46. Hari Pertama Sebelum Pergi

437 24 0
                                        

KRISAN

Mungkin di dunia ini memiliki banyak keindahan tapi kamu adalah wujud keindahan yang tidak diduga kehadirannya

Happy Reading

Waktu tujuh hari telah berlalu. Kondisi Darel sudah membaik setelah beristirahat di rumah. Dibersamai dengan Vania dan teman-temannya yang terus bergantian mengunjunginya dan memastikan kondisinya lebih baik dari hari ke hari. Vania masih membungkam mulutnya untuk tidak memberitahu temannya yang lain. Meski rasanya ia ingin segera memberitahu mereka tetapi, larangan dari Darel lebih ia turuti. Sebab, yang memiliki hak untuk memberitahu kondisi segalanya adalah Darel.

Kini sudah memasuki minggu kedua tepat dihari kamis. Vania mengirim surat ke sekolah menyatakan bahwa dirinya izin tidak masuk karena ada urusan keluarga mendadak. Padahal ia ingin quality time dengan Darel. Seusai melihat Darel terbaring di kamar, kini ia bersedia menemani Darel.

Dres putih selutut sudah dikenakannya. Dilengkapi flat shoes berwarna pink. Di pundak kanannya sudah membawa tas berwarna pink. Di tangan kanannya membawa kotak berisi banyak makanan. Ada juga kue brownies buatannya sendiri.

Penampilannya cantik. Senyumnya terlukis indah begitupun hatinya yang berbahagia pagi itu. Keputusan untuk membolos bersama Darel sudah disetujui oleh keduanya. Darel mengirim surat bahwa dirinya masih perlu istirahat sedangkan Vania beralasan acara keluarga di luar kota. Menghabiskan waktu bersama sebelum berpisah.

Ia berlari keluar dari rumahnya ketika mendengar suara mobil yang telah berhenti di depan gerbang rumahnya. Untuk pagi ini, kedatangan Darel ia nantikan.

"Hai!" sapa Vania ketika Darel menghampirinya.

"Cantik banget, tuan putri," balas Darel. Vania pun tersenyum saat mendengarnya. Ia sedikit salah tingkah.

"Cieelah bisa salting juga, padahal sering gue giniin," cetus Darel lagi tetapi sambil menepuk puncak kepala Vania.

"Lo tau gue salting malah pegang kepala gue!" Vania menepis tangan Darel. Ia gak mau berlarut dalam kesaltingan itu.

"Kalo salting ya salting aja gak usah sok jaim gitu."

Darel malah menggodanya. Sifatnya yang iseng itu memang tidak bisa hilang. Sudah melekat erat pada dirinya.

"Lo memang sudah biasa berucap dan betingkah seperti itu. Dulu gue biasa aja tapi sekarang beda."

"Udah beda, ya? Hatinya sudah terbuka untuk pangeran yang ganteng ini?" godaan terus dilontarkan. Tak peduli dengan pipi Vania yang semakin bersemu merah.

"Bisa diem, gak?!" Vania melototinya tapi lawan bicaranya bukannya takut malah tersenyum dan kembali mengacak rambutnya.

"Gemes amat cewe gue."

"Sejak kapan gue jadi cewe lo?"

"Sejak kemarin lo meluk gue."

Vania terdiam. Ia kembali dibuat malu. Darel pasti merasa bangga karena cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan.

"Lo ga setuju atas pernyataan gue?" tanya Darel.

KRISANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang