap Ara melepaskan pelukannya.

Ia menggenggam tangan Vania sambil menatap matanya. "Sekarang lo berhenti nangis. Kita doa sama-sama untuk Darel."

Vania memberikan ponsel milik Darel pada Bulan, ia ingin menujukkan lockscreen yang telah dibuat oleh Darel yang semuanya tertuju untuknya.

"Gue merasa bersalah banget sama Darel. Dia setulus itu sama gue. Gue selama ini terlalu nyakitin dia. Tapi gue gak mau kehilangan dia. Tolong beri kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Gue ingin bikin hidup Darel bahagia. Gue ingin membalas semua kebaikannya," ucap Vania lalu kembali menangis lagi. Kepalanya menunduk dengan air mata yang terus menetes.

Bulan dan Ara membaca yang ada di lockscreen ponsel Darel. Setelahnya, mereka saling pandang. Mereka juga tidak menyangka bahwa ada lelaki setulus Darel.

Langit dan Arsel sudah mengetahui tentang hal yang diinginkan oleh Darel. Setulus-tulusnya cinta Langit. Serela apapun Arsel masih jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Darel untuk Vania.

"Lo cewe paling beruntung. Dicintai sangat tulus. Dia sayang banget sama lo bahkan setiap hari dia mengkhawatirkan kondisi lo. Dia orang pertama yang gak pengen liat lo nangis," ucap Langit membuat Vania semakin menangis. Menyeseli perbuatannya.

"Darel memang tidak pintar, tidak begitu kaya harta, tapi dia punya hati yang tulus. Hati dia baik. Dia seperti malaikat tanpa sayap," sahut Arsel.

Vania mengangkat kepalanya melihat Arsel. Sosok Arsel yang terkenal dengan sifat cueknya bisa berkata seperti itu. Jika Arsel yang berbicara sudah tidak diragukan lagi. Arsel memang diam tapi dia sosok pengamat yang baik.

"Iya gue sadar. Dia selalu melakukan apapun demi gue. Dia sangat baik bahkan lebih dari definisi baik."

"Sekarang gak perlu disesali yang telah terjadi. Intinya, sekarang lo udah sadar siapa yang sayang dan tulus sama lo. Setelah dia membaik, lo harus bersikap baik," ucap Bulan memberi nasehat dan saran.

Vania mengangguk patuh. Ia sangat beruntung memiliki teman seperti mereka. Teman yang tidak menghakimi ketika dirinya melakukan kesalahan dan mendukungnya untuk bersikap lebih baik.

"Lo sama Raksa gimana?" tanya Ara mengalihkan pembicaraan.

"Gue minta putus. Dia mau dijodohkan sama Moza."

"Sejak awal gue udah nebak endingnya gini. Gue kan bilang, mereka sahabatan sejak lama. Gak ada sahabatan lawan jenis yang murni. Jika keduanya murni sahabatan pasti pihak keluarganya yang punya niat lebih," ucap Ara mengeluarkan segala kekesalannya.

"Iya, gue sadar bahwa rasa suka pada Raksa hanya obsesi bukan cinta yang tulus seperti yang dilakukan Darel untuk gue. Gue suka hanya karena tatapan mata yang terlihat sama," jawab Vania. Kini Vania sudah menyadari semuanya. Kenapa tidak dari dulu?

"Tatapan mata yang sama dengan siapa, sih, Van. Dari dulu Darel, Bulan bilang begitu terus. Sekarang gue pengen tau jawabannya dari mulut lo," timpal Langit yang ikutan emosi. Memang menghadapi Vania menguras kesabaran.

"Matanya Raksa seperti seseorang yang gue kenal."

"Perasaan lo aja kali!" Langit masih tidak terima. Mata yang sama bisa saja hanya sebuah ilusi.

Bulan memegang tangan Langit dan menyipitkan matanya. Memberi isyarat kepada Langit agar mereda emosinya.

"Iya, segalanya yang terjadi atas kesalahan dan kebodohan gue."

"Kita di sini buat lo. Kita yakin semuanya akan kembali membaik. Kita akan kumpul dan tertawa bareng lagi." Bulan memegang tangan Vania.

Bulan memang cewe bijak dan sangat dewasa. Bisa menyikapi keadaan dengan tenang. Dirinya juga memberikan dampak positif bagi orang disekelilingnya. Ucapannya yang sederhana dan tenang mampu membuat orang lain nyaman mendengarkannya.

"Langit, bagaimana kondisi Darel. Kenapa bisa Darel kecelakaan. Darel tidak pamit ketika keluar malam apalagi cuaca sedang mendung. Apa yang membuat Darel rela keluar malam-malam?"

Mama dari Darel baru datang sudah menyerang Langit dengan banyak pertanyaan. Langit pun kebingungan untuk menjawab.

"Tante yang tenang dulu, dokter masih menangani Darel. Kita berdoa saja."

"Darel keluar malam-malam karena ingin main sama kamu, Lang?" perempuan itu menuduh Langit. Rasa bingung semakin mendominasi. Langit juga tidak tau apa yang terjadi.

Vania melihat Langit yang di serang tidak bisa duduk diam saja. Ia bangkit dan mendekati mamanya Darel.

"Maaf sebelumnya, Darel keluar malam sebab ingin menjemput saya. Saya sudah melarangnya tetapi, darel tetap ingin melakukannya. Maaf sekali lagi. Hal ini terjadi karena saya," ucap Vania menunduk dihadapan mamanya Darel. Sebelumnya, Vania tidak pernah bertemu dengan mamanya Darel tetapi, harus bertemu di situasi seperti ini. Pasti kemarahan yang diterima.

"Jadi kamu perempuan yang selama ini dicintai oleh anak saya? Bagaimana bisa anak saya mencintai perempuan seperti mu? Kamu tidak tau terima kasih tidak cocok mendapatkan rasa cinta dari anak saya. Bahkan cintanya lebih besar untuk kamu daripada dirinya sendiri!"

Perkataan mamanya Darel memang benar dan membuat Vania diselimuti kesalahan. "Maaf, tante. Saya juga tidak ingin kecelakaan ini terjadi. Sekali lagi maaf."

Sang Mama menjauh dari Vania. Bulan kini menghampiri mamanya Darel untuk menenangkannya. Sedangkan Ara kembali menggenggam tangan Vania. Ia tak ingin sahabatnya itu terus menangisi kesalahannya.

Kesalahan tak harus ditangisi secara terus menerus. Bahkan banyaknya air mata yang dikeluarkan tidak akan merubah keadaan. Yang bisa merubah keadaan hanya sebuah doa.

"Tante, kita semua teman Darel. Selama ini kita ada bersama Darel. Tante harus bangga dengan Darel karena dia anak yang baik. Hatinya tulus. Darel melakukan semua ini karena cinta. Kita semua juga tidak ingin hal buruk terjadi pada Darel. Jadi, tante juga harus menerima mungkin ini sebuah ujian. Tante jangan menyalahkan Vania. Ini semua sudah takdir. Kita berdoa yang terbaik saja untuk Darel," ucap Bulan pada mamanya Darel. Nada bicara Bulan sangat sopan. Pelukan hangat didapatkan oleh Bulan.

Bulan membalas pelukan itu. Bulan merasa nyaman dengan pelukannya. Sudah lama ia tidak merasakan sebuah pelukan dari seorang mama. Beruntung Darel tumbuh ditemani seorang Mama.

Namun, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Diikuti keberuntungan yang sudah menjadi takdirnya. Tidak boleh muncul rasa iri pada keberuntungan orang lain. Yang bisa dilakukan hanya melakukan yang terbaik untuk diri sendiri.

"Tante, papanya Darel tidak ikut ke sini?" tanya Bulan.

"Papanya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Darel seperti papanya. Seorang lelaki yang baik dan tulus."

"Maaf tante saya tidak tau. Turut berduka cita."

"Saya sangat menyayangi Darel. Saya tidak mau kehilangannya. Sudah cukup kehilangan sosok lelaki yang saya cintai. Saya tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya."

"Darel pasti sembuh."

Saya mengharapkan hal itu sejak setahun yang lalu. Sayangnya mencari pendonor hati tidak mudah. Batinnya menjawab.

☀To Be Continued ☀

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang