Krisan
Semua hal buruk yang terjadi di dunia ini telah mendapatkan izin dari semesta bukan dari manusia
Happy Reading
☀
☀
Tubuhnya mulai kedinginan. Ia tengah duduk sendiri di sebuah halte pinggir kota. Tak biasanya Darel menjemputnya dalam waktu yang lama. Apakah karena hujan?
Namun, tak ada satu pesan pun yang ia terima dari Darel. Firasatnya mulai tidak enak. Akhirnya ia menelpon Darel.
"Kok ga diangkat sih," gerutunya ketika sudah mencoba tiga kali menelpon tapi tidak ada jawaban.
Hingga panggilannya yang ke empat dijawab.
"Lo di mana? Lo gak papa?" tanya Vania to the point ketika panggilan itu terhubung dengan nomor Darel.
"Halo, mbak. Pemilik handphone ini kecelakaan di jalan edelweis," jawab seseorang dari seberang sana. Dari suaranya terdengar seorang lelaki.
Vania memutuskan panggilan dengan tangan yang sangat gemeter. Pikirannya kacau tidak jelas kemana arahnya. Air matanya mulai menetes lagi setelah beberapa menit telah terhenti. Pikirannya sekarang hanya Darel.
Vania menghadang sebuah motor yang dikendarai oleh seorang bapak. Untung saja bapak itu mengerem motornya dengan cepat. Dan motornya tidak tergelincir jalanan yang super licin itu. Vania telah membahayakan dirinya dan orang lain demi menemui Darel.
"Maaf Pak, bisa antarkan saya ke jalan edelweis. Teman saya kecelakaan di sana. Saya harus sampai secepatnya," ucap Vania wajahnya sudah memerah dan basah kuyup.
"Boleh, mbak. Tapi saya tidak ada jas hujan dan helm."
"Tidak apa, pak."
Bapak itu melanjutkan perjalanannya menuju lokasi yang disebutkan oleh Vania. Dalam perjalanan Vania menangis tetapi tak terlihat sebab air matanya luruh bersama air hujan.
Gue harap ini sebuah mimpi dan gue cepat bangun dari tidur ini. Batinnya lalu menyeka wajahnya yang sudah begitu sakit akibat air hujan yang terus menerpanya.
Perjalanan tak seberapa lama. Hanya lima menit Vania sudah tiba di jalan edelweis. Matanya langsung menangkap keberadaan orang yang begitu ramai dan berkumpul di tengah-tengah jalan.
Vania berlari lalu memecah kerumunan itu. Matanya membulat sempurna ketika melihat tubuh Darel yang tergeletak di jalanan beralaskan air yang sudah bercampur dengan darah yang keluar dari tubuhnya.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Darel!" teriaknya membuat se kerumunan orang itu menoleh kearahnya.
Vania menatap orang-orang itu dengan tatapan marah. Mengapa tidak dibawa berteduh lebih dulu. Kenapa harus dijadikan tontonan. Kasian Darel kesakitan dan kedinginan.
Vania mengangkat kepala Darel dengan teramat pelan tak ingin pemilik kepala itu merasa sakit. Ia bawa kepala Darel dalam pangkuannya. Vania memegangi pipi Darel yang sudah berlumuran darah.
Bagaimana bisa kejadian seperti ini terjadi. Tidak ada dalam bayangannya akan kejadian buruk menimpa orang baik seperti Darel.
Darel, lo bertahan ya. Gue gak mau kehilangan sahabat gue yang paling baik. Gue mohon lo yang kuat. Batinnya dengan tangisannya yang tak terlihat.
Untuk pertama kalinya, tangannya memeluk kepala Darel. Berniat melindungi wajah itu dari air hujan yang menjatuhinya.
"Darel lo gak boleh ninggalin gue. Maafin gue yang selama ini ngerepotin lo. Sering marah-marah gak jelas. Gue mau denger tawa lo lagi. Lo harus bertahan," bisiknya tepat di telinga Darel. Ia harap ucapannya didengar.
Ambulans pun datang. Petugasnya mengeluarkan brangkar dan membawa tubuh Darel yang sudah kaku sebab kedinginan itu masuk ke dalam ambulans.
"Mas, saya ikut. Saya temannya."
Mungkin tubuh Darel yang sedang kesakitan bertambah sakit ketika mendengar pengakuan Vania yang hanya menganggapnya teman. Sedangkan Darel? Berkorban apapun bahkan nyawanya untuk Vania.
Saat Vania mulai memasuki ambulans, seorang bapak menahannya. "Mbak, ini ponselnya mas itu, mbak yang sabar, ya," ucap Bapak itu sambil menunjuk Darel yang sudah tak berdaya.
Ambulans pun berjalan menuju rumah sakit. Di dalam ambulans, Vania menyelimuti tubuh Darel agar lebih menghangatkan. Seorang petugas memasangkan oksigen agar Darel lebih mudah bernapas. Lalu membersihkan luka-luka yang berada di kepalanya secara pelan.
Dari balik selimut, Vania menggengam tangan Darel. Ia berharap genggaman dari tangannya membuat Darel lebih kuat. Bahkan tangisannya tak kunjung berhenti juga. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Darel yang pucat dan banyak luka. Tubuhnya basah kuyup disertai darah. Tangannya dingin dan kaku. Bibirnya pucat. Sungguh Vania tidak tega melihatnya.
Ini semua gara-gara gue. Andai saja Darel gak menjemput gue pasti kejadian ini gak akan terjadi. Gue memang merepotkan. Gue pembawa sial. Gue sumber dari segala rasa sakitnya. Maafin gue, Rel. Batinnya, genggaman tangannya semakin erat.
Tangan Darel bergerak, Vania merasakan itu. Mata Darel sedikit demi sedikit terbuka.
Vania kembali memegangi pipi Darel sebelah kiri. Genggaman tangannya ia lepaskan. "Darel, lo sadar? Lo bertahan ya, abis ini kita sampai rumah sakit," ucap Vania beserta isakan tangisnya.
Saat mata Darel terbuka ia melihat cewe yang dicintainya menangis. Vania menangis. Pasti karena gue. Gue telah bikin dia nangis. Gue gagal bikin dia bahagia. Batinnya.
Darel meraih tangan Vania yang semula berada di pipinya, kini beralih dalam genggamannya.
"Gue gak papa," ucap Darel sangat lirih. Bibirnya sedikit memaksakan senyuman.
Vania kembali mengeratkan genggamannya. "Lo harus kuat."
"Lo jangan nangis," jawabnya.
***
Ruangan UGD tertutup. Para tenaga medis sedang menangani Darel. Vania terduduk lemas di depan ruangan yang serba putih itu. Ia menghubungi Bulan dan Ara, memberi kabar bahwa Darel kecelakaan.
Setelah menelpon kedua temannya itu, ia menyalakan ponsel milik Darel. Ia ingin mencari nomor telepon orang tuanya. Bagaimana pun keadaannya, orang tua Darel harus tau kondisi anaknya.
Saat ponsel Darel menyala, Vania tercengang melihat tampilan dari layar lockscreen ponsel milik Darel. Di sana menampilkan catatan berwarna biru dan bertuliskan bahwa Darel :
1. Terus mencintai Vania
2. Selalu menemani Vania di mana pun dan kapanpun
3. Selalu ada ketika Vania membutuhkan
4. Selalu membuat Vania tersenyum. Vania tidak boleh menangis karena hal sepele
5. Sering-sering membelikan Vania jajan karena Vania menyukainya
6. Tidak boleh membentak Vania
7. Ketika memarahi Vania harus dengan ucapan yang lembut
8. Selalu sabar menghadapi Vania yang suka ngomel
9. Tidak boleh egois merebut kebahagiaan Vania. Tidak boleh merusak sumber kebahagiaan Vania yaitu Raksa.
10. Harus rela melihat Vania bersama Raksa jika itu yang membuat Vania bahagia tetapi harus siap sedia ketika Vania disakiti. Darel harus hadir untuk menghibur dan mengembalikan tawa Vania yang Darel suka itu.
Setelah membacanya hingga selesai, Vania kembali menangis histeris. Ia tak menyangka bahwa cinta darel untuknya begitu besar dan tulus. Mengapa lelaki itu sangat mencintainya. Vania sungguh merasa bersalah. Darel definisi laki-laki yang sabar, kuat, dan tulus. Pemilik effort yang besar. Pemilik rasa rela yang begitu luas. Vania tidak menyangka ada sosok manusia seperti Darel yang hadir dalam hidupnya.
"Gue janji, saat lo kembali membaik, gue akan menghargai perjuangan lo. Gue gak akan menyia-nyiakan orang setulus dan sebaik lo."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
KRISAN
Подростковая литератураFOLLOW SEBELUM MEMBACA KARENA SEBAGIAN CERITA AKAN DI PRIVATE Vania Ayyara, perempuan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya secara langsung pada Raksa Dirgantara. Jatuh cinta pada Raksa berawal dari tatapan mata yang dimilikinya terlihat sama...
